Petualangan Dua Sahabat



“Tanggal berapa sekarang?”

“Entahlah. Kau pikir aku memiliki kalender? Sekalipun memilikinya, kau pikir aku bisa membaca tanggal?”

“Halah, apa sih yang kau bisa?”

Aku tertawa. Ledekan seperti itu sudah biasa ia lontarkan untukku. Aku tidak pernah tersinggung karenanya. Lagipula, hal itu benar. Jelas saja aku tidak bisa membaca. Aku tidak pernah merasakan bangku sekolah seumur hidupku. Seumur hidup? Memangnya sudah berapa lama aku hidup? Dalam hati kutertawakan diriku sendiri.

“Mengapa kau menanyakan tanggal hari ini? Bukankah semua hari sama saja?” tanyaku penasaran.

“Aku hanya merasa nanti malam akan ada acara besar di Jalan Pahlawan sana.”

Tempat tinggal kami memang tidak jauh dari pusat keramaian Kota Semarang, yaitu Jalan Pahlawan Semarang tepatnya. Dan sepertinya apa yang ia katakan kemungkinan besar benar terjadi. Saat matahari baru sedikit bergerak ke arah barat saja, sudah terlihat banyak orang berlalu-lalang di jalan itu. Dan lagi, yang banyak terlihat oleh kami adalah orang-orang yang berjajar menunggu dagangan mereka yang berupa benda-benda berbentuk corong dengan rumbai di sana-sini yang jika dimasukkan ke dalam mulut akan mengeluarkan bunyi “Preeet... Preeet...” Entahlah apa namanya itu. Selain itu, juga ada topi-topi berbentuk kerucut yang juga menjadi dagangan mereka.

Kita harus ke sana nanti malam. Aku ingin menyaksikan keramaian seperti apa yang akan terjadi. Kau pasti juga tidak akan melewatkannya bukan?” ajak sahabatku menggebu-gebu.

“Kau tidak ingat apa yang dikatakan oleh orangtua kita? Hindari keramaian jika tidak ingin celaka!” Seperti bicara pada batu, percuma membelokkan pikirannya. Aku sudah lama mengenalnya, sehingga paham betul bagaimana ketika ia memiliki keinginan. Ia tidak akan berhenti sebelum mencapainya.

Sekarang ia memasang wajah memelas di hadapanku yang membuatku tidak tahan menahan tawa. “Baiklah, baiklah. Kita ke sana nanti malam.” Akhirnya aku luluh juga. Lagipula kupikir tidak ada salahnya mencoba hal baru. Toh sebenarnya aku juga penasaran. Malam ini pasti akan menjadi pengalaman menarik untukku dan sahabatku. Asalkan kami berhati-hati, sesuatu yang buruk tidak akan terjadi.

“Tapi bagaimana kita bisa pergi ke sana tanpa ketahuan?” Tiba-tiba aku menyadari masalah baru untuk rencana kami.

“Ah gampang, kita bilang saja, bahwa kita akan mencari makan, seperti biasanya. Toh itu bukan kebohongan.” Benar kata sahabatku, kami memang terbiasa mencari makan pada malam hari. Karena akan lebih leluasa untuk mendapatkannya. Dan yang paling penting, menghindari keramaian. Hal seperti ini sudah diwanti-wantikan oleh orangtua kami sejak kami kecil. Dan hal ini selalu kami turuti sampai sekarang. Jadi, untuk kali ini bolehlah kami sedikit melenceng dari aturan. Kami akan berjanji pada diri sendiri untuk tetap berhati-hati.

“Pintar juga kau! Itu memang bukan kebohongan, hanya tidak menceritakan secara keseluruhan.”

***

Di rumah masing-masing, kami menanti matahari semakin bergerak ke arah barat. Menyisakan pendar jingga di langit sana. Pelan tapi pasti gelap menggantikan jingga. Pertanda malam sudah tiba.

“Carilah banyak makanan dan makanlah sampai kau kenyang. Ingat, jangan pergi terlalu jauh dan hindari keramaian. Bahkan jika satu-dua orang terlihat mengancam, segera lari! Tidak perlu kau uji kehebatanmu dengan menyerang mereka! Tidak perlu membuktikan bahwa gigitanmu sekuat baja!”

Seperti biasa, sebelum pergi keluar rumah, ibu pasti memberikan peringatan untukku agar berhati-hati di jalan. Sampai-sampai jika aku harus mengulang apa yang dikatakannya, aku dapat mengatakannya dengan sangat lancar, karena ia selalu mengulangnya setiap hari. Tetapi kali ini aku memutuskan untuk diam saja dan mendengarkan, agar tidak memancing kecurigaan ibu yang bisa jadi memunculkan rentetan pertanyaan setelahnya. Aku tidak ingin direpotkan oleh pertanyaan-pertanyaan itu karena ingin segera pergi.

Setelah selesai mendengar peringatan dari ibu, dan juga berpamitan dengan ayah, aku segera menghampiri rumah sahabatku yang tidak jauh dari rumahku.  Kami siap dengan petualangan baru malam ini.

“Kau harus berjanji padaku, kita tidak akan pergi terlalu jauh dan sebisa mungkin tidak terlalu dekat dengan keramaian, oke?” pintaku padanya saat kami berjalan bersisihan menuju tempat Jalan Pahlawan. Sebenarnya aku hanya menyampaikan kembali peringatan ibuku padanya.

“Kau ini laki-laki kan? Mengapa harus mencemaskan banyak hal? Ini hanya keramaian, bukan perang. Apa sih yang kau takutkan?” Lagi-lagi ia meledekku.

Tetapi benar apa katanya. Apa yang harus aku cemaskan? Ketakutanku sepertinya berlebihan. Seharusnya aku bersuka ria seperti dirinya. Baiklah, sebaiknya kuteguhkan minatku pada rencana malam ini. Aku hanya akan membayangkan hal-hal menyenangkan yang akan kami alami nanti.

“Wow, ini menakjubkan! Apa kubilang, malam ini pasti sangat menyenangkan.” Sahabatku langsung berdecak kagum melihat banyaknya orang dan kemeriahan yang mereka ciptakan begitu kami tiba di Jalan Pahlawan. Begitu pun aku. Belum pernah kulihat orang-orang sebanyak ini yang sedang berkumpul. Suara mereka yang saling bertumpuk terdengar sampai ke telingaku. Padahal jarak kami masih jauh.

“Ayo cepat!”

“Tunggu!” Aku menyusul sahabatku yang sudah lebih dulu berlari mendekat ke arah keramaian. Sungguh ia tidak bisa bersabar sedikit saja.

Kami berhenti di pinggir selokan besar di samping Jalan Pahlawan. Kami dapatkan tempat yang tidak terlalu diperhatikan oleh orang-orang. Apalagi ditambah gelapnya tempat itu. Kehadiran kami pasti tidak akan menarik perhatian.

Tetapi baru saja kami berhenti, sahabatku sudah berlari lagi.

“Hei kau mau kemana?” teriakku padanya yang semakin menjauh.

“Lihat!” Ia menunjuk kacang rebus dalam kantong kertas berbentuk kerucut yang tergeletak di jalan. Kantong berisi kacang rebus tersebut sudah pasti ditinggal oleh pemiliknya, karena di dekatnya sudah tidak ada orang lagi.

Tanpa berpikir panjang, kami memakan kacang rebus itu dengan rakus. Semacam tidak pernah makan selama seminggu saja. Tapi ini memang sudah kami rencanakan. Kami sengaja tidak makan apapun di rumah karena menurut prediksi sahabatku ini, di sini kami akan menemukan banyak makanan. Lagi-lagi prediksinya tepat.

“Sudah! Jangan terlalu kenyang, nanti kau tidak bisa mencoba makanan lain!” Belum juga semua kacang itu kami habiskan, sahabatku mengajakku ke dekat selokan lagi – tempat awal kami tadi. Aku menurut saja. Kata-kata ‘makanan lain’ menggodaku. Mungkin saja kami akan menemukan makanan yang belum pernah kami coba sebelumnya.

Di tempat persembunyian ini, kami dapat mengamati dengan jelas kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang di keramaian sana.

“Mengapa dari tadi aku tidak melihat benda bermesin lewat ya?” tanyaku penasaran.

“Oh, kendaraan maksudmu? Iya juga sih. Semua orang berjalan kaki. Bukankah selama ini mereka menggunakan kendaraan saat melintasi jalan ini?” Ternyata sahabatku sama tidak mengertinya denganku.

Tetapi kemudian ia melanjutkan, “atau mungkin mereka meletakkannya di suatu tempat, karena malam ini di jalan ini khusus untuk mereka yang berjalan kaki.”

Aku mengangguk-angguk. Penjelasannya masuk akal juga.

“Atau jalan ini sengaja ditutup dari kendaraan, khusus untuk acara malam ini.” Aku mencoba memberikan kesimpulan lain. Kali ini sahabatku yang mengangguk-angguk membenarkan.

“Aku bosan. Bagaimana jika kita berjalan ke arah sana?” Sahabatku menunjuk tempat lain yang jauh di sana.

“Tapi itu terlalu jauh.” Aku mulai cemas.

“Ayolah, kan hanya malam ini saja. Lihat! Orang-orang berjalan ke arah sana. Kau mau lihat apa di sini? Sudah mulai sepi begini.” Aku melihat sekeliling. Hanya tersisa beberapa orang yang duduk-duduk sambil mengobrol di sepanjang jalan. Beberapa dari mereka sedang menikmati minuman di gelas plastik yang dijual oleh seorang ibu dengan gerobak kecil yang berisi minuman-minuman kemasan sachet yang bergelantungan di dalamnya dan sebuah termos berisi air panas.

Di satu sisi aku mulai takut, tapi di sisi lain aku pun sama penasarannya dengan sahabatku ini. Akhirnya lagi-lagi aku mengikuti saja kemauan sahabatku. Kami berjalan ke arah tempat yang ditunjuknya, yang kemudian ku tahu bernama Simpang Lima. Nama itu kudengar dari percakapan orang-orang yang sama-sama berjalan ke arah sana.

Tiba-tiba aku bergidik ngeri saat melihat gerombolan orang di pinggir jalan yang di leher mereka dililit ular-ular phyton besar. Bahkan beberapa anak kecil pun tanpa rasa takut ikut melakukannya. Iguana dan biawak juga disayang-sayang selayaknya hewan yang menggemaskan. Aku dibuat lari terbirit-birit saat salah satu dari ular phyton tersebut melihat ke arahku dan mulai turun dari leher orang yang ia lilit. Sebelum nyawaku benar-benar terancam, lebih baik aku lari menjauh.

“Kenapa kau lari meninggalkanku?” protes sahabatku saat berhasil menyusulku.

“Kau tidak lihat ular, iguana, dan biawak tadi?” Ekspresi ngeriku sudah tidak dapat kusembunyikan lagi. Tetapi apa yang kudapat? Sahabatku justru tertawa mendengar jawabanku. Aku tidak merasa ada hal yang lucu.

“Ya, aku melihatnya. Hewan-hewan itu sepertinya jinak. Lagipula orang-orang yang berada di sana tadi pastilah pecinta reptil. Jadi mereka dapat menjaga hewan-hewan mereka dengan baik.”

“Sejinak apapun mereka, tetap saja menyeramkan! Bagaimana jika tiba-tiba mereka merasa lapar? Jika kita lengah, kita bisa dimakannya.” Aku masih tidak habis pikir dengan pola pikir sahabatku ini. Ia begitu santai menanggapi ketakutanku, yang seharusnya menjadi ketakutannya juga.

“Sudahlah, tidak usah dipikirkan lagi. Toh kita sudah jauh dari mereka. Ketakutanku sangat berlebihan.”

Kemudian kami memutuskan beristirahat di pinggir selokan. Masih di Jalan Pahlawan. Ya! Selokan besar memang berada di sisi kanan dan kiri di sepanjang Jalan Pahlawan Semarang sampai ke Simpang Lima.

Kali ini akulah yang pertama kali mencium bau makanan. Ku lihat sesuatu  yang kuyakini bahwa itu makanan lezat, tergeletak begitu saja di jalan. Entah apa itu namanya. Setangkup roti dengan sayuran berwarna hijau dan merah di dalamnya. Aku juga melihat selembar daging tipis menyembul di antara sayuran. Liurku sempat menetes saat membayangkan alangkah lezatnya makanan itu.

Tetapi ternyata aku harus menelan kecewa. Saat tubuhku sudah hampir mencapai makanan yang tinggal separuh itu, saat hidungku sudah sangat dekat mencium bau sedap dari makanan itu, seseorang menatap jijik padaku, kemudian mengusirku. Yang ia lakukan kemudian adalah memungut makanan incaranku dan membuangnya ke tempat sampah. Apa bedanya dengan kumakan? Sama-sama habis kan? Tidak bisakah orang itu sedikit berbaik hati padaku? Ingin rasanya bergerak cepat ke tempat sampah itu untuk mengambil makanan incaranku.

Sahabatku berhasil mencegahku melakukannya. Katanya, sehari-hari kami selalu mencari makanan di tempat sampah. Seharusnya malam ini kami bersenang-senang dengan makanan separuh bersih. Paling tidak yang tergeletak di jalan. Menikmati makanan dengan level yang lebih tinggi, katanya. Ada-ada saja dia.

Saat kembali mengamati keadaan sekitar, aku  melihat sepasang muda-mudi yang sedang mengobrol sambil berpegangan tangan di seberang jalan. Muncul ide isengku untuk menggoda sahabatku.

“Kau tidak iri dengan mereka?”

“Mereka? Siapa?” Sahabatku tampak bingung, tidak mengerti apa yang aku maksud. Ia celingukan mencari objek yang sekiranya menunjukkan maksudku.

Geli melihat ia masih tidak juga paham, aku menunjuk sepasang muda-mudi yang sebelumnya aku perhatikan. Sahabatku langsung merengut kesal.

“Kau tidak mengajaknya dalam petualangan kita malam ini? Siapa tahu kalian bisa lebih dekat.” Yang aku maksud adalah perempuan yang disukai sahabatku. Ya! Aku lebih senang menyebutnya perempuan yang disukai sahabatku, karena yang kutahu mereka tidak pernah menyatakan menjadi sepasang kekasih atau semacamnya.

Sebenarnya aku tidak benar-benar ingin sahabatku mengajak perempuan yang ia sukai itu. Aku hanya ingin menggodanya saja. Lagipula tidak seru jika petualangan pertama kami malam ini harus diikuti oleh seorang perempuan.

“Ia bilang malam ini sudah memiliki rencana sendiri.”

“Ah, gaya sekali dia! Berarti kau sudah mengajaknya? Tanpa memberitahuku terlebih dulu?” Sekarang giliran aku yang kesal.

“Salah ya? Aku pikir kau akan setuju saja.”

“Sudah sudah. Jangan membahas dia!” Niat awalku menggoda sahabatku, malah aku yang akhirnya kesal sendiri. Lebih baik pembicaraan seperti ini dihentikan saja. Sahabatku hanya tertawa melihat tingkah lakuku yang seperti anak-anak jika sedang kesal.

SYUUUUUUT DUAR! DUAR! DUAR!

Kami terlonjak kaget ketika mendengar suara-suara bising yang disusul dengan kilatan-kilatan kerlip  yang seperti menyembur dan tersebar di langit. Kilatan selanjutnya saling menyusul dan membuat langit gelap menjadi meriah. Bagi kami yang tidak bisa membedakan warna ini, percikan-percikan kerlip itu tetap saja indah. Apalagi kami belum pernah melihat hal seperti itu sebelumnya.

Orang-orang bersorak-sorai. Ditambah bunyi-bunyian ‘PRET PREEET’ yang berasal dari benda berbentuk corong yang ditiup serempak. Banyak juga orang yang memegang kawat lurus dengan percikan-percikan kerlip yang sama seperti yang berada di langit sana, hanya saja ini lebih kecil. Mereka memutar-mutarnya di udara sampai percikan kerlip itu benar-benar mati.

Suasana menjadi semakin ramai. Aku mendengar banyak tawa gembira. Bahkan beberapa dari mereka meloncat-loncat seperti hendak menggapai percikan kerlip di langit. Ini membuat kami bergerak semakin mundur, lebih dekat dengan selokan yang gelap, agar tidak terlalu mencolok di antara keramaian yang ditimbulkan orang-orang.

Kami memandang takjub keindahan di langit yang tadi sempat membuat jantung kami hampir lepas. Malam ini benar-benar tidak terlupakan. Aku akan sangat menyesal jikalau tadi menolak ajakan sahabatku untuk datang ke sini. Ketakutan-ketakutan yang sedari awal menghantuiku perlahan sirna, digantikan oleh rasa senang yang tidak terkira.

“Sepertinya sudah cukup malam ini.” Aku berniat mengajak sahabatku pulang setelah kerlap kerlip di langit semakin lama semakin berkurang jumlahnya.

"Tunggulah sebentar lagi.” Sahabatku masih saja memohon untuk tetap tinggal lebih lama di sini.

“Apa lagi yang akan kau tunggu? Kemeriahan sudah selesai. Orang-orang saja sudah mulai bubar. Kita juga sebaiknya segera pulang.”

“Justru itu! Akan banyak makanan tergeletak yang bisa kita temukan. Kita dapat memakannya dengan tenang tanpa diusir seperti yang kau alami tadi.”

Menurutku itu ide yang bagus. Setelah kacang rebus yang hanya beberapa butir itu, perutku minta diisi lagi. Aku ingin perutku penuh saat pulang nanti. Agar orangtuaku di rumah tidak curiga karena alasanku pergi adalah mencari makan. Akan sangat mencurigakan jika aku pulang dalam keadaan masih lapar setelah pergi dalam waktu selama ini.

“Baiklah, kita menunggu sambil berjalan pulang. Perlahan-lahan saja sambil mencari makanan.” Aku membuat keputusan.

Kami berjalan perlahan sembari menunggu keramaian yang mulai terurai. Benar saja, kami melihat banyak makanan yang tergeletak begitu saja di jalanan. Kami memulai sebuah tempat di sebelah gerobak dengan pemiliknya yang sedang mencuci mangkuk-mangkuk kotornya. Beberapa bulatan berwarna abu-abu dengan urat yang menonjol, tergeletak tak jauh dari gerobak. Mungkin jatuh saat ada yang akan memakannya. Itu menjadi rejeki kami sekarang. Ah, lezatnya...

Kemudian aku melihat lagi setangkup roti dengan sayuran dan selapis daging seperti yang sebelumnya aku lihat. Tanpa pikir panjang, aku berlari menghampirinya. Sahabatku mengikutiku di belakang. Setelah menengok ke kanan dan ke kiri untuk berjaga-jaga, kami langsung menyantap habis makanan yang tinggal secuil itu.

Kami terduduk kekenyangan di dekat gelapnya selokan. Perut kami sudah benar-benar penuh sekarang. Yang paling penting, kami puas dengan petualangan malam ini. Petualangan yang tidak akan kami lupakan seumur hidup. Kami akan menceritakan pada teman-teman nanti sesampainya di rumah. Pasti mereka akan iri mendengarnya dan ingin mengalaminya sendiri.

Sepintas aku melihat perempuan yang kami kenal melintas di seberang jalan. Tepatnya di semak-semak yang tumbuh di pembatas jalan yang memisahkan jalur kanan dan kiri Jalan Pahlawan. Kuperhatikan ia dengan seksama. Ternyata itu adalah perempuan yang disukai oleh sahabatku. Perut gembulnya tidak bisa menipu mataku. Ia berhenti di antara semak-semak, yang kemudian ia korek-korek. Seperti mencari sesuatu, mungkin makanan, seperti yang biasa kami lakukan. Aku menyenggol sahabatku untuk memberitahu apa yang sedang kulihat.

Sahabatku yang melihat perempuan yang disukainya sedang mengorek di antara semak-semak terlihat tidak tega. Terlepas bahwa sebenarnya perempuan yang disukainya telah berbohong padanya. Ternyata acara yang ia maksud adalah berkeliling di sini malam ini, sama seperti yang aku dan sahabatku lakukan.

Ia sontak berlari ke arahnya. Mungkin ingin mempertanyakan pada perempuan yang disukainya itu mengapa menolak ajakannya ke tempat ini, sedangkan ia sendiri sebenarnya telah berencana pergi ke tempat yang sama.

Aku memilih untuk tidak ikut bersamanya. Untuk apa berada di dekat mereka jika hanya untuk melihat mereka bermesraan. Lebih baik aku menunggu di sini saja. Walaupun tidak kupungkiri, aku tetap memperhatikan gerak-gerik mereka.

Aku tidak dapat melihat mereka dengan jelas, tapi dapat kuperkirakan bahwa sepertinya mereka sedikit bersitegang. Yang membuatku heran adalah sejurus kemudian mereka sudah saling mendekat dan berpelukan. Sebegitu cepatkah? Ah urusan percintaan memang tidak mudah dipahami. Apa karena aku belum pernah mengalaminya sendiri ya? Ah, entahlah. Aku tidak mau ambil pusing oleh urusan percintaan seperti itu. mengurus diriku sendiri saja aku masih sangat kerepotan, apalagi jika aku menyukai perempuan. Bagaimana aku harus mengurusnya? Kugelengkan kepalaku keras-keras untuk menghilangkan hal-hal yang mengacaukan pikiranku saat ini.

Aku kembali fokus pada sahabatku dan perempuan yang disukainya. Kulihat mereka berjalan semakin menjauh dari pandanganku sambil melihat ke sana ke mari. Mungkin mencari makanan yang tergeletak di jalan. Sahabatku tak akan membiarkan perempuan yang disukainya kelaparan. Aku rasa penantianku ini akan panjang. Mengingat mereka pastilah tidak hanya mencari makan. Bercanda dan mengobrol di jalan tidak akan mereka lewatkan. Aku tinggal berharap saja, sahabatku tidak akan melupakanku yang menunggunya di sini.

Setelah sekian lama menunggu, sampai aku merasa sangat bosan, akhirnya kulihat mereka di kejauhan. Semakin lama mereka semakin dekat. Ini membuatku lega. Berarti setelah ini aku dapat pulang dan beristirahat di rumah. Aku sudah sangat lelah.

Aku memberinya kode untuk cepat berlari ke arahku. Ia menurut. Di belakangnya, perempuan yang disukainya tampak bersusah payah berusaha mengikuti langkah sahabatku yang panjang-panjang. Apalagi perut gembulnya yang memantul saat ia berlari. Hal itu semakin memperlambatnya.

Aku berteriak histeris saat ia dan perempuan yang disukainya melintasi jalan raya untuk menuju tempatku berdiri. mereka menyeberang jalan begitu saja tanpa melihat ke sekeliling terlebih dahulu. Sebuah kendaraan polisi yang melaju kencang melindas tubuh sahabatku dan juga perempuan yang disukainya. Aku terperanjat di tempatku berdiri. Tidak mampu bergerak mendekati tubuh mereka yang telah hancur dan terbujur kaku. Tidak hanya darah yang ada di sekeliling tubuh mereka, organ-organ dalam mereka pun tampak mencuat keluar. Aku tak kuasa melihat keadaan seperti itu.

Polisi itu menghentikan kendaraan roda duanya. Kemudian menghampiri tubuh hancur sahabatku dan perempuan yang disukainya.

“Oalah, cuma tikus. Hahaha, hebat juga motorku, sekali lindas langsung dapat dua.” Dengan sepatunya yang masih melekat di kaki, polisi itu menyingkirkan tubuh sahabatku dan perempuan yang disukainya secara bergantian ke pinggir jalan. Tubuh sahabatku dan perempuan yang disukainya yang sudah hancur semakin terlihat tidak keruan.

Aku bergerak mundur agar tidak terlihat oleh polisi itu. Tetapi tetap kuperhatikan tubuh keduanya. Hampir saja aku mual karena menahan sesak di dada melihat sahabatku diperlakukan seperti sampah. Aku tidak tega melihat keadaan mereka.

“Pak... pak... tolong ini diambil terus dibuang ke tempat sampah ya. Kalau sampai terlindas kendaraan lain, jalanan bisa kotor,” instruksi polisi tersebut pada seseorang berseragam petugas kebersihan.

“Nanti saya kubur saja pak, kalau hanya dibuang di tempat sampah, takutnya akan menyebarkan penyakit,” jawab petugas kebersihan itu.

“Baiklah. Terserah bapak saja bagaimana baiknya. Tikus-tikus ini tubuhnya hancur di jalan situ, tolong jalannya dibersihkan sekalian,” lanjut polisi itu memberikan perintah tambahan sambil membersihkan sepatunya yang belepotan darah sahabatku dan juga perempuan yang disukainya dengan plastik bekas yang ia pungut di sekitar situ.

Tubuh sahabatku dan perempuan yang disukainya kemudian diangkat oleh petugas kebersihan itu dengan ekor terlebih dahulu. Kemudian ia melemparkan mereka begitu saja ke dalam gerobak sampah. Aku tidak mampu menyelamatkan mereka. Bahkan aku tidak sanggup untuk bergerak mendekati mereka hanya sekedar untuk mengucapkan selamat tinggal.

Petugas kebersihan dan gerobaknya semakin lama semakin jauh dari pandanganku. Secepat kilat aku berlari pulang. Sudah tidak terpikir olehku bagaimana aku harus menjelaskan kejadian ini pada orangtua sahabatku dan orangtua perempuan yang disukai oleh sahabatku.

Aku bersumpah tidak akan pernah kembali ke tempat itu.

Review : Laki-Laki Pemanggul Goni, Sarat Kritik Sosial-Budaya Indonesia



Laki-Laki Pemanggul Goni
Cerpen Pilihan Kompas 2012

Penerbit Buku Kompas, Juni 2013 
 Perancang ilustrasi : Amrizal Salayan
 Perancang sampul : Wiko Haripahargio
 Jumlah halaman : xvi + 268 halaman
 ISBN : 978-979-709-724-0







Berawal dari tweet Bernard Batubara yang menunjukkan bahwa ia sedang membaca antologi cerpen "Laki-Laki Pemanggul Goni", dan mengatakan bahwa buku ini bagus. Maka tergodalah saya untuk memilikinya.

Gayung bersambut. Ketika mengunjungi Pesta Buku yang diadakan di Gedung Wanita Semarang, bulan November lalu, mata saya langsung tertuju pada penampakan buku ini di stand Kompas. Karena masuk dalam pesta buku, harganya pun jadi miring (yeah!). Saya mendapatkan diskon 20% + 20% karena menggunakan KTM (padahal saat itu posisi saya sudah lulus kuliah). Demi diskon buku, maapkan saya...

Buku itu belum juga saya baca, karena saya menghabiskan buku-buku yang lain dulu. Tetapi tak lama setelah itu, muncullah daftar buku bagus yang dibuat oleh Bernard Batubara dalam postingan di blognya yang berjudul Mencari Buku untuk Dibaca? yang membuat saya makin tidak sabar untuk membacanya.

Karena buku ini adalah antologi cerpen, saya jadi bisa membacanya sedikit demi sedikit. Paling tidak satu-dua cerpen satu harinya (lamban ya?). Dan barulah kemarin buku ini selesai saya baca seluruhnya.

20 cerpen yang ada dalam buku sukses membuat saya berdecak kagum saat membacanya. Tulisannya begitu rapi dan mengalir, dengan ide cerita yang sangat bagus. Pada intinya, sebagian besar cerpen di sini merepresentasikan potret sosial-budaya Indonesia yang dikemas apik dan penuh kritik oleh penulisnya:

Budi Darma, Seno Gumira Ajidarma, Mashdar Zainal, Agus Noor, Martin Aleida, Noviana Kusumawardhani, Emil Amir, Dwicipta, Triyanto Triwikromo, Indra Tranggono, A Mustofa Bisri, Arswendo Atmowiloto, Linda Christanty, Sandy Firly, Guntur Alam, Norman Erikson Pasaribu, Komang Adnyana, GM Sudarta, dan Dewi Ria Utari. 

Bagaimana?
Ada nama yang kalian kenal?

Pasti dong?! Karena sebagian dari mereka adalah senior dalam bidang sastra yang sudah tidak bisa diragukan lagi kemampuannya dalam menulis.

Laki-Laki Pemanggul Goni yang menjadi judul buku ini sendiri adalah cerpen dari Budi Darma. Mengapa cerpen ini yang menjadi judul? Karena setelah tahap seleksi yang panjang, juri memutuskan cerpen ini menjadi karya utama karena memenuhi sejumlah syarat pokok sebagai cerita pendek yang sangat baik.

Yang paling menarik adalah kritik yang diberikan oleh Maman S Mahayana di bagian epilog. Jumlahnya kira-kira 65 halaman penuh berisi kritik dan penjelasan untuk cerpen-cerpen yang ada dalam buku ini. Maman S Mahayana sangat kritis dalam memberikan kritik. Pedas memang, mungkin akan membuat panas untuk penulisnya. Tetapi semua kritik yang diberikan ada dasarnya. Sehingga pastilah dapat dijadikan pembelajaran untuk penulisnya dan juga untuk pembaca seperti saya. 65 halaman tidak terasa membosankan. Karena saya justru merasa bagian inilah yang paling seru.

Tanpa bagian epilog ini, mungkin saya hanya terkagum-kagum pada cerpen-cerpen yang ditulis dengan mengambil makna menurut saya sendiri. Bagian ini benar-benar memberikan saya pemahaman lebih dan menunjukkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan penulisnya. Intinya, saya belajar banyak!

4 bintang dari 5 bintang untuk buku ini. Cocok untuk kalian yang sedang menggeluti penulisan cerpen atau senang menuliskan review. Dan untuk pembaca umum, sangat banyak problem sosial-budaya Indonesia yang dapat memberikan kita pelajaran dan pengetahuan.

E-Learning - Belajar Asyik dengan Blog


https://www.facebook.com/indberprestasi


Apa itu E-Learning?

E-Learning adalah singkatan dari Electronic Learning, atau dalam pengertian yang lebih mudahnya, sistem pembelajaran elektronik.

Siapa di tahun 2013 yang belum mengenal internet, apalagi sosial media? 

Ya! Sebagian masyarakat Indonesia pastilah paham tentang internet. Bahkan mungkin sudah menjadi keseharian yang sulit untuk dilepaskan.

Jika sosial media sudah semacam mendarah daging, bagaimana dengan blog?

Blog adalah singkatan dari web log. Jadi, di dalam blog, pemiliknya dapat menuliskan apapun sesuka hati untuk kemudian di-share, ini dinamakan posting. Blog tersebut dapat diakses oleh semua orang, selama terdapat akses internet. 

Saat ini sudah banyak tersedia platform blog, ada blogspot, wordpress, tumblr, dll. Membuatnya pun sangat mudah. 

(image source: here)

Mengenalkan Blog Sejak Dini

Pernah melihat anak sekolah yang pulangnya sampai sore banget?
SERING!!!
WAH, ITU MAH TIAP HARI!!!
ADIK SAYA TUH! 

Semangat banget sih jawabnya... Oke! Oke!

Berarti boleh dong kalau saya menyimpulkan bahwa sebagian besar waktu anak sekolah dihabiskan bersama guru atau pengajar mereka?
Jadi, bagaimana jika blogging diajarkan sedini mungkin oleh guru-guru kepada siswa-siswanya? 

Kemudahan membuat blog tidak akan diketahui oleh seluruh anak Indonesia, jika tidak ada campur tangan orang dewasa yang membimbingnya. Mengapa harus ada bimbingan? Selain agar proses mempelajari bagaimana menjalankan blog menjadi lebih cepat dan terarah, juga karena internet adalah dunia yang keras. Saking banyaknya informasi yang tersedia di internet, bukan tidak mungkin anak-anak mendapati konten yang sebenarnya belum pantas ia baca/lihat (misal: situs dewasa).

Mungkin jika masuk dalam kurikulum masih sulit diterapkan, bagaimana jika blogging masuk dalam pelajaran tambahan?

Kemampuan Siswa tidak dapat Dipukul Rata

Tidak semua siswa jago dalam semua mata pelajaran. Siswa yang mahir matematika, belum tentu mahir dalam pelajaran seni. Begitupun sebaliknya. Setiap siswa memiliki pembawaan dan bakat masing-masing.

Di sinilah guru berperan penting. Guru haruslah peka terhadap sifat dan sikap siswanya. Apalagi tentang bakat terpendam siswa yang terkadang malu untuk ia perlihatkan. Dengan blog, guru dapat memancing siswa untuk menghidupkan bakatnya. Misalnya, siswa yang memiliki bakat menyanyi, dapat mengisi blognya dengan video/suaranya saat sedang bernyanyi atau siswa yang suka bercerita, dapat mengisi blognya dengan cerita-cerita yang ia buat sendiri.

Blog tidak harus diisi dengan postingan yang serius melulu. Ada kalanya dapat berisi kisah pribadi siswa sebagai lucu-lucuan atau menyalurkan kreatifitas siswa, seperti share video/foto bakat siswa, misalnya menyanyi, menggambar, bahkan untuk siswa yang mahir matematika dapat membuat tulisan mengenai rumus matematika cepat (informasi ini dapat membantu teman-temannya yang lain dalam mengerjakan soal matematika).


Menghidupkan Kolom Diskusi
Siklus tersebut hampir setiap hari diterapkan. Sehingga kesempatan untuk berdiskusi antara guru dan siswa menjadi terbatas. Akan berbeda ceritanya jika guru memiliki blog pribadi/sosial media yang dapat diakses dengan mudah oleh siswanya. Pertanyaan apapun dapat diajukan dalam sekejap. 

Jam di sekolah pun rasanya bisa dikurangi karena diskusi dapat dilakukan melalui blog/sosial media. Anak-anak jadi lebih banyak waktu di rumah bersama orangtua masing-masing. Lagipula, suasana jadi lebih santai.

Dapat Dibaca Semua Orang

Penting atau tidaknya sebuah informasi, itu tergantung pada siapa yang membacanya, bukan?

Nah, bagaimana jika tulisan yang dibuat oleh guru/siswa ataupun diskusi di antara keduanya tersebut dibaca oleh orang lain yang kemudian merasakan manfaatnya? Siapa yang tahu kan?

Jadi, guru dapat membuat pesannya sampai dengan baik pada siswanya, orang lain juga mendapatkan informasi baru yang bermanfaat. Siapa tahu orang lain dapat memberikan kritik atau masukan pada guru tentang metode pembelajaran yang sedang dibahas.

Guru yang Pandai Menulis dan Bercerita menjadi Nilai Plus

Seringkali kita (yang pernah merasakan menjadi siswa) bosan dengan tulisan-tulisan baku di buku paket pelajaran atau kalimat-kalimat moral yang melulu menggurui.

Padahal pesan moral dapat dimasukkan dalam sebuah cerita fiksi lho! Selain menjadikan kegiatan membaca menjadi kebiasaan, juga melatih siswa agar lebih kritis dalam mengambil makna dalam cerita. 

Coba perhatikan dua contoh di bawah ini:
 
Pertama
        "Mama, bunga ini spesial untuk mama." Seorang anak usia 7 tahun memberikan setangkai bunga mawar pada ibunya.
           "Terima kasih sayang. Kamu dapat darimana?" 
           Sontak anak itu menunjuk deretan bunga mawar bermekaran di taman.
         Dengan lembut, ibunya menggandeng anaknya kembali ke tempat di mana mawar itu tumbuh.
           "Sayang, coba lihat bunga ini, cantik kan?"
            Si anak mengangguk.
          "Tapi karena sudah kamu petik, cantiknya cuma bisa dinikmati mama. Padahal di taman ini banyak orang ingin melihat cantiknya. Lagipula, jika sudah dipetik, bunga ini akan mati sayang."
           "Maaf ma, aku tidak akan melakukannya lagi."
 
Kedua
 
"Jangan memetik bunga di taman!"
 
Apakah terlihat perbedaannya? 
 
Baiklah saya jelaskan lebih lanjut. Cara yang pertama, menggunakan cerita fiksi tanpa kata-kata JANGAN atau DILARANG atau TIDAK BOLEH yang terkesan memberikan batasan pada anak untuk berekspresi. Cara yang pertama lebih membebaskan anak untuk mendapatkan nilai/maknanya sendiri.

Sedangkan cara yang kedua, biasa kita temui di buku paket pelajaran atau papan larangan di taman itu sendiri. Lebih singkat memang, tetapi menjadikan anak-anak tidak tahu mengapa mereka tidak diperbolehkan memetik bunga tersebut. Sehingga terkadang justru mengundang anak-anak untuk melanggar aturan itu karena rasa ingin tahunya yang besar.

Melatih Siswa Lebih Banyak Membaca Buku

Dari tadi kita membahas tentang blog, lalu apa hubungannya dengan buku?
 
ADA!

Sekalipun sudah bergelut dengan kemajuan teknologi yang serba canggih, buku tetap harus menjadi pilihan untuk dibaca. Karena menurut saya, buku adalah karya yang tidak akan pernah mati, apalagi tergerus teknologi.
 
Yang saya maksud di sini tentu saja bukan buku paket pelajaran. Tetapi lebih ke buku cerita fiksi atau buku pengetahuan yang lain, misalnya ensiklopedia.

Maka dari itu, untuk meningkatkan minat baca siswa, guru bisa saja membuat postingan yang berisi review buku yang pas untuk siswanya. Karena terkadang, siswa bingung menentukan buku mana yang harus dibeli setelah melihat ribuan buku yang ada di toko buku. Sehingga ketika gurunya memberikan review dan rekomendasi buku, setidaknya siswa tahu buku mana yang harus dimiliki dan dibaca.

Review buku dapat menjadi selingan di sela-sela postingan guru yang mengarah pada pelajaran sekolah. Misalnya pada hari Sabtu dan Minggu. Sehingga dapat me-refresh otak siswa.

Sepertinya postingan ini sudah terlalu panjang. Jadi untuk mengakhirinya, saya memiliki pesan:

Blog itu asyik untuk dijadikan media pembelajaran...

Sepupu Satu Hobi

Saya yang sudah sekian lama tidak melakukan perjalanan jauh menggunakan kendaraan umum, beberapa hari yang lalu menerima ajakan mama untuk pergi ke Surabaya dengan bus. Tidak ada alasan khusus. Hanya mengisi awal liburan mama yang sehari-harinya sebagai guru PAUD.

Sampai di salah satu rumah saudara di Surabaya pada Jumat sore dan kembali ke rumah pada Senin pagi, banyak cerita yang saya dapatkan. Salah satunya adalah mengetahui bahwa saya memiliki sepupu yang satu hobi dengan saya: membaca dan menulis.

Girang? Pasti! Hobi membaca dan menulis seringkali membuat orang menjadi terkesan pendiam dan memiliki kehidupan sendiri, padahal sedang berada di tengah keramaian. Dan ketika menemukan orang dengan hobi yang sama, rasanya seperti menemukan teman seperjuangan. 

Namanya Putri Balqis Paramitasari. Kami memanggilnya Mita. 

Mita bersama mama dan adiknya

Sudah bertahun-tahun saya tidak berkunjung ke sana. Terakhir kali ketika Mita masih kecil. Lupa kapan tepatnya. Keluarga Mita sudah tidak menempati rumah yang sama seperti saat terakhir kali saya ke sana. Tetapi tidak lantas berpindah jauh. Rumahnya sekarang ada di sebelah rumah yang dulu.

Ketika melihat saya selalu membawa buku ketika bepergian dan asyik dengan buku saya ketika anggota keluarga yang lain menonton televisi, Tante Devi, mama Mita bercerita tentang hobi Mita yang sama seperti saya. 

Saya dibuat takjub dengan satu rak berisi penuh oleh buku-buku koleksinya (sayang saya tidak mengabadikannya dalam foto). Bukan hanya itu, Tante Devi juga menceritakan tentang hobi menulis Mita. 


salah satu tulisan Mita yang dimuat oleh Bobo

Andai saja saya masih bisa bertemu, bercengkrama, dan bertukar pikiran dengannya, mungkin akan sangat menyenangkan. Saling memberikan support dan saling berbagi koleksi buku juga sepertinya tidak akan terlewatkan. Tapi itu hanya seandainya...

Ya! Mita sudah tidak ada. Kanker paru-paru menjadi penyebab kepergiannya 3 tahun yang lalu. Ketika ia masih sangat muda, bahkan baru 10 hari menikmati menjadi siswa baru di salah satu SMP di Surabaya.

Mita, Mbak Dita bangga sama kamu. Dan kamu nggak perlu khawatir dengan koleksi buku dan tulisanmu. Mamamu merawatnya dengan baik sebagai kenangan atas sepeninggalmu.

Review: Cine Us - Halangan Menuju Impian Bukanlah Beban!


Judul : Cine Us
Penulis : Evi Sri Rezeki
Penyunting : Dellafirayama
Penyelaras Aksara : Novia Fajriani, @kaguralian
Penata Aksara : Nurul M Janna
Perancang Sampul : Fahmi Ilmansyah
Penggambar Ilustrasi Isi : Anisa Meilasyari 
Penerbit : teen@noura
Cetakan Pertama, Agustus 2013
ISBN : 978-602-7816-56-5
Tebal : 304 halaman
Harga : Rp 48.500

Apa yang akan kamu lakukan ketika kamu memiliki impian? Apalagi jika kamu tahu, usiamu masih sangat muda dan waktumu masih sangat panjang untuk menggapai impian tersebut? Pasti jawabannya adalah berusaha keras untuk mewujudkan impian itu bukan?

Begitulah kira-kira gambaran besar tema yang diangkat dalam novel Cine Us. Dengan sudut pandang Lena (Lelatu Namira) sebagai tokoh utama dalam novel ini, Evi Sri Rejeki menggambarkan tentang mimpi tiga orang sahabat (Lena, Diana, dan Dion) untuk membesarkan Klub Film di sekolah mereka demi mewujudkan impian mereka menjadi sineas.
To the Place Where Cinema and Us Meet

Memenangkan Festival Film Remaja adalah target yang ingin mereka capai, di samping target pribadi Lena sendiri yang ditantang oleh Adit, mantan pacarnya. Taruhan seperti apa yang berikan Adit pada Lena? Dan mengapa Adit menantang Lena?

Bergabungnya Rizki yang jago membuat animasi dan Ryan yang mahir menata musik membuat Klub Film lebih bersemangat mengikuti Festival Film Remaja. Apalagi sifat Rizki yang santai dan humoris membuatnya cepat dekat dengan Lena, sehingga muncullah percintaan remaja yang lucu. Apakah Lena dan teman-temannya berhasil memenangkan Festival Film Remaja? 

Jalan tak selalu lurus, kadang berkelok, kadang menemui hambatan seperti kena tilang polisi, ban bocor, uang habis, atau hambatan lain. Tetapi ketika niat untuk mencapai tujuan itu kuat, sekeras apapun hambatannya, kita akan melanjutkan perjalanan bukan?

Begitu pula yang dilakukan Lena. Mendapat cibiran bahwa Klub Film itu hanya bisa membuat film picisan, sempat tidak dipercaya Diana dan Dion karena tidak mengikutsertakan mereka dalam rencananya (mencari informasi mengenai anak hantu), menghadapi perpecahan Klub Film yang berujung pada direbutnya basecamp Klub Film, hingga hilangnya Dion menjadi masalah yang harus dihadapinya. Mampukah Lena melewati masalah-masalah tersebut?  

Baiklah, mari kita menyimak kelebihan dan kekurangan novel ini menurut saya...

KELEBIHAN

  • Tema film sepertinya menjadi angin segar dalam novel fiksi remaja di Indonesia. Apalagi bagi saya yang memiliki pengetahuan basic mengenai film. Novel ini seperti mengajak saya bernostalgia dengan masa-masa sekolah (saya mengambil jurusan multimedia ketika SMK). Dan sama seperti Lena, ketika itu grup saya juga membuat project film horor.
  • Adanya ilustrasi di dalam novel. Selain dapat memberikan gambaran yang lebih jelas, juga sebagai jeda yang dapat digunakan untuk me-refresh mata dari berbaris-baris tulisan.
Basecamp Klub Film tampak depan
  • Judul bab yang menarik, karena diawali dengan kata "Who". Misal pada bab 1, "Who's the Creator?", pada bab 2, "Who's the Loser?", dan seterusnya. Ini membuat saya penasaran, apa jawaban dari pertanyaan yang menjadi judul bab tersebut. Jadilah saya membacanya sampai habis. Selain itu, di tiap judul bab juga terdapat ilustrasi, yang saya rasa ini sosok Lena.


  • Novel ini juga memberikan banyak informasi, di antaranya adalah pengetahuan tentang proses pembuatan film. Mulai dari brainstorming, membuat konsep, timeline, skenario, budgeting, storyboard, musik, dan  peralatan. Selain itu, ada informasi tentang ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) yang benar-benar baru buat saya.
  • Banyak quote-quote bagus bertebaran:
"Kenapa menyayangi seseorang selalu menimbulkan luka?" --- hal. 229

"Kemenangan lahir dari proses, dari perjuangan. Sebanyak apa pun kamu mencari pengakuan dari orang lain, kamu tidak akan pernah bisa memuaskan dirimu sendiri. Karena kepuasanmu bukan berasal dari hatimu sendiri." --- hal. 226 

"Setinggi apa pun keinginanmu, kamu hanya butuh percaya." --- 280


KEKURANGAN

Banyak typo yang ditemui dalam novel ini. Jika hanya satu atau dua, tidak ada masalah. Karena penulis/editor juga manusia yang wajar melakukan kesalahan. Tetapi jika kesalahan ketik yang ditemui cukup banyak, akan mengganggu proses membaca juga. Kesalahan tersebut antara lain penggunaan 'di' yang diikuti kata tempat dan 'di' yang diikuti kata kerja masih sering terbalik, beberapa kata yang kurang huruf, dan juga penggunaan tanda baca yang tidak pada tempatnya. Pasti jika kesalahan diminimalisir, pembaca pun akan lebih nyaman. 

Kemudian saya juga menemukan penggalan-penggalan cerita yang mengganjal, di antaranya adalah: 

  • Untuk sekolah modern seperti sekolah Lena, apakah tidak ada satpam? Sehingga ketika Lena memutuskan untuk lembur sampai malam sendirian dalam rangka mengedit film di sekolah, tidak ada yang menegur. Lalu bagaimana dengan orang tua Lena? Apakah mereka tidak khawatir terhadap anaknya yang belum juga pulang?
  • Lena yang langsung diskors begitu tertangkap basah akan mengambil data sekolah. Bukankah seharusnya Pak Kandar menanyai Lena terlebih dahulu mengenai alasannya melakukan itu. Barulah setelah itu mempertimbangkan akan memberikan skors atau hukuman lain yang pantas.
  • Lena dan Diana yang ternyata sudah tahu mengenai penyakit Dion, mengapa dari awal cerita tidak terlihat sabar menghadapinya? Bahkan di beberapa bagian, mereka justru mengeluarkan kata-kata kasar pada Dion. Dan yang paling janggal adalah Diana, yang dari awal kesannya lembut, tiba-tiba bisa mengeluarkan emosi yang membludak dan terdengar sangat kasar pada Dion (hal 158).
  • Dania yang tiba-tiba teringat, bahwa ternyata ia yang secara tidak sengaja telah membuat skenario Lena dan Rizki tertukar. Bahkan saat mengatakannya pada Lena, kesannya sangat santai. Dan tidak ada permintaan maaf darinya untuk Lena maupun Rizki. Padahal sebelumnya, ia sudah ikut memojokkan Lena karena mengira Lena sendiri yang menukar skenarionya dengan milik Rizki.
Ada baiknya jika penulis memperhatikan detail dan logika cerita. Sehingga pembaca bisa masuk lebih dalam dan ikut merasakan perjalanan cerita. Tapi terlepas dari itu semua, novel ini asyik untuk ditamatkan. Apalagi untuk remaja yang ragu-ragu dalam melanjutkan perjuangannya meraih impian. Karena melihat dari kisah Lena, halangan jangan menjadi beban. Setelah melewati halangan, ada kisah lebih indah yang akan dirasakan.

Dan yang lebih penting. Kisah cinta yang menjadi bumbu dalam novel ini adalah kisah cinta yang lucu dan menggemaskan. Nggak ada deh adegan aneh-aneh. Sangat pas untuk remaja!

Untuk Cine Us, saya memberi 3 bintang dari 5 bintang. Dan setelah membaca epilognya, sepertinya Cine Us akan memiliki kelanjutan cerita di novel Evi selanjutnya. Apakah benar? Kita lihat saja nanti ^^


Pose Bersama Cine Us


http://www.smartfren.com/ina/home/

www.noura.mizan.com



Semangat Mereka

Source: here

"Bangun dek,"

"Jam berapa sekarang kak?"

"Jam 4."

"Masih pagi kak. Boleh tidur setengah jam lagi?"

"Nggak bisa dek. Kita harus bangun sekarang."

Yanto membantu adiknya bangun. Kemudian ia membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam karung. Tidak butuh waktu lama. Karena barangnya hanya beberapa helai baju lusuh, satu buku tulis yang tidak kalah lusuhnya dan sebatang pensil yang sudah pendek.

"Kita mau kemana kak?"

"Kemana saja. Yang penting pergi dari sini."

"Itu kardusnya nggak dibawa kak?"

"Nggak perlu. Nanti kita cari kardus lagi."

Yanto buru-buru pergi dari depan pertokoan, di mana ia dan adiknya menghamparkan kardus untuk tidur tadi malam. Ia harus buru-buru pergi agar tidak terpergok dan diusir. 

Di pinggir pasar, mereka berhenti berjalan. Duduk sejenak melihat pedagang yang mulai berdatangan. 

"Kak, aku kepengin truk mainan itu," adiknya menunjuk toko mainan yang baru buka.

"Nanti kita beli ya. Sekarang kita cari botol bekas dan kardus yang banyak biar uangnya cukup."

"Yuk!" Adiknya dengan semangat menarik tangan Yanto ke tempat sampah terdekat.

Rindu dalam Hati

Hari ini ia datang. Setelah sekian lama tak melihatnya, nanti kami akan kembali berjumpa. Semalam nada suaranya sangat gembira. Ia tak sabar ingin bertemu denganku. Aku pun begitu. Hanya saja aku tidak terlalu menunjukkannya.

Aku menunggunya di stasiun. Bahkan 2 jam sebelum jam kedatangannya, aku sudah duduk di sana. Sesekali berjalan mondar-mandir sambil membayangkan bagaimana rupanya setelah 2,5 tahun tidak bersua.

Apa yang harus aku lakukan ketika melihatnya nanti? Haruskah aku berlari memeluknya? Atau hanya berdiri dengan senyum lebar dan menunggunya menghampiriku?

Aku merasa jam lama sekali berdetak. Lalu lalang orang-orang di stasiun membuatku terus melongokkan kepala, mencari keberadaannya, walaupun aku tahu, keretanya belum datang.

Apa sih yang aku lakukan ini? Ia pasti datang. Aku hanya perlu bersabar.

Itu dia! Ya! Itu benar-benar dia. Aku melihat kepalanya tersembul di antara kerumunan orang. Aku mengangkat tangan tinggi-tinggi dan berjinjit agar ia melihatku.

Ketika ia semakin dekat dan keluar dari kerumunan orang yang menutupinya, aku bisa melihat dengan jelas ia tak datang sendirian.

"Hai Diana." Ia melambaikan tangan padaku. Aku membalasnya.

"Aku rindu sekali padamu. Oh iya, kenalkan, ini kekasihku, Rossa. Rossa, ini sahabatku, Diana," ia mengenalkan kami. Inikah alasan ia tak sabar bertemu denganku?

Saat itulah rinduku runtuh. Lagu rindu hanya mengalun dalam hati. Semoga ia tidak menyadari perbedaan yang muncul dari raut wajahku.

Detektif dalam Buku

Source : here

Bukti-bukti yang dikumpulkan mengarah pada satu orang. Ya! Dia yang dengan cerobohnya meninggalkan rumah setelah menghidangkan teh untuk korban.

“Siapa lagi kalau bukan kau, istri dari korban. Nyonya Claudia.” Detektif menunjuk seseorang dengan mantap. Seseorang yang ia yakini sebagai pelaku pembunuhan.

“Kau tidak bisa menuduhku seperti itu! Bukankah aku tidak berada di tempat meninggalnya suamiku saat itu. Sungguh tega jika kau menuduhku. Aku mencintainya, ia suamiku. Bagaimana bisa aku tega membuatnya meninggal?” Claudia menyembunyikan tangisnya dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

“Justru alibimu, bahwa kau sedang pergi membeli gula di supermarket saat waktu perkiraan suamimu meninggal, justru semakin menyudutkanmu, nyonya. Untuk apa kau membeli gula saat teh manis sudah kau hidangkan? Bukankah jika gula memang habis setelah teh dihidangkan, kau bisa membelinya lain waktu? Karena sudah seharusnya seorang istri menemani suaminya yang lelah sepulang bekerja, seperti yang biasa kau lakukan setiap harinya. Bukan begitu?”

***

“Ah, membosankan! Selalu saja pelaku diketahui karena kecerobohannya.“ Dion menutup bukunya dengan kesal. Sudah tidak berminat membaca kisah di buku itu hingga habis.

Dion menggerutu lagi, “tak bisakah penulis membuat kasus yang lebih rumit dan susah dipecahkan? Aku bahkan sudah bisa menebak siapa pelakunya sejak awal.”