Sabun Berbentuk Kucing


"Mama, nanti temenin Dita ke minimarket ya," pinta saya pada mama sepulang sekolah 13 tahun yang lalu. Tepatnya saat saya kelas 4 SD.

"Mau beli apa sayang?"

"Sabun batang ma."

"Lho, sabunnya kan masih."

"Yang masih utuh, mama."

"Ada kok. Coba cari di lemari deket kamar mandi. Untuk apa sih?"

"Bukan yang kayak gitu. Pokoknya nanti ikut dulu ke minimarket. Nanti Dita ceritain."

 ***

"Cari yang kayak gimana sih sayang?" tanya mama saat melihat saya meneliti setiap merek sabun di rak minimarket.

"Yang keras ma. Aduh Dita lupa tadi pak guru nyuruh beli yang merek apa," jawab saya yang terus memperhatikan deretan sabun-sabun di rak. Terkadang menekan sekuat tenaga agar tahu apakah sabun tersebut cukup keras atau tidak. Untung saja tidak ada pegawai minimarket yang memperhatikan.

"Pak guru?"

Saya mengangguk. "Pak guru nyuruh kita bikin sesuatu dari sabun ma. Nah kata pak guru, sabunnya harus yang keras, biar gampang dibentuk."

"Lho? Kamu mau ngapain itu?" Mama menegur saat saya sedang berusaha membuka kemasan salah satu merek sabun.

"Biar bisa pegang isinya ma. Kemasannya begini sih. Kan jadi gk bisa dipencet kayak yang lain." Kemasan sabun itu terbuat dari karton. Bukan plastik seperti sabun-sabun lain, sehingga isinya tidak dapat ditekan dari luar kemasan.

"Nah! Bener nih! Kalo diinget-inget kayaknya memang ini mereknya. Pulang yuk ma." Ternyata sabun yang sudah saya buka kemasannya itu memang adalah sabun yang sedang saya cari. 

Sampai di rumah, saya langsung mencari papa. Beliaulah yang selama ini membantu saya mengerjakan tugas sekolah khususnya prakarya. Kreatifitasnya yang tidak pernah habis membuat saya kagum... dan bergantung.

"Papa, sabun ini enaknya dibikin bentuk apa ya?"

"Coba kamu lihat-lihat gambar-gambar di majalah atau buku, nanti pasti ketemu idenya."

Saat ini saya sendiri sudah lupa akhirnya menemukan sebuah gambar kucing dimana. Setelah menunjukkan gambar itu pada papa, beliau membuatkan sketsa kucing di selembar kertas.

"Gambarnya dulu ya sayang, mulai membentuk sabunnya besok. Papa cari pisau dulu yang pas. Kan kasian kalau pakai pisau mama. Kamu mau makan sayur rasa sabun mandi?"

Benar kata papa, tidak mungkin saya menggunakan pisau dapur milik mama. Itu kan untuk memotong-motong sayuran dan bahan masakan yang lain. Lagipula, ukurannya pasti besar. Mana bisa untuk mengukir sabun.

Esoknya, sepulang kerja, papa membawakan saya sebuah pisau bergagang stainless kuat dengan mata pisau kecil di ujungnya. Mata pisau itu bisa digonta-ganti. Papa juga membawakan beberapa jenis mata pisaunya.

Papa dengan telaten mengukir sabun menggunakan pisau tersebut. Masih berupa goresan kasar. Tetapi sudah tercetak bentuk kucing dengan jelas di sabun, mirip sekali dengan gambar yang papa buat sehari sebelumnya. Saya memperhatikan di dekatnya sambil terus tersenyum. Bentuk sabunnya lucu!

"Nah! Ini seterusnya kamu yang kerjain sendiri ya. Masa papa semua."

Ah! Jika dingat-ingat, proses membuat ukiran demi ukiran di atas sabun benar-benar menyenangkan. Apalagi pisau yang saya miliki berhasil membuat iri teman-teman sekelas yang rata-rata menggunakan cutter biasa untuk mengukir sabun mereka. Ya! Seminggu kemudian, pak guru menyuruh kami membawa sabun dan seluruh peralatannya ke sekolah untuk memperlihatkan prosesnya, lalu sabun itu akan dinilai. Saat itulah teman-teman melihat pisau unik saya.

Sabun buatan saya mendapatkan nilai bagus dari pak guru. Mungkin karena bentuknya yang unik. Apalagi dilengkapi dengan kotak buatan papa. 

Sampai saat ini, sabun tersebut masih saya simpan di kamar. Penuh debu di sana sini. Aroma sabun juga tak lagi wangi. Tetapi bentuknya masih terlihat jelas. Kucing dengan senyum menyeringai.

#CeritaDariKamar - Day 31

Handphone

 
Handphone termasuk benda paling penting dalam kehidupan saya. Bahkan jika saya lupa membawa benda ini ketika akan bepergian ke luar rumah, saya akan rela kembali ke rumah dan kehilangan beberapa menit hanya untuk mengambil benda ini.
 
Ini bukan soal agar terlihat keren atau bagaimana. Tetapi bisa dibilang seperdelapan hidup saya tergantung pada handphone. Mengapa saya tidak menggunakan istilah separuh jiwa saya? Karena saya rasa itu terlalu banyak dan terkesan berlebihan.
 
Banyak alasan mengapa saya tidak dapat jauh dari benda ini. Salah satunya adalah bisnis pulsa kecil-kecilan yang saya jalani. Ini berkaitan dengan pelayanan. Semakin cepat saya mengirim pulsa yang dipesan, pelanggan semakin percaya pada kualitas usaha saya.

Fitur media sosial dan internet juga memudahkan saya menjelajah informasi dengan lebih mudah dan cepat.
 
Sebagaimana fungsi dasar dari sebuah handphone yaitu sebagai media komunikasi, itulah yang paling penting dari handphone saya. Saat saya tersesat di jalan, tinggal angkat handphone dan menghubungi salah satu teman yang hafal jalan. Saat saya akan pulang terlambat dikarenakan ada tugas di kampus yang harus segera dituntaskan, tinggal angkat handphone dan menghubungi orangtua untuk memberi kabar dan meminta ijin. Saat saya sedang bosan, tinggal membuka fitur BBM untuk iseng berkirim pesan pada teman, membicarakan apa saja.
 
Jika kalian menilik handphone saya, tidak ada game tambahan di sana. Hanya ada game bawaan dari handphone. Itu pun tidak pernah saya mainkan. Karena saya memang tidak terlalu suka main game. Jika dalam keadaan menunggu, saya lebih suka membuka media sosial untuk membaca info-info terbaru yang sedang beredar.

Satu hal lagi mengenai handphone ini. Jika saya boleh berbangga untuk yang kesekian kalinya, handphone juga merupakan benda yang saya beli dengan uang tabungan saya. Walaupun hanya sebagian dan sebagiannya lagi dari orangtua. Saya pikir tidak apa-apa. Setidaknya ada usaha saya dalam membeli benda tersebut. 
 
Saat saya sudah memiliki penghasilan yang cukup banyak, saya janji akan berbalik membelikan barang-barang untuk orangtua. ^^


#CeritaDariKamar - Day 30

Modem


"Hahahaha nulis? Memangnya kamu bisa nulis? Apalagi bikin novel. Bukannya itu butuh imajinasi yang tinggi ya? Memangnya kamu bisa?"

Begitulah yang ia katakan saat saya menceritakan bahwa saat ini saya sedang mencoba menggarap sebuah naskah novel. 

"Ngeblog? Ngapain sih? Kurang kerjaan aja!"

Dan itu adalah tanggapannya saat saya bercerita tentang hobi baru saya, menulis di blog.

Ia di sini adalah pacar saya. Bagaimana perasaan kalian ketika pacar sendiri justru memberikan komentar-komentar pedas saat kalian sedang menceritakan sesuatu yang sedang kalian perjuangkan? Bukan kalimat-kalimat yang memberi semangat. 

Tapi memang begitulah karakter pacar saya. Pedas!

Perhatian akan ia berikan dalam bentuk lain. Contohnya adalah meminjamkan modem miliknya pada saya. Ia tahu bahwa di rumah saya, modem hanya satu. Dan itu digunakan oleh papa untuk bekerja. 

Sedangkan saya seringkali bercerita bahwa saya suka sekali ngeblog sekarang-sekarang ini. Saya juga suka membaca banyak artikel via internet atau melakukan blogwalking. Tetapi seluruh kegiatan itu terbatas, karena saya harus menumpang di komputer papa saat benda itu sedang tidak digunakan olehnya. 

Meminjamkan modem menurut saya adalah bentuk dukungan darinya. Saya menganggap kalimat "Nih modem pake aja!" sama saja dengan kalimat "Jangan berhenti nulis ya!".

Dan kalimat-kalimat super pedas yang saya ceritakan di awal tadi adalah bentuk latihan mental yang ia berikan pada saya. Seseorang tidak akan selalu mendapatkan pujian dalam karyanya. Oleh karena itu, ia sebagai orang terdekat saya melatih mental saya untuk tidak mudah drop dan selalu berusaha menghasilkan tulisan yang lebih bagus dan lebih baik lagi.

Jadilah modem yang sudah berselotip karena tutupnya sudah mudah lepas ini berpindah dari kamar kosnya ke kamar saya. 

Dari sini saya belajar: Pandanglah sesuatu dari sudut pandang lain! Dengan begitu, kita tidak akan melihat keburukan sebagai keburukan.


#CeritaDariKamar - Day 29

Laptop Merah


Menulis menjadi hobi saya saat ini dan semoga seterusnya. Bahkan saya memiliki impian untuk menjadikan menulis sebagai pekerjaan. Melahirkan buku-buku best seller yang memberikan banyak manfaat bagi pembacanya adalah cita-cita saya.

Rasa malas seringkali menyerang. Tetapi dengan adanya komitmen di awal, saya harus melawan rasa malas itu. Menulis bukan ketika mood datang, tetapi tumbuhkan mood dengan menulis. Prinsip itulah yang saya pegang saat ini.

Konsistensi adalah penting. Setiap harinya, sebisa mungkin, selelah apapun, sesibuk apapun, saya usahakan tetap membuat sebuah cerita fiksi atau tulisan apapun di blog. Fungsinya untuk mengasah kemampuan menulis saya. Menulis tanpa latihan adalah nol besar bukan?

Tulisan-tulisan yang saya buat tentulah mendapatkan bantuan dari laptop kesayangan saya. Tanpa benda ini, saya tidak akan cepat maju. Ya! Berkaitan dengan efisiensi dalam segala hal. Saya suka sekali membaca ulang tulisan saya, kemudian mengedit ulangnya. Tentunya akan melelahkan jika saya menggunakan mesin ketik atau tulisan tangan.

Bukan berarti saya meninggalkan kebiasaan menulis dengan tangan. Masih saya lakukan. Biasanya untuk mencatat pada buku agenda mengenai ide-ide yang seringkali melintas begitu saja di kepala. Buku agenda menjadi barang yang selalu ada di tas saya ketika saya pergi ke luar rumah.

Laptop yang saya beli dengan hasil tabungan dan bantuan dari sana sini (orangtua dan nenek) ini menjadi salah satu benda yang tak bisa dijauhkan dari saya. Apalagi status sebagai mahasiswa tingkat akhir yang saat ini saya sandang. Laptop menjadi sahabat yang menemani keseharian saya dalam menyelesakan tugas akhir.
Terimakasih untuk kemajuan teknologi, karena saya jadi diberi kemudahan menangani hal-hal sulit.


#CeritaDariKamar - Day 28

DVD Eksternal


"Aaaaaargh bagaimana caranya menginstal software kalau laptop saja tidak ada CD room-nya!" teriak saya saat itu. Saya gregetan pada laptop saya sendiri yang tidak memiliki CD room. Sebenarnya ini konsekuensi dari pilihan saya sendiri. Ketika memutuskan untuk membeli laptop, saya memilih laptop 12 inch. Jelas saja tidak tersedia fasilitas CD room, karena ukuran laptopnya saja kecil.

Saat itu ada sebuah software yang harus segera saya instal di laptop. Software yang mendukung editing project yang merupakan tugas kuliah yang sedang saya kerjakan - company profile. 

Software tersebut tidak dapat diinstal dengan teknik copy paste seperti biasanya saya lakukan (numpang laptop teman untuk copy software dari CD ke flashdisk, untuk kemudian diinstal di laptop saya). Melainkan harus diinstal langsung dari drivernya. Bingunglah saya yang tidak memiliki fasilitas CD room di laptop.

"Pakai DVD eksternal dong!" ujar pacar saya saat itu. Kami satu kelompok dalam project ini.

"Siapa yang punya?" 

"Pasti mau minjem nih! Beli sendiri lah. Jangan kebiasaan minjam barang dari orang lain. Lebih baik kamu merepotkan dirimu sendiri." Kata-kata itu benar-benar menohok saya. 

"Tapi..."

"Udahlah... Nanti aku bantuin cari!"

Akhirnya dapatlah ia sebuah DVD external untuk laptop saya. Dan melayanglah tabungan saya yang sebelumnya tidak ada budget untuk membeli benda itu.

Yang lebih apes lagi, ternyata spesifikasi laptop saya tidak support terhadap software itu. Pacar malah tertawa lebar saat melihat ekspresi bengong saya ketika dengan semangat mencoba menginstal software tersebut tetapi akhirnya tidak berhasil.

Yasudahlah, mau bagaimana lagi. Urusan editing project saya serahkan pada orang lain saja. 

DVD eksternal ini masih saya gunakan sampai saat ini. Walaupun hanya sesekali, untuk menonton film dari VCD/DVD.


#CeritaDariKamar - Day 27

Kartu Member Persewaan Buku


Hobi membaca buku adalah hobi yang mahal menurut saya, jika harus membeli sendiri buku-buku yang ingin saya baca. Sedangkan kondisi saya saat ini belum memiliki penghasilan tetap dan dikejar kebutuhan kuliah yang tidak ada habisnya. Uang saku dari orang tua yang hanya pas-pasan membuat saya harus pandai-pandai berhemat dan mengatur keuangan dengan sedemikian rupa.

Titik terang itu datang ketika adik saya memberikan informasi mengenai adanya persewaan buku yang tidak jauh dari kampus saya. Ia tahu saya sangat suka membaca buku. Ia juga tahu saya sedang giat-giatnya menulis. Maka dari itulah ia menceritakan pada saya, tempat yang menjadi langganan teman-temannya menyewa komik.

Begitu menginjakkan kaki di depan tempat itu, mata saya langsung berbinar. Rak-rak tinggi penuh buku terjajar rapi di ruangan yang luas. Tanpa ba-bi-bu saya langsung mendaftar. 

Kartu member sudah di tangan. Saatnya bergerak menyentuh jajaran buku-buku yang tersusun rapi itu. Mata saya mengarah pada rak-rak penuh novel. Melihat judul demi judul. Membaca sinopsis demi sinopsis. Memilih buku mana yang pertama kali akan saya sewa. Tidak peduli tatapan tidak ramah dari penjaga persewaan. Tidak peduli rengekan adik yang hampir mati bosan karena menunggu. Ah! Ia benar-benar rugi karena sama sekali tidak tertarik dengan buku.

Sampai saat ini pun saya lebih suka membaca novel daripada komik. Mungkin sudah bukan masanya lagi membaca komik. Sehingga sesekali saja saya memutari rak-rak penuh komik dan melihat-lihat, tetapi tidak sekalipun menyewanya.

Saya sayang sekali dengan kartu member ini. Karena kartu ini menjawab kebutuhan saya akan membaca tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.

Sesuatu yang menjadi impian saya jika sudah memiliki penghasilan tetap adalah membuat budget setiap bulan untuk membeli buku, mengoleksinya dan membuat perpustakaan mini di kamar. Semoga tercapai ^^


#CeritaDariKamar - Day 26

Kaset Mini DV

Menulis skenario? Saya pernah melakukannya. Walaupun hanya untuk project kecil-kecilan saat masih bersekolah di SMK.

Project pembuatan sebuah film pendek. Teman-teman satu kelompok mempercayakan penulisan skenario menjadi tugas saya. Dengan semangat, saya mengerjakannya. Susah-susah gampang. Membutuhkan imajinasi yang tidak boleh habis. 

Apalagi kelompok saya memutuskan untuk membuat sebuah film bergenre horor. Tentulah menjadi tantangan untuk saya dalam perancangan adegan demi adegan yang membuat film tersebut menegangkan dan tidak mudah ditebak.

Proses revisi tidak pernah berhenti. Bahkan penggantian adegan dan percakapan terkadang dilakukan saat kamera dan perlengkapan sudah stand by di lokasi pengambilan gambar. Maklum saja lah, kami belum menjadi pekerja profesional. Tetapi kami berusaha melakukan proses pengerjaannya secara profesional. 

Pengambilan gambar dilakukan berkali-kali setiap adegannya, karena kami berusaha mendapatkan hasil yang paling baik. Hal itu berdampak pada kaset mini DV yang menjadi cepat habis. Sehingga kami harus menyediakan kaset mini DV cadangan setiap kali akan melakukan pengambilan gambar.

salah satu kaset mini DV itu
Kerja keras yang dilakukan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh pasti mendapatkan hasil yang memuaskan. Apalagi kebersamaannya, menjadikan seluruh prosesnya menyenangkan. 

Film horor berjudul "1996" akhirnya sukses. Saya sebagai penulis skenario pastilah bangga mendapati film tersebut akhirnya berhasil memperoleh banyak pujian dari guru-guru. Bahkan menurut kabar yang saya dengar, sampai saat ini film tersebut sering diputar di SMK saya, sebagai referensi untuk adik-adik kelas.

Sayang sekali semua file yang berkaitan dengan project tersebut ikut hilang saat komputer papa terkena virus dan harus diformat ulang. Saat itu saya belum memiliki laptop, sehingga seluruh pengerjaan skenario tersebut menumpang di komputer papa.


#CeritaDariKamar - Day 25

Post Card from China

Muchammad Bakhtiar. Baru kali ini aku bertemu seseorang yang memiliki obsesi yang cukup tinggi. Keinginanmu untuk menjadi duta besar, membuatmu terus berusaha mengejar cita-cita tersebut.

Satu tahun bergabung bersama kami di jurusan Public Relations Universitas Diponegoro terasa sekejab. Kau memutuskan untuk pindah ke Universitas Brawijaya, mengambil jurusan Hubungan Internasional. Ya! Upayamu sangat keras untuk mendekati impianmu.

Kepergianmu ke China, yang aku lupa dalam rangka apa kau ke sana, membuatku dan teman-teman yang lain cukup terkejut. 

Kami menanti kepulanganmu. Ingin mendengar segala ceritamu tentang negeri tirai bambu yang tersohor itu.

Ternyata kau di sana tidak lama. Jadilah begitu mendengar kepulanganmu dari China, tepatnya satu tahun yang lalu, aku bersama beberapa teman yang lain berkunjung ke rumahmu, sahabat lamaku.

"Wow." Kata itu tak pernah luput kami lontarkan setiap ada hal-hal dalam ceritamu yang membuat kami takjub.

Tak lengkap rasanya jika tak meminta oleh-oleh darimu. Kau mengeluarkan beberapa lembar post card dengan tersenyum. Ah! Ternyata kau ingat pada kami. 



Tidak penting apa yang yang kau bawakan untuk kami, karena apapun yang kau berikan pasti kami terima dengan senang hati. Terima kasih, Tiar.

Tetaplah mengejar cita-citamu kawan. Kami akan terus mendoakan...


#CeritaDariKamar - Day 24

Buku Tabungan

Apa yang kalian lakukan ketika mendapatkan gaji pertama? Membeli barang-barang yang kalian inginkan? Atau memberikannya pada orangtua? Tidak ada yang salah. Semua sah-sah saja.

Tetapi bukan itu yang saya lakukan. Begitu gaji pertama saya terima, hal pertama yang ada di benak saya adalah membuka rekening di bank. Saat itu, yang ada di pikiran saya, mempunyai rekening di bank serta kartu atm adalah sesuatu yang keren.

Untuk transportasi, saya tidak keluar biaya, karena setiap hari diantar jemput oleh papa. Makan siang pun dapat dari butik. Maka 3 bulan bekerja di butik batik, saya hanya menggunakan sedikit sekali gaji saya.  Selebihnya saya menabungkannya di bank. Seru sekali rasanya terus menambah isi tabungan.

Setelah tidak lagi bekerja di sana, kebiasaan menambah isi tabungan tidak lantas berhenti. Uang saku dari orang tua saya kumpulkan sedikit demi sedikit. Begitu lebih dari 50 ribu, langsung saja saya ke bank untuk menabungkannya. Tidak jarang ikut mengantri panjang hanya untuk menabungkan uang 75 ribu rupiah. Mungkin pandangan teller bank sedikit aneh pada saya. Ah tidak saya gubris!

Setelah uang terkumpul banyak, saya berencana menggunakannya untuk membeli laptop. Tentu saja dengan tambahan dari uang orang tua. 

Jika kalian ingin membeli sesuatu, menggunakan uang sendiri akan lebih membanggakan lho. Kalau tidak percaya, coba saja...


#CeritaDariKamar - Day 23

ID Card Tim Basket Sekolah

"Ditaaaaa! Ayo lari. Dribel bola kok sambil jalan!"

"Ditaaaaa! Passing saja! Passing bolanya! Jangan dibawa sendiri."

"Ditaaaaa! Perhatikan kaki! Jangan sampai double begitu dong!"

Ya begitulah teriakan demi teriakan dari guru olahraga sekaligus pelatih basket sekolah pada saya (saat SMK). Jika sudah begitu, pastilah saya buru-buru menurut. Atau kalau tidak, matanya akan semakin melotot dan teriakannya akan semakin kencang. Saya takut matanya lepas dan suaranya habis.

Latihan semakin keras diadakan oleh pelatih, seiring semakin dekatnya jadwal pertandingan antar SMA/SMK Salatiga.

Dan datanglah hari yang ditunggu-tunggu. Pengumuman nama-nama yang akan masuk dalam tim untuk pertandingan ini. 5 nama pemain inti sudah diumumkan. Tidak ada nama saya. Sempat terpikir tidak akan terpilih. Yasudahlah.Tapi ternyata, nama saya disebut juga oleh pelatih. Nama terakhir dari 5 orang pemain cadangan. Bangga? Pasti!

ini buktinya
Pemain cadangan? Siapa takut! 

Jadilah selama kurang lebih 5 hari pertandingan itu, saya datang ke lokasi dan bergabung dengan bangga bersama teman pemain yang lain. Melakukan pemanasan ringan dan juga briefing sebelum pertandingan dimulai. 

Kalian tahu, selama hampir keseluruhan pertandingan, saya hanya duduk di bangku cadangan. Memberi tepuk tangan dan semangat kepada teman-teman pemain inti yang sedang bermain. Padahal pernah sekali waktu orangtua dan adik saya datang. Berniat ingin menonton saya bertanding. Tapi apa daya, pelatih tega sekali. Saya bilang saja, "Belum waktunya".

Akhirnya pada pertandingan terakhir dan menit-menit akhir tim kami (yang kesemuanya kalah atau satu kali menang ya, entahlah saya lupa), pelatih menyuruh saya masuk ke lapangan. Menggantikan pemain inti yang sudah terlihat kelelahan.

Dengan tubuh yang masih segar bugar, saya berlari masuk ke lapangan. Terlalu semangat sepertinya. Sampai-sampai mata ini tidak awas. Tidak memperhatikan kiri dan kanan. Jadilah saya menabrak pemain lawan yang badannya jauh lebih besar daripada saya. Ia jatuh terjerembab. 

Tidak banyak yang saya lakukan. Jangankan menciptakan angka. Bahkan berlari pun saya rasa sedikit sekali. Memegang bola? Jangan ditanya. Sangat jarang. 

Konyol ya? Tapi di situlah asiknya. Mengingat kekonyolan masa lalu seringkali mengundang tawa. Daripada hanya mengenang kisah sedih yang terus saja menyisakan duka.

#CeritaDariKamar - Day 22

Dompet Pulsa

Drrrttt... Drrttt...

Ponsel saya bergetar. Pertanda ada sebuah pesan yang masuk. Segera saya raih ponsel yang ada di meja sebelah tempat tidur saya.

"Dit, beli pulsa 10 ribu di nomorku ya." 

"Tolong isiin pulsa 5 ribu di nomor ini ya Dit. Duitnya besok."

"Dita, aku tadi nggak jadi ke kampus. Duit pulsanya besok ya."

Ya kira-kira pesan-pesan sejenis seperti itulah yang datang silih berganti setiap harinya. Membuat ponsel selalu ramai dengan pesan yang masuk. Sebagai mahasiswa yang memiliki sambilan berjualan pulsa, tentu saya senang saja. Karena itu artinya, nama saya sudah dikenal teman-teman. Sehingga banyak yang mengandalkan saya untuk mengisi pulsa mereka.

Dan lebih menyenangkan lagi (bagi mereka), pulsa saya bisa dihutang. Mereka hanya tinggal mengirimkan pesan pada saya, maka nomornya akan dengan segera terisi pulsa. Jangan tanya soal kesigapan. Saya sangat menjaga hal itu. Jadi jangan kaget jika ponsel selalu berada tak jauh dari saya. Ini soal pelayanan. Menurut saya itu penting untuk menjaga kepercayaan pelanggan.

Masalah pembayaran urusan belakangan. Mayoritas pelanggan adalah teman-teman satu kelas di kampus. Tak sulit bertemu mereka. Tapi juga tak mudah mendapatkan pembayaran saat sudah bertemu mereka. Terkadang ada beberapa yang lantas menghindar bertemu dengan saya. Hahaha tapi tentu saja itu tidak semua.

Tidak perlu berteriak lantang untuk menagih uang pembayaran pulsa. Cukup dengan kata sakti: nama mereka! Sekali panggil, mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan. 

"Ngeri ni kalau Dita udah manggil nama." Sampai pernah ada yang nyeletuk begitu. Geli mendengarnya. Saya hanya senyum-senyum menanggapinya. Tidak tersinggung sama sekali.

Satu lagi, dengan mengeluarkan sebuah wadah uang berbentuk persegi panjang. Saya menyebutnya dompet pulsa. 


Hanya dengan membawa dompet ini berkeliling dan memanggil nama mereka yang berada di list tagihan, mereka sudah mengerti apa maksud saya. Dan untuk mereka yang bebal, sehari sebelumnya pasti sudah saya kirimkan pesan tagihan. Mengingatkan agar esok tak lupa membayar.

Tetapi sekarang, bisnis ini mengendur. Predikat 'mahasiswa tingkat akhir' yang melekat pada saya dan juga teman-teman menjadikan pertemuan rutin itu tidak ada lagi. Hanya sesekali bertemu mereka di kampus ketika sedang ada keperluan dengan dosen untuk bimbingan Tugas Akhir.

Adakah yang mempunyai profesi yang sama dengan saya dan masih sekolah? Satu pesan saya, bersikaplah sedikit tega saat menagih uang pembayaran! Agar bisnis tetap berjalan lancar. Ingat, sedikit saja. Karena jika terlalu tega juga pelanggan akan meninggalkan kalian. 

Tetap semangat berbisnis kawan!

#CeritaDariKamar - Day 21

Kipas Angin Tua




Putaran kipasnya membawa angin sejuk. Melegakan seluruh tubuh dari hawa panas yang menyerang dan membuat gerah. Tidak perlu dibayangkan seberapa kencang putarannya. Tidak terlalu kencang. Itulah sebabnya saya tidak segan-segan mengarahkan kipas angin ke wajah saat tidur-tiduran di kasur. Biasanya, jika sudah begitu, tidak lama akan terdengar teriakan mama.

"Ditaaaa! Jangan langsung ke muka. Nanti masuk angin." Begitulah kira-kira.

"Nggak kenceng kok anginnya." Dan begitulah jawaban saya setiap kali mama menegur. Tetapi tetap saja saya menurut. Kipas angin akan saya serong sedikit. Sehingga anginnya tidak langsung menerpa wajah.

Berebut kipas angin ini dengan adik sudah menjadi hal lumrah setiap kali kami merasa gerah. Sebagai solusi, kipas angin ini kami letakkan di tengah-tengah. Arahnya pun lurus ke depan. Sehingga saya dan adik mendapat angin segar dengan sama rata. 

Entah kapan kipas angin ini lahir. Sejak lama sudah berdiam diri di pojok atas lemari di kamar saya. Saya pikir sudah rusak. Tetapi ketika papa mengambilnya dan mencoba menyalakannya, ternyata masih bisa berputar. Langsung saja saya boyong lagi ke kamar. 

Kipas angin berdiri terlalu besar. Bukan segar lagi yang terasa, justru bisa benar-benar membuat masuk angin. Itulah mengapa ketika melihat kipas angin tua ini ternyata masih berfungsi, mata saya langsung berbinar.

Untuk hitungan kipas angin tua, walaupun sudah tidak terlalu kencang, putarannya terbilang masih baik. Masih bisa berputar saja sudah syukur. Lihat saja bentuknya. Cukup antik bukan?

#CeritaDariKamar - Day 20 

Iseng-Iseng Berhadiah

Menjelajah internet selalu akan ada manfaatnya. Salah satunya saat menemukan sebuah informasi mengenai 'Giveaway'. 

Apa itu giveaway?
Giveaway adalah event yang diadakan oleh pihak tertentu (biasanya developer software dll) untuk membagikan lisensi produknya secara gratis dan legal. (Sumber: di sini)
Semakin ke sini, pengertian giveaway meluas. Sudah bukan hanya pihak yang memiliki produk dan hendak mengenalkannya atau semacamnya. Saat ini, para sesama blogger pun sudah banyak yang membuat giveaway dengan beragam alasan. Salah satunya agar menambah kenalan sesama blogger.

Nah! Iseng-iseng mengikuti sebuah giveaway yang diadakan oleh seorang travel writer di blog, ternyata justru saya terpilih untuk menjadi salah satu dari 3 orang pemenang. Yeay! Jelas saja melonjak gembira. 

Bukan soal hadiahnya apa. Lebih berharga kepuasan batinnya, karena berhasil menjadi pemenang di antara puluhan orang yang mengikuti giveaway ini. Setelah itu saya jadi ketagihan mengikuti giveaway-giveaway yang lain.

Tidak terlalu ngotot sih. Jika syarat-syarat untuk mengikuti giveaway tersebut membuat saya tertantang, saya akan mencoba mengikutinya. 


#CeritaDariKamar - Day 19

Wolly dan Blacky


Meletakkan hewan peliharaan di dalam kamar, benarkah hal itu tidak sehat?

Mungkin memang benar. Tidak sehat untuk saluran pernafasan saya. Bau dari kandangnya sangat menyengat ketika kotoran dari mereka sudah banyak. 

Bahaya yang lain juga bisa saja dari bulu-bulu mereka yang kemungkinan sedikit banyak ikut terbang di udara yang saya hirup.

Tetapi mata ini terasa segar jika melihat Wolly dan Blacky. Dua hamster mungil yang saat ini mendiami kandang tersebut. 

Saya jadi ingat, bagaimana kedua hamster ini menjadi milik saya. 

"Mbak, ambil yang itu aja," seru Dea, adikku. Kami sedang berada di sebuah toko yang menjual beberapa macam hewan peliharaan. Dea menunjuk seekor hamster mungil berwarna kuning.

"Nggak pilih yang sewarna aja? Takutnya kalau beda warna, jangan-jangan beda jenis. Ntar nggak bisa beranak lagi kayak yang dulu." Sebelumnya, kami memang sudah pernah memiliki sepasang hamster. Kata orang, hamster termasuk hewan yang mudah berkembang biak. Tapi entah kenapa, punya kami tetap saja dua sampai mereka mati. Saya jadi curiga, si mbak penjualnya bohong soal jenis kelaminnya. Jangan-jangan kami diberi sepasang hamster yang jenis kelaminnya sama. Dan memang kami tidak bisa membedakannya.

"Ini jenisnya sama kok mbak," ujar si penjual menengahi perdebatan kami.

 "Tuh kan sama! Udah, yang ini aja ya." Dea ngotot memilih hamster kuning itu.

"Kenapa? Bukannya yang warna abu-abu sama lucunya." Hewan apa sih yang tidak lucu jika masih kecil, benar tidak? 

"Yang ini mengejar tanganku terus digigit-gigit. Nih coba lihat!" Dea memasukkan tangannya ke sebuah wadah besar tempat hamster-hamster yang dijual itu berada. Benar! Hamster kuning itu mengejar kemanapun arah tangan Dea bergerak. Tetapi digigit? Dan malah dipilih? Saya benar-benar tidak paham dengan jalan pikiran Dea.

Yasudahlah, saya mengalah. Jadilah sepasang hamster kuning dan abu-abu pulang bersama kami. Saya menamainya Wolly dan Barnie. Begitu sampai di rumah dan kami masukkan ke dalam rumah hamster, mereka terlihat aktif. Mungkin karena selama ini hanya berada di wadah berbentuk kotak yang membosankan. Sehingga ketika berada di rumah yang di dalamnya terdapat mainan, mereka jadi senang. Dan ketika kami memberinya makanan, mereka makan lahap sekali. Pipi mereka menggembung besar karena mengantongi makanan di sana.

Oh iya, kami memiliki satu hamster lagi. Kami menamainya Blacky, karena warna bulunya yang hitam. Hamster yang satu ini kami adopsi dari sepupu kami. Dia sudah memiliki banyak hamster. Sehingga tidak keberatan jika salah satunya menjadi milik kami. 


Tetapi sayang, Barnie keluar dari kandang dan tidak ditemukan sampai sekarang. Semoga kamu baik-baik saja di luar sana ya, Barnie...

Jadilah hamster di kandang itu tinggal dua ekor, Wolly dan Blacky.

Melihat tingkah lucu dan menggemaskan dari mereka berdua membuat perasaan menjadi selalu senang. Menurutku, itu sehat. Lebih tepatnya menyehatkan hati. Bukankah jika kita selalu merasa senang, seluruh organ tubuh kita akan merespon baik? Dan sebaliknya, jika kita selalu murung, penyakit justru mudah menghampiri. Jadi, definisi sehat menurutku tergantung masing-masing pribadi.

#CeritaDariKamar - Day 18

Kacamata

Buka puasa bersama? Itu biasa. Bagaimana jika dalam acara buka puasa bersama, disertakan kegiatan tukar kado? Itu baru menarik.

Tepatnya 2 tahun yang lalu. Datanglah sebuah undangan buka puasa bersama teman-teman lama - teman masa SMK. Walaupun undangan hanya berupa pesan yang dikirimkan secara paralel melalui ponsel, tetap saja saya menyambutnya dengan antusias. Bagaimana tidak? Moment berkumpul seperti ini hanya bisa dilakukan satu tahun sekali. 

Terbayang sudah obrolan-obrolan panjang seputar masa-masa SMK yang penuh nostalgia. Tertawa bersama membayangkan banyaknya kejadian-kejadian konyol yang pernah kami lakukan saat lalu.

Setelah lulus SMK dan sibuk dengan aktifitas masing-masing, kegiatan buka puasa bersama adalah kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahunnya. Terkadang cerita yang sama menjadi topik. Tetapi entah mengapa tetap saja seru.

Kembali lagi pada moment buka puasa bersama 2 tahun lalu. Munculnya ide adanya kegiatan tukar kado untuk sekedar seru-seruan terdengar menarik. Dengan syarat kado yang dibawa, harga dari isinya tidak boleh melebihi 10 ribu rupiah.

Sebelum berangkat ke lokasi acara, saya mampir ke toko buku untuk membeli 2 buah gantungan kunci. Masing-masing 5 ribu rupiah. Lalu membungkusnya rapi. 

Cara pembagiannya, kado-kado dikumpulkan. Kemudian diberi nomer pada kertas pembungkusnya. Lalu kami membuat gulungan-gulungan kertas kecil. Gunanya sebagai undian. Saya lupa mendapatkan undian nomor berapa. Dan ternyata setelah pembungkus dibuka, TADAAA! Saya mendapatkan sebuah kacamata.


Ternyata tidak bisa saya pakai. Karena terlalu kecil. Terasa sempit di kepala. Tetapi tak apa, saya menyimpannya dan akan terus menyimpannya. Bukankah sudah seharusnya begitu? Sebuah pemberian pantaslah dihargai. Apapun bentuknya itu.

#CeritaDariKamar - Day 17

Sosok Gagah di Kamarku

Seorang pria dengan badan tegak, gagah, dan pemberani, beberapa bulan ini mendiami kamar saya. Sosoknya yang tegas selalu membuat saya terpesona. Kebanggaan muncul dari hati ini karena memilikinya.

Setiap saya bercermin, mata pria ini menatap saya. Seolah mengingatkan saya untuk selalu menjadi manusia yang berjiwa besar dan berani bertanggungjawab terhadap apa yang telah saya perbuat; selalu menyelesaikan apa yang sudah saya mulai; dan selalu berbuat baik untuk semua orang, tanpa kecuali.

Bagaimana, tampan kan?
Sosok ini hadir dalam foto-fotonya yang saya letakkan di depan cermin kamar. Foto yang diambil saat beliau masih tergabung dalam Angkatan Laut Republik Indonesia ini, beliau sendiri yang menemukannya ketika sedang membersihkan kamar. Dengan semangat, beliau membawanya ke studio foto untuk dicetak ulang dan diberi pigura, lalu dipasang di ruang tamu rumah. Nah! Jadilah foto yang tak berpigura ini berpindah ke kamar saya.
Ingin tahukah kalian siapa beliau? 
Beliau adalah kakek saya. Ayah dari mama saya. Satu-satunya kakek yang masih bisa saya pandangi lekat-lekat, saya cium pipinya, saya gandeng lengannya, dan saya dengarkan nasehat-nasehatnya. 

Sepeninggal nenek yang mendahului kami menghadap Tuhan Yang Maha Esa, beliau terlihat seperti kehilangan semangatnya. Tatapannya tak setajam dulu. Langkahnya tak semantap dulu. Tetapi kerendahan hati dan kebaikannya masih seperti dulu. Seolah tak lekang oleh waktu.

Kami memanggilnya mbahkung...
We always love you, mbahkung Sudarman.

foto diambil lebaran 2013

#CeritaDariKamar - Day 16

Hasil Photobox

"Hapus ndys, aku jelek banget tu!" 

Sedikit menggerutu, Gandys, sahabatku, mengarahkan telunjuknya pada tombol touchscreen di depan kami.

"Yaaah kamu jangan di depan dong. Aku kan jadi kelihatan kecil banget."

Gandys manyun lagi. Kemudian ia menghapus foto itu dan berpindah posisi menjadi di belakangku.

"Hapus! Hapus! Aku gendut banget." Giliran Gandys yang protes. Aku menertawakannya.

"Hei cepet! Cepet! Waktunya tinggal dikit tuh!" 

"Yaudah... Nggak usah dihapus-hapus lagi!" Gandys mulai jengkel.

Bilik kecil di salah satu mall, yang hanya muat untuk berdua itu ramai dengan seru-seruan kami. Tak kami pedulikan jika ternyata di luar banyak tatapan heran karena mendengarnya. Namanya juga perempuan. Selalu menuntut kesempurnaan di setiap foto yang diambil. Padahal sudah tahu bahwa sebenarnya sempurna itu tidak ada.

Akhirnya didapatlah kedelapan jepretan ini:


Jika dihitung-hitung, foto sendiri lebih murah. Hasilnya juga bisa lebih banyak. Tapi ribut-ribut seru seperti cerita saya di atas tidak akan kami temui. Kami cukup puas dengan hasilnya. Terlebih lagi, sangat puas pada kebersamaannya.

#CeritaDariKamar - Day 15

Bekal dari Alitt Susanto dan Bukune

Bertemu dengan penulis terkenal? Siapa yang tidak mau.

Saya tidak percaya pada sesuatu bernama 'kebetulan'. Semua hal pasti sudah digariskan. Begitu juga kesempatan mengikuti #CreativeCharity yang diadakan oleh @shitlicious dan mendapatkan support dari Bukune.

Bermula dari membaca sebuah tweet pada suatu malam. Tweet tersebut berisi tentang kegiatan #CreativeCharity yang akan diadakan oleh Alitt. Kemudian saya mencoba mencari tahu lebih jauh. Ternyata kegiatan itu diadakan di beberapa kota besar di Indonesia, salah satunya Semarang. Melonjak gembira? Iya. Tetapi setelah tahu bahwa jadwal #CreativeCharity adalah esok harinya, jelas panik. Karena pesertanya terbatas dan saya baru saja mengetahui informasinya malam itu.

Segeralah saya mengikuti cara pendaftaran via sms. Menunggu konfirmasi malam itu juga menjadi kegiatan yang mendebarkan. Akhirnya sekitar pukul 23.00 WIB, konfirmasi itu datang juga. Saya masuk dalam daftar peserta. Yeay!

Esoknya, diantar oleh pacar dan sahabat saya, berangkatlah saya ke IKIP PGRI Semarang yang menjadi lokasi acara. Saking semangatnya, setengah jam sebelum acara, saya sudah sampai di lokasi. Masih sepi. Dan acara baru dimulai sekitar pukul 14.00 WIB. Jam Indonesia mungkin terbuat dari karet yang sangat mudah melar, ini yang disayangkan.

Tetapi overall, acaranya bagus. Basic acara adalah charity, jadi tentu acara ini merupakan kegiatan amal yang tidak dipungut biaya dan dikemas dalam kelas penulisan. Peserta dapat memberikan sumbangan seikhlasnya untuk membantu masyarakat yang tidak mampu di luar sana. Kreatif! Ada @shitlicious, @catatansiDoy, dan @widya_oktavia sebagai pengisi acara. Mereka sharing seputar kreatifitas penulisan dan penerbitan. 

Sebelum memulai acara, Alitt mengeluarkan tumpukan buku dari sebuah tas. Berbinar-binar? Iya. Saya pikir itu adalah sebuah novel. Ternyata isinya kertas kosong. Kecewa? Tidak juga. Saya mengisinya dengan catatan seputar informasi yang saya anggap penting saat itu.


Yang paling menggerakkan hati adalah tulisan di sampul belakang buku ini:

"Ciptakan Sejarahmu Sendiri dengan Menulis"

Benar kata Alitt, pikir saya saat itu. Kalimat di sampul belakang tersebut menjadi motivasi untuk saya terus menulis, menulis, dan menulis. 

Terima kasih untuk Alitt Susanto, Dion, dan Widyawati Oktavia sebagai pengisi acara, Bukune yang men-support acara, serta BEM IKIP PGRI dan Stand Up Comedy Semarang yang ikut mendukung acara ini..

#CeritaDariKamar - Day 14

Kisah di Balik Kartu Nama


Membuat sebuah event? Tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Bagaimana bisa merancang sebuah acara, lalu mempersiapkan segala sesuatunya dan kemudian melakukan eksekusi serta evaluasi. Sedangkan saya hanya salah satu dari sekian banyak mahasiswa golongan kupu-kupu (kuliah-pulang kuliah-pulang). Tanpa ada satu pun organisasi yang diikuti. Pengalaman membuat event adalah nol.

Tetapi jika ada kerja keras, pastilah selalu ada jalan. Setelah melalui proses panjang, keringat yang terperas sampai kering, air mata yang ikut menjadi warna, pertengkaran-pertengkaran kecil dengan sesama teman satu kelompok, serta dompet yang terkuras, akhirnya sebuat event bertema "Hijab Class" terlaksana.

Bermula dari tugas mata kuliah PR Campaign. Mahasiswa diharuskan membentuk kelompok yang terdiri dari 10 orang dan mencari klien yang cocok untuk merancang sebuah kampanye PR. 

Setelah diskusi panjang bersama teman satu kelompok, didapatlah beberapa nama sebagai calon klien. Survey dilakukan dan keputusan pun akhirnya didapat. Kami ajak "Alifa Shop" sebagai klien yang akan kami angkat namanya melalui sebuah event kampanye PR. Alasannya, bisnis jilbab klien kami ini masih tergolong kecil. Bergerak dari satu pameran ke pameran yang lain di beberapa mall di Kota Semarang. Penjualan via online pun sudah lama mati. Hal itu menjadikan tantangan bagi kami untuk menaikkan trafik penjualan dan memperkenalkan namanya kepada masyarakat Semarang.

Pendaftaran sebagai peserta Hijab Class membludak. Tapi dengan sangat menyesal kami hanya memiliki kuota peserta 50 orang. Target kami adalah mahasiswi muslim Universitas Diponegoro. Sengaja hanya seputar itu, karena budget kami terbatas. Klien hanya mampu menyediakan dana sedikit. Kami maklum. Keuntungan penjualan pastilah belum banyak. Akhirnya kami menutup kekurangan dana dengan berjualan makanan kecil-kecilan di kampus. Kerja keras yang menyenangkan. Karena kami melakukannya dengan suka cita.

Tibalah hari H. Acara diisi dengan beberapa tutorial hijab oleh tutor yang kami datangkan dari luar Undip, kemudian sharing mengenai pemakaian jilbab, dan ada pula kegiatan amal yaitu penyerahan jilbab pantas pakai yang dibawa peserta kepada salah satu panti asuhan di dekat Undip.


Acara tergolong sukses karena peserta mendapatkan kepuasan. Yang paling penting, acara kami mendapatkan banyak peliputan dari media cetak maupun online. Presentasi akhir pada saat ujian semester pun mendapatkan pujian dari dosen. 

Kenangan yang tak terlupakan....

tim hijab class
#CeritaDariKamar - Day 13

Jam Tangan

Saya menyukai penunjuk waktu yang dapat dibawa serta. Atau lebih tepatnya yang dapat melekat di pergelangan tangan. Bukan penunjuk waktu yang terjebak dalam layar sebuah ponsel, berdesakan dengan wallpaper, beberapa deretan menu, penunjuk battery, jenis operator, dll. 
Terlebih ketika saya ingin melihat pukul-berapa-sekarang, memiringkan lengan kiri sedikit ke dalam, maka pukul-berapa-sekarang dapat terjawab dengan sangat mudah. Berbeda dengan ponsel. Saya harus mengeluarkan ponsel terlebih dahulu dari saku ataupun tas, kemudian menekan sembarang tombol agar layarnya tak lagi gelap. Barulah penunjuk waktu itu nampak. Bagaimana jika saya dalam keadaan tidak diperbolehkan membawa serta ponsel? Seperti ketika ujian di kelas misalnya. Pastilah merepotkan.
Aksesoris yang paling simpel dan enak dilihat menurut saya juga sebuah jam tangan. Pilihlah model yang sederhana dan warna yang tidak mencolok agar dapat serasi dengan pakaian apapun yang kalian kenakan.


#CeritaDariKamar - Day 12

Hotel di Jalan Turunan

Belum bergelar mahasiswa sejati jika belum memegang teguh prinsip SKS – Sistem Kebut Semalam. Prinsip ini sekarang sedang aku praktekkan. Sepulang kuliah tadi sore, aku langsung meluncur ke kos Ardi yang letaknya dekat dengan kampus.

Aku mengambil jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota di salah satu universitas di Semarang. Tugas membuat perencanaan desain perumahan sederhana menjadi agendaku sepulang kuliah hari ini. Malam ini tugas itu harus selesai. Besok adalah deadline pengumpulannya.

Sketsa desain sudah kami kerjakan kemarin. Hari ini aku dan kelompokku – Ardi, Imam, dan Bram – bekerja sama mengeksekusi sketsa itu menjadi sebuah maket yang indah.

“Akhirnya selesai juga,” ujar Bram. Kami melemaskan jari-jari tangan.

Jam di ponselku menunjukkan pukul 22.24 WIB.

Aku balik ya.” Pamitku pada teman-teman.

“Ton, ati-ati tuh lewat turunan sana,” seru Ardi tiba-tiba.

Yang dimaksud Ardi adalah sebuah daerah dengan jalan raya yang membentuk turunan meliuk-liuk. Daerah itu seram adalah masih banyak pohon-pohon di salah satu sisi jalan, sehingga membentuk seperti hutan. Keadaan yang gelap ketika malam menambah efek seram di sana. Dan aku harus melewatinya karena itu adalah jalan menuju rumahku.

“Halah. Kenapa?” tanyaku.

“Malem jumat ni. Hi...” jawab Imam mencoba menakutiku.

Aku tertawa. Aku bukan laki-laki penakut. Apalagi dengan hal-hal mistis berbau hantu-hantuan.

Lelah membuatku ingin cepat sampai di rumah. Kulajukan motorku di turunan. Jalanan sudah sangat sepi. Kondisi jalan yang licin setelah hujan tadi membuatku berkendara tidak terlalu kencang.

Eh.. eh... kenapa ini? Kenapa mesin motorku jadi tersendat-sendat begini?

Aku mengarahkan motorku ke tepi. Tetapi akhirnya mesin motorku justru mati. Aku mencoba menghidupkannya. Tetapi mesinnya tidak juga mau hidup.

Udara malam semakin menusuk tulang. Bulu kudukku tiba-tiba meremang. Aku berada sangat dekat dengan bekas hotel yang terkenal seram itu. Sudah banyak masyarakat yang membicarakannya. Bahkan di twitter, cerita-cerita seram tentang bekas hotel ini sering menjadi topik yang dibicarakan. Terlebih di malam Jumat seperti sekarang ini.

Mengapa jalanan sepi sekali ya? Bahkan aku sampai bisa menghitung kendaraan yang lewat dengan mudah.

Ponselku kenapa pake mati sih!

Sepertinya aku harus menuntun motorku ini ke bawah. Siapa tahu masih ada bengkel yang buka. Walaupun itu artinya aku harus berjuang menahan motor serta tubuhku sendiri agar tidak tergelincir di turunan yang licin ini.

Sebelum aku menuntun motor, kucoba menekan starter lagi. Siapa tahu aku sedang beruntung malam ini. Dan benar, mesin motorku langsung menyala begitu aku menekan starter dan menarik rem secara bersamaan.

Semudah inikah? Ah sudahlah. Tidak perlu berpikir macam-macam. Aku harus sampai di rumah secepat mungkin. Ibu pasti menungguku. Apalagi aku belum memberi kabar padanya bahwa aku akan pulang selarut ini. Aku pasti membuatnya sangat cemas.

Kulajukan motorku kembali. Melintasi turunan dengan sukses. Akhirnya aku terlepas dari hal-hal menakutkan yang sedari tadi berkeliaran di pikiranku. Benar-benar pengalaman tidak terlupakan. Aku tidak akan lagi pulang selarut ini.

Tiba-tiba motorku terasa berat. Rasanya seperti ketika aku membawa seseorang di belakangku. Tetapi sedari tadi aku sendirian. Sangat tidak mungkin aku tiba-tiba bersama seseorang sekarang.

Aku melihat ke arah spion sebelah kanan. Apa itu? Kain putih tampak berkibar-kibar terkena angin. Tepat di belakangku. Jika dilihat lebih seksama, sepertinya itu bagian dari baju perempuan. Seperti gaun. Karena ada renda-renda yang menghiasi kain itu.

Aku tidak dapat melihat dengan jelas bentuk tubuhnya. Apalagi wajahnya.

Aku bisa saja mengarahkan spion sedikit ke atas agar dapat melihat dengan jelas wajah siapa atau apa yang berada di belakangku saat ini. Atau aku juga bisa saja melihat spion sebelah kiri karena kemungkinannya besar untuk dapat melihat wajah siapa atau apa di belakangku.

Tetapi aku memutuskan untuk tidak melakukan kedua pilihan tersebut. Aku lebih memilih untuk menghilangkan pikiran buruk tentang keberadaan siapa atau apa dia.

Meyakinkan diriku sendiri bahwa itu hanya halusinasi menjadi sangat sulit ketika berat di belakang motorku tidak juga hilang sampai aku berada di depan rumah.

Kuhentikan motorku di teras rumah. Berat itu tiba-tiba hilang. Kuhembuskan napas panjang-panjang setelahnya. Lega. Ternyata ini memang hanya halusinasiku saja. Mungkin aku hanya terbawa suasana sehingga membayangkan macam-macam. Aku hanya mengingat beberapa cerita tentang seramnya kawasan itu, sehingga cerita itu terbawa dalam alam pikiranku dan bergerak seperti nyata.

“Ini rumahmu?”

Aku terbelalak. Suara perempuan. Apakah itu suara seseorang yang berada di motorku sedari tadi? Atau siapa? Tidak mungkin ada salah satu temanku berkunjung ke rumah selarut ini. Ini sudah tengah malam. Apalagi perempuan?

Aku tidak berani menoleh. Kupejamkan mataku. Lalu kugeleng-gelengkan kepalaku. Berharap halusinasi itu segera menghilang. Setelah menghembuskan napas panjang untuk kesekian kalinya, aku membuka mata dan berjalan ke arah pintu.

“Tunggu! Kamu belum jawab pertanyaanku. Ini rumahmu?”

Suara itu lagi. Aku semakin tidak berani menoleh. Tetapi aku tidak bisa melangkah. Aku masih saja berdiri di tempatku, kakiku seolah terkunci dengan tanah.

Ia semakin mendekat. Aku bisa mendengar langkahnya. Tunggu! Aku bisa mendengar langkahnya? Itu berarti...

Aku merasakan tanganku disentuhnya. Dingin. Lalu ia menarikku sehingga kini kami berhadapan.

Ia mengenakan gaun putih selutut dengan renda di beberapa bagian. Rambutnya lurus sebahu dengan bando hitam tersemat rapi menghias kepalanya. Cantik. Tidak ada sisi menyeramkan dalam postur tubuh mungil di hadapanku ini.

Jika dilihat-lihat dengan seksama, mungkin ia seumuran denganku. Atau bahkan lebih muda sedikit dariku. Soal umur, bukan menjadi masalah saat ini.

Aku justru terpesona dengan senyuman manisnya. Siapa dia?

“Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?” tanyanya lagi. Lembut.

“A-Aku... tidak mengenalmu,” jawabku terbata-bata. Aku tidak ingin membuatnya marah atau tersinggung. Bisa saja ia berubah menjadi makhluk menyeramkan jika marah. Lagi-lagi aku membayangkan hal yang macam-macam.

Ia tersenyum lagi. Mengapa ia selalu menampakkan senyuman manisnya. Dan mengapa aku mulai menyukai senyuman itu. Seperti menghipnotisku.

“Kalau begitu, kenalkan. Aku Laras.” Gadis itu mengulurkan tangan ke arahku.

Aku pun meraih tangan mungil itu.

“Anton.”

Tangannya halus. Aku bisa menyentuhnya? Kini aku bisa memastikan ia bukan... Bukan seperti yang aku bayangkan.

Ku ajak ia duduk di bangku depan rumahku. Ia bercerita bahwa tadi kami bertemu di turunan ketika mesin motorku tiba-tiba tidak bisa menyala dan ia menemaniku. Lalu ia meminta ijin untuk ikut denganku.

Ia juga bercerita bahwa aku memperbolehkannya ikut. Dan ketika ia bertanya kita akan kemana, aku menjawab kita akan pulang ke rumahku. Tetapi aku tidak mengingatnya. Dan siapa dia? Bagaimana bisa aku mengijinkannya ikut pulang denganku jika aku bahkan tidak mengenalnya. Banyak pertanyaan yang melintas di kepalaku dan membuatku semakin pening.

Aku bukan tipe orang yang mudah lupa. Jadi bagaimana mungkin aku tidak mengingat suatu hal yang baru saja terjadi padaku.

Ia tersenyum padaku di saat aku masih mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi dengan kami tadi. Senyum itu. Lagi-lagi aku terbuai dengan lengkung sempurna yang dibentuk oleh bibirnya. Aku pun mempercayai begitu saja ceritanya. Tanpa mempertanyakannya lebih jauh.

“Tolong anterin aku lagi,” pintanya.

Aku terbengong-bengong.

“Anterin? Kemana?” tanyaku.

“Ke tempat tadi. Kamu tahu hotel di turunan itu kan? Aku menginap di sana.”

Mataku terbelalak.

“Kenapa?” tanyanya lagi ketika melihat ekspresiku.

“T-tapi... bukannya hotel itu...” ujarku hati-hati. Seingatku, hotel itu sudah tidak berfungsi sebagai hotel lagi. Bahkan sudah menjadi cerita umum sebagai tempat yang menyeramkan di kalangan masyarakat. Apakah Laras tidak mengetahuinya? Tetapi tentu saja aku tidak mengatakannya pada Laras.

Laras tersenyum. Ah senyum itu lagi. Aku mengangguk. Lagi-lagi pikiran dan gerakan tubuhku tidak sejalan karena senyuman itu. Ada apa dengan senyumannya?

“Aku masuk dulu ke dalam. Ibuku sudah menunggu sangat lama. Aku belum memberinya kabar akan pulang selarut ini. Bahkan aku akan pergi lagi setelah ini. Aku harus menemuinya,” ujarku.

Laras mengangguk. Ia menunggu di luar ketika aku masuk ke dalam rumah.

Lho? Kenapa pintu tidak dikunci? Oh mungkin ibu sengaja agar aku bisa dengan mudah masuk ke rumah. Tetapi bukankah ini berbahaya? Bagaimana jika ternyata aku tidak pulang dan ibu ketiduran? Ah sudahlah. Yang penting sekarang aku sudah pulang.

Aku melihat ibu tertidur di kursi ruang tamu. Beliau sudah jelas menungguku. Terlihat raut kelelahan di wajah beliau. Sampai-sampai tidak mendengarku masuk ke dalam rumah. Aku tidak ingin membangunkannya. Maka kuputuskan untuk menuliskan pesan di secarik kertas.

“Ibu, aku pulang. Tetapi ibu sepertinya lelah sekali. Aku tidak ingin membangunkan ibu. Aku pergi lagi sebentar. Mungkin subuh nanti aku sudah pulang lagi. Ibu tidur saja, jangan menungguku.”

Kuletakkan kertas itu di meja ruang tamu. Agar ibu dapat membacanya begitu matanya terjaga. Kucium kening ibuku. Aku tidak tahu mengapa aku ingin melakukannya. Lalu aku keluar rumah, meninggalkan perempuan yang sangat kucintai itu.

“Yuk!” ajakku pada Laras.

Aku naik ke motorku lagi dan menyalakan mesinnya. Laras naik di belakangku. Segera kulajukan motorku menuju tempat tadi aku bertemu dengan Laras sesuai dengan ceritanya.

Jalan masuk menuju hotel di turunan itu sudah di depan mata. Ada pos penjagaan di sana. Aku membiarkan Laras turun ketika ia memintanya. Kulihat ia berbicara dengan penjaga, yang kemudian membuka portal untuk kami.

Aku hampir setiap hari melewati tempat ini. Tetapi aku tidak pernah melihat ada pos penjagaan di sini. Keheranan tadi belum sempat terjawab, aku sudah dibuat terbelalak oleh pemandangan di hadapanku saat ini. Bangunan gedung bertingkat yang berdiri kokoh di hadapanku. Jika melihat dari arsitektur bangunan, aku bisa menebak ini adalah hotel bintang 5. Atau minimal bintang 4.

Belum lagi tamannya. Sangat indah. Aku belum pernah melihat taman seindah itu. Laras menyuruhku berhenti di dekat taman. Aku menurut.

“Tempat apa ini?” tanyaku.

Aku hanya ingin mendapat banyak penjelasan darinya. Rasa penasaran sudah menyerangku sedari tadi. Yang kubutuhkan hanya jawaban yang masuk akal.

Laras menunjuk pada plang di dekat taman yang menjorok ke jalan. Plang nama hotel dengan lampu-lampu yang mengitari tulisan itu. Benarkah ini hotel angker itu? Mungkin orang-orang yang salah menilainya. Mereka tidak benar-benar masuk ke dalamnya. Mereka pasti hanya membuat isu-isu palsu.

Laras mengajakku duduk di bangku taman.

“Indah ya,” ujarnya.

Aku mengangguk. Ia tersenyum padaku. Laras mengajakku ke tepi taman yang menjorok ke jalan. Ia menunjuk pada hamparan pemandangan jauh di depan kami. Kota Semarang terlihat dari sini. Lampu-lampu berkilauan seperti bintang. Aku bisa melihat Masjid Agung dengan kubahnya yang megah, rumah-rumah yang mungkin jumlahnya ratusan, dan aku juga dapat melihat laut yang berwarna gelap. Indah sekali.

Laras mengatakan ia senang bertemu denganku. Ia menganggapku teman barunya.

“Kamu harus berjanji akan sering menemuiku di sini,” pintanya.

“Aku tidak bisa berjanji. Tetapi aku akan berusaha.” Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku dapat mengatakan hal ini. Tetapi tidak apa-apa. Laras orang yang baik.

“Lihat! Matahari hampir muncul,” serunya menunjuk pada ujung laut yang jauh di hadapan kami.

Memang matahari sudah terlihat menyembul di permukaan laut yang gelap.

“Jam berapa ini?” tanyaku.

Ternyata aku sudah terlalu lama di sini. Aku ingat pada ibu di rumah.

Tiba-tiba Laras memelukku. Aku baru mengenalnya tetapi aku merasa nyaman dengan pelukannya. Aku pun membalas pelukan itu. Mendekapnya dengan erat. Tetapi aku merasakan sesuatu yang aneh. Tapi apa itu? Aku masih berusaha berpikir.

Detak jantungnya! Ya, aku tidak merasakan detak jantungnya. Dengan berpelukan seperti ini, dengan tubuh sedekat ini, seharusnya aku bisa merasakan detak jantungnya.

Segera kulepaskan pelukannya. Secepat mungkin aku berlari menuju pintu masuk yang tadi aku lewati. Aku meninggalkan motorku. Aku sudah tidak mempedulikannya.

Lho? Mengapa tidak ada pos penjagaan? Aku mengacuhkannya dan terus berlari. Kini aku sudah berada di pinggir jalan raya.

Aku celingukan. Tidak ada kendaraan yang berhenti karena lambaian tanganku. Aku hanya ingin menumpang sampai ke bawah. Ke tempat ramai. Segera meninggalkan tempat menakutkan di belakangku tadi. Dan meninggalkan Laras.

Sesaat kemudian aku melihat beberapa kendaraan berhenti di pinggir jalan. Membentuk kerumunan. Ada apa ya? Ah apapun. Yang penting tempat itu ramai. Aku pun berlari menuju kerumunan itu.

“Kasian sekali dia. Di sini memang rawan perampokan. Dia pasti pulang sendirian semalam,” ujar seseorang di antara kerumunan itu.

Dia? Dia siapa?

Semakin banyak orang yang penasaran ingin melihat. Kemudian aku mendengar sirine mobil polisi semakin mendekat.

Aku mendengarkan dengan seksama percakapan mereka. Aku masih belum ingin masuk ke dalam kerumunan. Aku hanya ingin pulang. Aku bahkan tidak peduli lagi jika itu ternyata Laras. Sebenarnya bukan tidak peduli. Aku takut mendapati seseorang yang menjadi korban pembunuhan adalah benar-benar Laras.

“Di sini kalau malam memang gelap sekali. Saya saja takut lewat malam-malam,” kudengar samar-samar seseorang mengatakannya.

Semakin banyak yang kudengar, rasa penasaranku semakin menjadi. Kuputuskan dengan sengaja mendengarkan seluruh percakapan yang ada.

“Saya juga sering mendengar ada yang dibacok terus dirampok di sini,” ujar seseorang.

“Barangkali dia juga mengalami hal yang sama. Kasian sekali. Dia masih sangat muda,” timpal yang lain.

Muda? Aku mengingat Laras. Manusia macam apa yang tega menyakiti perempuan semanis Laras. Bahkan membunuh dan membuangnya seperti itu. Benar-benar biadab!

Aku mendengar suara sirine lagi. Kali ini mobil ambulans. Mobil itu melintas di depanku.

Aku berusaha lebih dekat ke kerumunan. Tidak mencoba menerobos masuk. Hanya memperhatikan di pinggiran. Kulihat petugas medis menurunkan tandu.

Polisi menyuruh orang-orang menyingkir. Mereka akan mengamankan TKP. Seseorang diangkat dari selokan. Aku masih belum dapat melihat dengan jelas.

Petugas medis mengangkatnya ke tandu. Kini aku bisa melihatnya dengan jelas. Seseorang yang tewas itu tidak menggunakan rok seperti yang Laras kenakan. Ia tidak berambut panjang seperti rambut Laras. Dan ia bukan perempuan.

Aku mengenalinya. Pakaian itu, tas itu, sepatu itu. Mengapa ia menggunakan semua milikku? Mengapa ia mirip denganku?

Aku masih mematung di tempatku. Seketika aku tidak dapat bergerak. Aku tak dapat merasakan tubuhku sendiri. Seseorang berdiri tepat di sampingku, menggenggam tanganku. Aku menoleh. Laras?

“Kamu dirampok semalam. Perampok itu menikammu. Mereka melemparkanmu di selokan. Motor dan benda-benda berhargamu dibawa pergi,” ujar Laras lirih.

Aku mengikuti Laras. Kami melangkah masuk lagi ke dalam kawasan hotel. Sudah tak kupedulikan lagi siapa Laras. Yang pasti, saat ini kita adalah teman.

Ibu, maafkan aku. Selamat tinggal.