Semangkuk Bertiga

(image source: here)


Bukanlah hal mudah melalui tahun kedua kematian orangtua. Aku berumur 15 tahun dan harus memikul hidup dua orang adik yang masih kecil.

Tidak sempat bersedih-sedih. Semua waktu tersedot untuk menjaga kedua adikku dan mengurus perut mereka.

“Kakak, lapal.” Suara cadel Selia, adik terkecilku, mengembalikanku dari lamunan.

Kuelus rambut adikku yang sedang memeluk boneka kumalnya di atas tikar, kemudian bangkit. Gegas menuju pintu, hendak keluar.

“Kak Seno mau ke mana?” Amran, adikku yang lain, mengikuti.

“Kalian tunggu di rumah, ya. Kakak keluar sebentar cari makanan.”

Beruntung mereka mengerti dan tak merengek lagi.

Aku berkeliling kampung. Mampir di setiap rumah yang pintunya terbuka. Menawarkan jasa apa saja yang kubisa. Membersihkan rumah, mencuci pakaian, atau belanja ke pasar.

“Maaf Seno, kami juga sedang kesulitan. Cobalah ke tempat lain. Semoga ada yang bisa memberimu uang.”

“Maaf ya, Seno. Tidak ada pekerjaan untukmu. Tapi Ibu doakan agar kau dapat rezeki.”

“Seno, Kakek doakan kamu dapat uang. Maaf, Kakek saja belum makan hari ini.”

Sudah jauh aku berjalan dan terus menemui penolakan. Raut wajah adik-adikku yang kelaparan membayang.

Gerimis perlahan turun.

Lebih baik aku pulang, batinku menelan kecewa.

Sampai di rumah, Amran dan Selia berlari menyambutku.

“Ambil mangkuk, ya,” pintaku pada Amran, yang langsung berlari ke dapur.

Aku mengajak Selia duduk di tikar.

Tak lama, Amran kembali membawa sebuah mangkuk.

Kuletakkan mangkuk itu di tengah-tengah kami, kemudian merogoh saku celana. Kuambil sesuatu dari dalam sana dan kumasukkan ke dalam mangkuk. Membentuk gundukan melewati bibir mangkuk.

“Hari ini kita makan semangkuk doa lagi, ya. Tadi Kakak dapat banyak.”

****
*251 kata, belum termasuk judul.
*ditulis untuk hadiah ulang tahun komunitas kesayanganku, Monday Flash Fiction. 

http://mondayflashfiction.blogspot.com/

[FF250Kata] Oh Skripsiku ...

(image source: here)
 
Kulirik jam yang melingkar di tangan kiriku. Pukul 08.20.

Oh tidak! Aku ada janji temu dengan dosen pembimbing skripsi pukul 08.00.

Kupercepat langkah menyusuri trotoar menuju kampus, dengan menenteng paper bag berisi lembaran skripsi di tangan kiri dan setangkup roti selai kacang di tangan kanan. Gara-gara begadang semalam, aku jadi bangun kesiangan. Bahkan alarm yang kusetel sebelum tidur pun tidak berhasil membangunkanku tepat waktu.

“Woiii! Minggir!” Dari arah belakang, kudengar teriakan seseorang. Jalan raya di samping trotoar ini memang sedang padat sekali kendaraan. Hingga kemacetan panjang tak terhindarkan. Wajar saja. Jam masuk kantor hampir bersamaan.

Kuabaikan suara itu. Tetap kuteruskan langkahku sembari menghabiskan roti yang kubawa.
Tiba-tiba sebuah sepeda motor melaju di sampingku. Tubuhku didorong ke pinggir. Nyaris membuatku terperosok ke selokan.

Si pengendara melirikku sekilas. “Maaf. Lagian tadi kan saya udah suruh minggir!” Ia pun melanjutkan perjalanan. Beberapa sepeda motor mengikuti di belakangnya.

Skripsiku ...

Aku hanya mematung menyaksikan lembaran-lembaran skripsiku berhamburan ke dalam selokan. Perlahan air membawa mereka menjauh. Rotiku pun teronggok belepotan tanah.

***
“Woiii! Minggir!”

“Cari mati, ya?”

“Dasar gila!”

Kuabaikan teriakan-teriakan mereka.

Skripsiku berantakan, dosen pembimbing memintaku mencari dosen pengganti karena ia tidak bisa menoleransi keterlambatanku, aku dinilai teledor dan tidak bertanggung jawab. Mungkin benar aku sudah gila saat ini.

“Woiii! Minggir!”

Klakson-klakson kendaraan dan teriakan kembali bersahutan.

“Diamlah! Tadi ada seseorang yang merebut hakku sebagai pejalan kaki. Membuat hidupku berantakan. Sekarang rasakan jika hakmu memakai jalan raya kurebut juga!” teriakku ke segala arah. Kuteruskan langkahku di antara truk, mobil, dan kendaraan lain yang bersliweran.

***
*250 kata, belum termasuk judul.


* Silakan baca-baca punya teman-teman yang lain ...
  1. Maya Indah - Tetangga Kok Gitu ...
  2. Chocovanilla - Arisan
  3. Junior Ranger - Gaya Hidup
  4. Rinrin Indrianie - Lain Kali
  5. Rifki Jampang - Benar Tapi Dusta
  6. Ajen Angelina - Bocah Pengemis 

[FF250Kata] Kisah Lelaki Tua Pemilik Kucing Hitam

(image source: here)


Aku teringat sebuah kisah. Kisah tentang seorang lelaki tua yang selalu muncul pukul 02.00 dini hari. Selalu pukul 02.00. Tak lebih tak kurang. Tangan kanannya memegang tongkat, sementara tangan kirinya memeluk kucing hitam yang rebeh tak berdaya. Mata kucing itu pun tak terbuka. Jangan mengira kucing itu mati, karena napasnya masih ada. Meski hanya satu dua.

Lelaki tua itu akan mengetuk pintu rumah seseorang yang memiliki kucing juga.

Tok tok tok.

Ketukan berjeda tiga detik. Terus begitu sampai ada yang membukakannya.

“Bolehkah kutukar kucingku dengan kucingmu?” begitu tanyanya. Kemudian ia menyodorkan kucingnya. Bulunya kusut dan sangat kurus.

Pemilik rumah yang ketakutan pasti segera menutup pintunya. Tetapi tangan si lelaki tua lebih sigap, juga lebih kuat. Ia menjatuhkan tongkatnya dan menahan pintu itu. Mereka beradu. Hingga salah satu dari mereka lemas dan pintu terbuka lebar. Tentu kau tahu siapa yang lemas, bukan?

Lelaki tua itu akan mengajukan pertanyaan lagi. “Kau masih tak mau menukar kucingmu? Kalau begitu, beri aku seiris daging! Kucingku kelaparan.”

Selanjutnya, ia akan menghitung. Jika pada hitungan ketiga, pemilik rumah tak segera menjawabnya, ia akan memungut tongkatnya dan membedal si pemilik rumah hingga tak sadarkan diri.

Ketika matahari sudah mulai mengintip, barulah pemilik rumah tersadar dan merasakan perih dari salah satu anggota tubuh yang tersiat. Entah paha, lengan, atau betis.

Tok tok tok.

Aku melirik jam dinding. Pukul 02.00. Siapa yang bertamu dini hari begini?

Bubu, kucingku, tiba-tiba terbangun dan bergerak gelisah, kemudian melompat ke pangkuanku.

Tok tok tok.

Ketukan itu terus berlanjut. Maukah kau menemaniku membuka pintu?

***
*250 kata, belum termasuk judul.
*keterangan: 
 Rebeh : terkulai
 Bedal : memukul
 Siat : menyayat

*Silakan baca-baca punya teman-teman yang lain...
 Ariga Sanjaya - Baju Baru
 Ajen Angelina - Skenario
 Chocovanilla - Teror Lantai Delapan
 Junior Ranger - Cemburu
 Maya Indah - Memori yang Hilang
 Rifki Jampang - Di Balik Samsak
 Rinrin Indrianie - Seharusnya

[FF250Kata] Jadi Orang Gedongan

(image source: here)


Sebuah surat antaran Pak Pos tadi pagi menjadi jawaban gundahku. Mas Anton, kekasihku, berkabar akan pulang dari rantau, minggu depan. Menyuruhku sekeluarga bersiap, karena ia akan datang melamar. Aku tak bisa menyembunyikan teriakan bahagia. Ibu dan Bapak langsung sibuk mempersiapkan semuanya.

Hari kepulangannya datang juga. Aku menjemputnya di stasiun. Tiga tahun tidak berjumpa, rupanya Mas Anton semakin tampan, rapi, juga wangi. Kami melontarkan ‘apa kabar’ bersamaan, hingga membuat senyum di bibir kami mengembang semakin lebar. Beberapa menit kemudian aku sudah menghambur dalam pelukannya.

Jatah cuti Mas Anton tidak banyak. Itu sebabnya ia mengusulkan untuk mengadakan pesta kecil-kecilan saja. Sebatas mengundang keluarga terdekat dan tetangga. Yang penting sah, katanya.

“Dik, lusa Mas sudah harus kembali ke ibukota. Mas ingin kamu ikut. Mau, kan?” tanyanya setelah kami melewatkan malam pertama yang indah.

Aku tersipu mendengar pertanyaannya. Tak butuh waktu lama untuk menjawab. “Tentu saja, Mas. Aku tidak ingin berpisah lagi denganmu.”

***

“Nah, kita sampai, Dik. Ayo masuk!”

Aku masih berdiri terpaku. Mataku terbelalak, mulutku menganga tak percaya. Di hadapanku berdiri bangunan mewah dengan pagar baja berukir. Seketika aku teringat rumah-rumah di sinetron yang sering kutonton. “Ja-jadi kita akan tinggal di sini, Mas?” Tidak kusangka Mas Anton sekaya ini.

“Iya.” Sebelah tangannya menggandengku, sementara tangan yang lain menenteng tas besar.

Bukannya masuk ke dalam rumah, ia malah membawaku memutar ke teras belakang.

Tiba-tiba seorang pria muncul dari kolam renang. “Eh, baru balik, Ton? Ini siapa?”

“Iya, Tuan. Ini istri saya. Sekaligus calon pembantu baru yang Tuan butuhkan. Kerjanya bagus dan bisa dipercaya.” 

***
*250 kata, belum termasuk judul.


*Silakan jalan-jalan ke tulisan temen-temen lainnya ...
 Ariga Sanjaya - Dua Kali Keliru
 Ajen Angelina - Cemburu
 Chocovanilla - Cincin Kawin
 Junior Ranger - Kesempatan Emas Buat Juki 
 Maya Indah - Kejutan Tuk Belahan Jiwa
 Rifki Jampang - Manipulasi Mimpi
 Rinrin Indrianie - Sakitnya ...

[FF250Kata] Mengisi Ruang Penuh Mimpi

(image source: here)


Toples-toples kosong di ujung ruangan dipandangi Seno dengan hati nelangsa. Sudah lama ia tidak menambah koleksinya. Itu karena semakin banyak penghuni kompleks perumahan tempatnya tinggal yang hanyut dalam tidur lelapnya. Tanpa sempat bermimpi macam-macam. 

Seno beralih ke ujung ruangan lainnya, di mana jajaran toples berisi mimpi tertata rapi. Ia pandangi satu per satu. Menikmati adegan-adegan yang membentuk sebuah kisah. Ada yang berdurasi panjang, ada yang hanya beberapa menit saja. Ada yang berbunga-bunga bahagia, ada yang menyeramkan hingga membuatnya bergidik. 

Nanti malam aku berburu lagi, batinnya berencana.

Lewat tengah malam, Seno menelan pil yang membuatnya tak kasat mata selama berjam-jam. Ia berkeliling kompleks. Memasuki rumah demi rumah melalui celah mana saja yang terbuka. Membawa kantong-kantong plastik kosong.

Matanya berbinar ketika mendapati seorang pria tua yang tertidur seorang diri dengan TV masih menyala. Sebuah gelembung di atas tubuh pria tua itu menampilkan mimpinya bersama istrinya yang telah lama meninggal. Mereka sedang berpiknik di pinggir danau dikelilingi anak-anak kecil yang berlarian. Sekali lompat, Seno dapat meraup gelembung itu, kemudian mendesaknya dalam kantong plastik.

Malam itu ia hanya mendapat satu mimpi. Kecewa, sudah pasti. Ia kembali ke rumah dan segera memasukkan mimpi yang baru didapatnya dalam toples kosong. Dilihatnya kembali mimpi si pria tua. Mengembanglah senyumnya memandangi hangatnya keluarga.

Keesokan paginya, kompleks perumahan gempar. Seorang pria tua ditemukan meninggal dalam tidurnya. Ia dimakamkan tanpa sanak keluarga. Anak-anaknya entah di mana.

“Maafkan aku, Kek. Rupanya ini adalah hal terindahmu yang terakhir.” Di depan nisan si pria tua, Seno meletakkan toples berisi mimpi yang semalam dicurinya. 

***
*250 kata, belum termasuk judul 
*ditulis untuk project FF250Kata
 Silakan jalan-jalan ke tulisan teman-teman yang lain ...
 Coach Ariga Sanjaya - Sehari Lebih Dulu
 Ajen Angelina - Laki-Laki yang Menjolok Rembulan
 Chocovanilla -  Lewat Tengah Malam
 Junior Ranger - Menunggu Kepulangan Ayah
 Maya Indah - Cinta Nan Absurd
 Rifki Jampang - Purnama di Atas Laguna
 Rinrin Indrianie - Pesta Kembang Api

Meratapi Kematian Sheri

(image source: here)

"Aku menyukai topi." Itu yang dikatakan Danu sebelum membunuh Sheri, pacarnya. Cengkeraman tangannya di leher Sheri terlalu kuat untuk ditepis. Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri ketika tubuh Sheri yang semula bersusah payah memberontak akhirnya terkulai lemas dan jatuh ke lantai.

Bergegas aku berlari ke dalam kamarku dan menguncinya, sebelum Danu menyadari keberadaanku di depan pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Napasku terengah-engah dan jantungku berpacu cepat.

Sejak Danu lulus kuliah dan memutuskan untuk berbisnis topi, mereka menjadi lebih sering bertengkar. Sheri menyebut Danu bodoh karena menolak tawaran ayahnya yang menyediakan posisi penting di perusahaan. Seluruh penghuni indekos ini tahu bahwa pertengkaran itu sudah bukan rahasia lagi. Tapi bukan berarti Danu berhak mengakhiri hidup Sheri karena kekesalannya.

Aku memerhatikan pantulan laki-laki pengecut melalui cermin di hadapanku. Ku remas rambutku dengan kedua tangan dan jatuh terduduk. Air mataku tertahan di pelupuk mata. Emosi begitu menggebu menguasai hatiku. 

"Seharusnya aku masih bisa mencegahnya. Seharusnya aku masuk saja. Mungkin Sheri tidak akan mati." Aku sungguh menyesali sikapku tadi. Mengapa aku hanya bisa berdiri mematung tanpa melakukan apapun. Kakiku seolah terkunci di tempat dan bibirku menutup erat.

Ketukan di pintu membuatku terperanjat. Jika itu adalah Danu, maka ia tidak boleh tahu bahwa aku mengetahui perbuatannya.

Ku basuh wajahku dan memastikan tak ada ekspresi mencurigakan sebelum akhirnya aku berjalan ke arah pintu dan membukanya. Ku tekan deretan gigi atas dan bawahku hingga terasa ngilu ketika mendapati pembunuh Sheri berdiri di depan pintu kamarku. 

"Hei, Dan! Ada apa?" Ku pasang raut wajah senormal mungkin.

"Boleh masuk?" 

Aku membuka pintu lebih lebar dan menyingkir dari pintu agar ia bisa masuk ke dalam kamarku. Dan seperti biasa, ia langsung duduk di atas tempat tidurku yang terhampar di atas karpet. Ia menyuruhku menutup pintu dan aku menurutinya.

"Aku membunuh Sheri." Ia menatapku lekat-lekat, kemudian tertawa terbahak-bahak. "Tapi aku puas. Sekarang tidak ada lagi yang mengganggu hidupku dengan ocehan-ocehan menjatuhkan."

Danu sama sekali tidak menyesal. Bahkan aku bisa mendengar rasa bangga dalam nada bicaranya.

"Fian! Kok diem?" 

Memang menurutnya, bagaimana aku harus bereaksi? Ikut tertawa mendukungnya? Gila! 

"Mau minum apa?" Lebih baik kualihkan pembicaraannya.

"Kopi boleh, deh. Eh, aku balik ke kamar dulu, ambil handphone. Ntar kalau ada yang mau pesen topi, berabe kalau nggak langsung dilayani. Bentar, ya!"

Aku mengangguk dan segera membuatkan segelas kopi untuknya.

Kusodorkan kopi itu begitu ia kembali, yang langsung diteguknya hingga tersisa setengah. Kemudian ia kembali menceritakan bagaimana ia membunuh Sheri. Masih dengan nada riang seolah itu bukan kesalahan.

Tiba-tiba suaranya tercekat dan ia memegangi lehernya dengan kedua tangan. Ia kesulitan bernapasm seperti tercekik. Matanya melotot ke arahku, kemudian sebelah tangannya menggapai-gapai ke arahku.

"Bagaimana rasanya tercekik? Aku memasukkan racun serangga sisa penelitianku dalam kopimu." Aku menghela napas berat. "Itu adalah hukuman untukmu karena sudah membunuh Sheri. Juga anakku yang ada di rahimnya."

Prompt #72: Baju Warna Kulit

(image source: here)

"Baju senam warna kulit, di mana kau?" Ku bongkar isi lemariku. Pink, biru muda, tosca, ungu. Siapa yang meracuni lemariku dengan warna sebanyak itu? Aku tidak suka! Ku lempar semua ke luar. Bertebaran di lantai kamar.

Aku ingat pernah membeli banyak baju warna kulit. Tapi mengapa sekarang tak kutemukan satu pun. 

"Berantakan sekali, Dek. Cari apa?" 

Aku berlari ke arah Kak Fano di ambang pintu. "Di mana baju warna kulitku? Pasti Kakak, kan, yang menyembunyikan? Kembalikan!"

"Kau selalu menggila setiap kali memakainya. Kakak buang semuanya." Kak Fano memunguti baju-baju di lantai. "Cobalah pakai ini, atau ini, atau yang ini. Semua baru. Kakak yang pilih. Pasti kamu cantik memakainya."

"Tidak, Kak! Tidaaaak! Tidaaaak!" Aku menggumamkan kata itu terus dan terus. Kugelengkan kepalaku kuat-kuat. Tak berhenti. Hei, ternyata ada sensasi menyenangkan saat melakukannya. Kupejamkan mata dan terus menggerakkan kepala. Otakku bisa kocak, tidak, ya? Barang kali ingatanku juga bisa lebur. Geleng semakin keras, semakin keras.

Tiba-tiba Kak Fano memegang kepalaku dengan kedua tangannya. Menghentikan gerakku. Memaksa mataku fokus padanya. 

"Oke. Oke. Kakak kembalikan. Tapi kau harus janji, tidak menggila setelah memakainya."

"Jadi benar tak kau buang?"

"Tidak. Cepat berjanjilah!"

"Janji!" 

Barusan aku berjanji apa? Oh, tidak menggila. Kakak ini bisa saja. Kapan aku pernah menggila? Aku hanya mengekspresikan isi hati dan isi kepala. Sudahlah, tak perlu menjelaskannya. Yang penting, baju warna kulitku kembali.

***

Baju warna kulit akan mempertajam lekuk tubuhku yang indah ini. Oh tidak! Ada lipatan lemak di perutku. 

Aku melihat lebih dekat pantulanku di cermin. Meneliti tiap centi tubuhku. Benar! Lipatan di perut ini begitu kentara. 

Aku menari saja. Ia dulu senang melihatku menari. Ku putar musik dan bergerak tanpa henti. Melompat. Berputar, berputar, berputar. Seluruh tubuhku terasa ringan. Aku senang.

Tiba-tiba ingatan itu kembali hadir. Merusak perasaanku yang sedang senang. Amarahku memuncak. Air mataku meluncur turun. Kuputuskan kembali bergerak lebih keras agar ingatan itu hilang.

"Dek, makan dulu." Kak Fano sudah melangkah memasuki kamarku membawa nampan berisi makanan entah. Sejak kunci kamarku hilang, ia selalu muncul tiba-tiba. Menyebalkan.

"Aku tidak mau makan!"

"Harus!" Ia membimbingku duduk dan menyuapkan sesendok demi sesendok hingga nasi di piring tandas. Dipaksanya juga aku menghabiskan susu dalam gelas. 

Kak Fano akhirnya ke luar juga dari kamar. Membawa nampannya. Langsung saja aku berlari ke kamar mandi. Menunduk di atas kloset. Memasukkan telunjukku ke dalam mulut dan mendorongnya semakin ke dalam. Meluncurlah semua isi perutku. Nasi, susu, dan segala macam. 

"SIA!" Teriakan Kak Fano mengagetkanku. Tubuhku limbung. Aku jatuh terjerembab di lantai kamar mandi.

"Aku tidak ingin gemuk. Aku tidak ingin gemuk. Semua makanan tadi membuatku gemuk." Kugelengkan kepala untuk mempertegas ucapanku.

"Gemuk? Lihat!" Kak Fano mengangkat kedua tanganku ke depan mataku. "Badanmu sudah seperti tulang berbalut kulit! Sadarlah! Beratmu sudah menurun drastis!"

"Ferdian bilang aku gemuk. Lipatan di perut ini. Lihat, Kak!" Ku cubit perutku. Sulit.

"Laki-laki itu lagi! Akan ku bunuh dia karena membuatmu seperti ini!" Sorot mata Kak Fano menajam.

"Bunuh? Lalu perempuan penari yang lebih luwes, lebih langsing, lebih cantik, lebih seksi, lebih..."

"DIAM! Ya! Dia akan ku bunuh juga!"

***
*499 kata, belum termasuk judul.

Cita-Cita di Lubuk Hati

(image source: here)

Hari ini wisuda kelulusanku. Hari di mana aku dapat menambahkan gelar S. A. di belakang namaku dan membuat ibuku tersenyum bangga. Terlebih dengan selempang cumlaude yang tersampir di luar baju togaku. Usaha Ibu membayar mahal kuliahku, di samping kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah adikku yang masih SMA, seolah terbayar sudah. Ku rasa Ayah di surga juga melihatku saat ini.

Seharusnya aku membuat surat lamaran dan CV untuk dikirimkan ke perusahaan-perusahaan. Seharusnya aku berburu informasi lowongan-lowongan kerja dari berbagai media. Namun semua itu tidak kulakukan karena bukan itu yang kuinginkan. 

Tiga tahun aku menjalani masa kuliah yang membosankan. Bergelut dengan angka dan materi akuntansi lainnya. Berjuang untuk mendapatkan nilai terbaik di setiap mata kuliah. Semua itu demi Ibu. Orang yang sangat menghendaki aku memilih jurusan itu.

Ibu tak pernah mengerti bahwa aku ingin menjadi penulis. Ia hanya tahu aku suka sekali membaca.

Padahal aku benar-benar ingin menjadi penulis. Seolah hanya itu tujuan hidupku. Karena itulah, aku memberitahukan padanya bahwa setelah kelulusan ini, aku hanya akan melakukan hal-hal yang kuinginkan. Perdebatan panjang akhirnya terjadi, namun pada akhirnya Ibu memilih mengalah.

***

Pagi pergi, berganti siang. Siang pergi meninggalkan semburat jingga pada langit senja. Kemudian hadirlah malam dengan suara jangkrik yang saling bersahutan.

Pergantian waktu itu hanya menjadi penanda kapan aku harus membuka gorden dan jendela kamarku dan kapan aku harus menutupnya kembali. Karena hari-hari kuhabiskan di dalam kamar. Ke luar hanya ketika lapar, juga mandi karena tak ingin tubuhku dipenuhi daki. 

Laptop menjadi kawanku mengisi hari. Ketika ia menyala dan menghadirkan halaman kosong, kutumpahkan isi kepalaku menjadi berbaris-baris tulisan yang membentuk rangkaian kisah. Indah dan hidup. Menurutku.

Kukumpulkan alamat email tabloid, majalah, juga surat kabar. Kemudian kukirimkan segera tulisan-tulisanku ke sana setelah selesai ku baca ulang dan memastikan tak ada kesalahan ketik maupun lubang pada logika. Begitu percaya diri.

Tak hanya cerpen, bahkan aku berhasil menamatkan sebuah naskah novel. Kupilih sebuah penerbit ternama dan kukirimkan naskah itu setelah kubalut doa. Namun, penantian selama tiga bulan justru berbuah penolakan yang sempat membuatku sakit hati.

Aktivitas seperti ini sudah kujalani kira-kira hampir satu tahun lamanya. Dari sekian puluh judul cerpen yang kukirimkan, hanya ada dua yang lolos masuk dalam majalah remaja. Menjadi penulis ternyata tak semudah yang kubayangkan. Aku belum ingin menyerah. Masih betah berjuang. Karena berjuang untuk sesuatu yang benar-benar diinginkan tak akan menjadikanku lelah atau bosan.

***

"Dini, Ibu ke rumah Bu Saodah dulu, ya," pamit Ibu suatu malam ketika aku sedang membaca buku di dalam kamar.

"Mau ngapain, Bu?"

"Pengajian. Bu Saodah sama suaminya kan mau berangkat haji." 

Setelah malam itu, Ibu terus menggumamkan, kapan ia bisa naik haji. Ibu memang tak pernah membicarakannya langsung denganku. Namun aku dapat menangkap harapan yang menggebu di sorot matanya yang sayu. Bahkan tak jarang aku memergokinya merenung begitu lama sambil menatap gambar besar kakbah yang terbingkai di ruang tamu.

***

"Rapi sekali kamu, Din. Mau ke mana?" tanya Ibu ketika melihatku ke luar dari kamar pagi ini.

Wajar Ibu bertanya. Pukul 07.00 bukanlah jam bangunku biasanya. Apalagi saat ini aku sudah wangi dengan setelan kemeja dan rok span selutut.

"Wawancara kerja, Bu. Doakan Dini, ya." Aku berpamitan dan mencium punggung tangan Ibu.

Maaf ya, Bu. Seharusnya ini kulakukan satu tahun yang lalu. Tak apa ya, Bu. Hari ini aku akan berjuang agar diterima kerja dan segera dapat menyisihkan gaji bulananku untuk tabungan haji Ibu.

Biar saja cita-cita menjadi penulis kupikirkan nanti. Aku tak ingin egois lagi. Karena rupanya penulis yang sedang merintis  tak memiliki penghasilan pasti.

***

*573 kata, belum termasuk judul.
*ditulis untuk diikutsertakan dalam #AttarAndHisMindFirstGiveaway 

Selamat ulang tahun untuk blognya Bang RIga :)

Prompt #67: Mengambang

(image source: here)

"Pak, kami butuh WC yang layak!"

"Iya pak, kotoran yang mengambang tidak enak dipandang."

Bertahun-tahun aku menjadi ketua RT di perkampungan pinggir sungai. Sudah tugasku untuk mencari solusi untuk setiap keluhan warga.

"Baiklah, saya janji, besok tidak ada kotoran yang mengambang!"

Esoknya, kubongkar tabunganku untuk belanja sayuran. Kukerahkan ibu-ibu untuk merebusnya dan mengulek sambal ekstra pedas. Membuat pecel. Seluruh warga makan bersama dengan riang setelahnya.

Esok paginya...

"Woi gantian!" teriak warga yang mengantre di depan jamban.

"Bentar! Diare nih!" timpal yang di dalam. 

Antrean semakin panjang saja.

Cairan akan lebih mudah larut dengan air sungai, bukan? Untuk sementara, tugasku selesai.

***

*100 kata, belum termasuk judul.

Prompt #65: Lelaki Tua di Tengah Gerimis

sumber: dokumentasi pribadi Rinrin Indrianie


Aku berjalan lunglai di bawah gerimis sore itu. Ingin mendramatisasi keadaan. Baru saja cintaku ditolak. Lagi. Entah sudah ke-berapa kali.

Kulewati seorang kakek yang menuntun sepedanya dengan setumpuk rumput memenuhi belakang sadelnya. Pakaiannya basah, kakinya yang beralas sandal jepit, kotor ternoda tanah, kepalanya terlindung caping yang entah berapa lama dapat menghalau air hujan. Apakah ia juga sedang mendramatisasi keadaan?

Aku mengabaikannya. Kuteruskan langkahku, menikmati tetes air hujan yang jatuh membasahi seragam putih abu-abuku. Berharap perasaan kecewaku luntur.

Kukurangi kecepatan saat di turunan. Sepatuku yang basah sampai ke dalam, semakin terasa licin ketika menggesek aspal. Aku berjongkok untuk melepasnya. Benda ini membuatku kesulitan menjaga keseimbangan.

Saat berjongkok itulah kulihat kakek tadi meluncur dari atas. Sepeda yang kini dinaikinya bergoyang-goyang tak seimbang. Ia berteriak menyuruhku minggir, tapi aku justru terpaku melihatnya serta sepedanya yang semakin dekat, sangat dekat, dan BRUK!

 Badan kakek beserta sepeda dan rumputnya itu menimpaku."Aduh Nak, maaf, Mbah ndak sengaja," ujarnya seraya membantuku berdiri.

"Nggak apa-apa, Mbah." Kusunggingkan senyum walau menahan perih dan ngilu. Kutepuk celana dan bajuku untuk membersihkan rumput dan tanah yang menempel.

Kakek itu menurunkan semua rumputnya dan menyuruhku naik ke boncengan. "Saya antar ke puskesmas, Nak." 

Ia memaksa. Dikayuhnya sepedanya meski tersendat-sendat. Tubuh rentanya sigap menuntunku masuk ke dalam begitu kami sampai.

Lecet dan memar kecil di sana sini. Itu saja. Dokter sudah membersihkannya, dan besok pasti sudah tak terasa lagi. Kakek itu kembali menuntunku saat ke luar puskesmas. “Mbah ndak bisa ganti biaya berobatnya. Jadi, bawa saja sepeda ini. Cuma ini harta mbah, nak."

"Eh, nggak usah, Mbah."

"Tolonglah, Mbah nggak suka berutang." Ia menepuk pundakku kemudian berjalan meninggalkanku.

Aku terperangah menatapnya yang semakin jauh dan menghilang di ujung jalan.

Setelah tak ada sepeda, rupanya ia memanggul semua rumputnya di punggung. Membuat tubuh rentanya melengkung. Selama beberapa hari ini aku mengamatinya dan memperhitungkan sesuatu.

***

Hari inilah saatnya.

Ketika kakek itu menyusuri jalan turunan, kukayuh sepedaku. Begitu dekat dengannya, kusenggol tubuhnya hingga terjatuh. Aku pun berhenti dan membantunya berdiri. Tak ada luka. Perhitunganku tepat.

Kubantu ia naik di boncengan. Masih dengan rumput di punggung. Ia berpegangan kuat di pundakku. Kukayuh sepedaku cepat. Tapi bukan ke puskesmas, melainkan ke rumahnya. Aku tahu letaknya setelah beberapa hari yang lalu mengikutinya.

“Maaf ya, Mbah. Saya tadi sengaja. Ini sepeda buat Mbah, sebagai permintaan maaf saya. Cuma ini harta yang saya punya.” Maksudku, benda ini satu-satunya yang kubeli dari tabunganku. “Terima ya Mbah, biar saya tenang.”

Kakek itu tersenyum, “Kamu balas dendam, ya?”

Aku menggeleng kuat-kuat.

“Terima kasih, ya, Nak. Tapi sepeda ini terlalu bagus, boleh ditukar dengan sepeda mbah yang kemarin saja?”

“Aduh, kalau itu sudah diminta papa, Mbah. Beliau kolektor barang antik.”

Kujelaskan kelebihan sepedaku untuk menghapus raut kecewa di wajahnya.

“Ngomong-ngomong, ternak Mbah di mana? Saya nggak lihat kandang.”

Ia tertawa. “Ya ndak ada kandang, wong saya ndak punya ternak.”

“Lho? Lalu rumput-rumput itu buat apa?”

“Buat angon ternak punya orang.”

“Oh... Nggak pengin punya ternak sendiri, Mbah?”

“Ya pengin.”

“Ng... saya harus nabrak model gimana supaya Mbah nggak bisa nolak kalau saya kasih ternak?”

***

*499 kata, belum termasuk judul.

Prompt #64: Jalan-Jalan Tengah Malam

(image source: here)


Aku tak bisa tidur. Angga pun.  

"Jalan-jalan saja, yuk!" ajakku.

Kami menyusuri jalan setapak hutan. Mengobrol sambil tertawa-tawa. Tanpa disadari, perkemahan sudah jauh di belakang. Angga mengajakku kembali saat kulihat dahan-dahan pohon teronggok di depanku. Beberapa tercecer di depannya lagi.

Mata kami menangkap seorang nenek memanggul sekarung penuh dahan pohon di depan sana. Badannya membungkuk, mungkin karena beratnya beban di punggung. 

"Pasti terjatuh dari karungnya." Aku mencoba menyimpulkan. "Pasti berat, bagaimana kalau kita bantu?"

"Jangan bercanda! Bagaimana jika ia bukan manusia?"

Aku menertawakan kecemasannya. Sementara nenek itu semakin jauh.

"Bagaimana jika kita pastikan? Jika kakinya tidak menapak, kita lari, kembali ke tenda. Masa pecinta alam takut sama hantu," cibirku. Aku pun berjalan mendahuluinya, menyusul nenek itu. Kukulum senyum saat mendengar langkah Angga menyusulku.

Kakinya menapak tanah. Nenek itu manusia. Ia kaget ketika kami mendekatinya. Kujelaskan bahwa kami hanya ingin membantu. Akhirnya ia mau menyerahkan karungnya pada Angga dan menunjukkan jalan ke rumahnya.

Jauh. Aku iba melihat Angga yang kepayahan mengangkat karung itu.

Lega ketika nenek itu menunjuk sebuah gubuk. Kami sudah sampai. Mungkin ia akan memperbolehkan kami menginap sampai pagi. Aku sudah sangat lelah. Kurasa Angga pun.

Saat hendak menyampaikan niatku, sebuah batang kayu kecil dan runcing melesat, menimbulkan bunyi SLEP! ketika menembus leher Angga. Darah mengalir. Ia limbung, kemudian terjatuh.

"Anggaaaa!" Aku mengguncang tubuhnya.

"Lari!" ujarnya lirih.  Sebentar kemudian darah yang mengalir keluar berubah kehitaman. Jangan-jangan batang kayu ini sudah dilumuri racun.

Tiba-tiba kurasakan sesuatu menusuk lenganku. Kemudian leherku. Batang kayu yang mirip. Aku terjatuh. 

Dua orang anak - entah berapa usianya - keluar dari balik semak-semak. Masing-masing membawa sebuah bambu. Itukah alat untuk meniupkan batang kayu beracun?

Pandanganku mulai kabur.

"Cepat potong-potong, kemudian nyalakan api! Nenek akan membuat bumbu. Kita makan besar malam ini." Kata-kata nenek itu sempat kudengar sebelum mataku menutup dan aku tak lagi merasakan apa-apa.

***

*300 kata, belum termasuk judul.