Sabun Berbentuk Kucing


"Mama, nanti temenin Dita ke minimarket ya," pinta saya pada mama sepulang sekolah 13 tahun yang lalu. Tepatnya saat saya kelas 4 SD.

"Mau beli apa sayang?"

"Sabun batang ma."

"Lho, sabunnya kan masih."

"Yang masih utuh, mama."

"Ada kok. Coba cari di lemari deket kamar mandi. Untuk apa sih?"

"Bukan yang kayak gitu. Pokoknya nanti ikut dulu ke minimarket. Nanti Dita ceritain."

 ***

"Cari yang kayak gimana sih sayang?" tanya mama saat melihat saya meneliti setiap merek sabun di rak minimarket.

"Yang keras ma. Aduh Dita lupa tadi pak guru nyuruh beli yang merek apa," jawab saya yang terus memperhatikan deretan sabun-sabun di rak. Terkadang menekan sekuat tenaga agar tahu apakah sabun tersebut cukup keras atau tidak. Untung saja tidak ada pegawai minimarket yang memperhatikan.

"Pak guru?"

Saya mengangguk. "Pak guru nyuruh kita bikin sesuatu dari sabun ma. Nah kata pak guru, sabunnya harus yang keras, biar gampang dibentuk."

"Lho? Kamu mau ngapain itu?" Mama menegur saat saya sedang berusaha membuka kemasan salah satu merek sabun.

"Biar bisa pegang isinya ma. Kemasannya begini sih. Kan jadi gk bisa dipencet kayak yang lain." Kemasan sabun itu terbuat dari karton. Bukan plastik seperti sabun-sabun lain, sehingga isinya tidak dapat ditekan dari luar kemasan.

"Nah! Bener nih! Kalo diinget-inget kayaknya memang ini mereknya. Pulang yuk ma." Ternyata sabun yang sudah saya buka kemasannya itu memang adalah sabun yang sedang saya cari. 

Sampai di rumah, saya langsung mencari papa. Beliaulah yang selama ini membantu saya mengerjakan tugas sekolah khususnya prakarya. Kreatifitasnya yang tidak pernah habis membuat saya kagum... dan bergantung.

"Papa, sabun ini enaknya dibikin bentuk apa ya?"

"Coba kamu lihat-lihat gambar-gambar di majalah atau buku, nanti pasti ketemu idenya."

Saat ini saya sendiri sudah lupa akhirnya menemukan sebuah gambar kucing dimana. Setelah menunjukkan gambar itu pada papa, beliau membuatkan sketsa kucing di selembar kertas.

"Gambarnya dulu ya sayang, mulai membentuk sabunnya besok. Papa cari pisau dulu yang pas. Kan kasian kalau pakai pisau mama. Kamu mau makan sayur rasa sabun mandi?"

Benar kata papa, tidak mungkin saya menggunakan pisau dapur milik mama. Itu kan untuk memotong-motong sayuran dan bahan masakan yang lain. Lagipula, ukurannya pasti besar. Mana bisa untuk mengukir sabun.

Esoknya, sepulang kerja, papa membawakan saya sebuah pisau bergagang stainless kuat dengan mata pisau kecil di ujungnya. Mata pisau itu bisa digonta-ganti. Papa juga membawakan beberapa jenis mata pisaunya.

Papa dengan telaten mengukir sabun menggunakan pisau tersebut. Masih berupa goresan kasar. Tetapi sudah tercetak bentuk kucing dengan jelas di sabun, mirip sekali dengan gambar yang papa buat sehari sebelumnya. Saya memperhatikan di dekatnya sambil terus tersenyum. Bentuk sabunnya lucu!

"Nah! Ini seterusnya kamu yang kerjain sendiri ya. Masa papa semua."

Ah! Jika dingat-ingat, proses membuat ukiran demi ukiran di atas sabun benar-benar menyenangkan. Apalagi pisau yang saya miliki berhasil membuat iri teman-teman sekelas yang rata-rata menggunakan cutter biasa untuk mengukir sabun mereka. Ya! Seminggu kemudian, pak guru menyuruh kami membawa sabun dan seluruh peralatannya ke sekolah untuk memperlihatkan prosesnya, lalu sabun itu akan dinilai. Saat itulah teman-teman melihat pisau unik saya.

Sabun buatan saya mendapatkan nilai bagus dari pak guru. Mungkin karena bentuknya yang unik. Apalagi dilengkapi dengan kotak buatan papa. 

Sampai saat ini, sabun tersebut masih saya simpan di kamar. Penuh debu di sana sini. Aroma sabun juga tak lagi wangi. Tetapi bentuknya masih terlihat jelas. Kucing dengan senyum menyeringai.

#CeritaDariKamar - Day 31

Handphone

 
Handphone termasuk benda paling penting dalam kehidupan saya. Bahkan jika saya lupa membawa benda ini ketika akan bepergian ke luar rumah, saya akan rela kembali ke rumah dan kehilangan beberapa menit hanya untuk mengambil benda ini.
 
Ini bukan soal agar terlihat keren atau bagaimana. Tetapi bisa dibilang seperdelapan hidup saya tergantung pada handphone. Mengapa saya tidak menggunakan istilah separuh jiwa saya? Karena saya rasa itu terlalu banyak dan terkesan berlebihan.
 
Banyak alasan mengapa saya tidak dapat jauh dari benda ini. Salah satunya adalah bisnis pulsa kecil-kecilan yang saya jalani. Ini berkaitan dengan pelayanan. Semakin cepat saya mengirim pulsa yang dipesan, pelanggan semakin percaya pada kualitas usaha saya.

Fitur media sosial dan internet juga memudahkan saya menjelajah informasi dengan lebih mudah dan cepat.
 
Sebagaimana fungsi dasar dari sebuah handphone yaitu sebagai media komunikasi, itulah yang paling penting dari handphone saya. Saat saya tersesat di jalan, tinggal angkat handphone dan menghubungi salah satu teman yang hafal jalan. Saat saya akan pulang terlambat dikarenakan ada tugas di kampus yang harus segera dituntaskan, tinggal angkat handphone dan menghubungi orangtua untuk memberi kabar dan meminta ijin. Saat saya sedang bosan, tinggal membuka fitur BBM untuk iseng berkirim pesan pada teman, membicarakan apa saja.
 
Jika kalian menilik handphone saya, tidak ada game tambahan di sana. Hanya ada game bawaan dari handphone. Itu pun tidak pernah saya mainkan. Karena saya memang tidak terlalu suka main game. Jika dalam keadaan menunggu, saya lebih suka membuka media sosial untuk membaca info-info terbaru yang sedang beredar.

Satu hal lagi mengenai handphone ini. Jika saya boleh berbangga untuk yang kesekian kalinya, handphone juga merupakan benda yang saya beli dengan uang tabungan saya. Walaupun hanya sebagian dan sebagiannya lagi dari orangtua. Saya pikir tidak apa-apa. Setidaknya ada usaha saya dalam membeli benda tersebut. 
 
Saat saya sudah memiliki penghasilan yang cukup banyak, saya janji akan berbalik membelikan barang-barang untuk orangtua. ^^


#CeritaDariKamar - Day 30

Modem


"Hahahaha nulis? Memangnya kamu bisa nulis? Apalagi bikin novel. Bukannya itu butuh imajinasi yang tinggi ya? Memangnya kamu bisa?"

Begitulah yang ia katakan saat saya menceritakan bahwa saat ini saya sedang mencoba menggarap sebuah naskah novel. 

"Ngeblog? Ngapain sih? Kurang kerjaan aja!"

Dan itu adalah tanggapannya saat saya bercerita tentang hobi baru saya, menulis di blog.

Ia di sini adalah pacar saya. Bagaimana perasaan kalian ketika pacar sendiri justru memberikan komentar-komentar pedas saat kalian sedang menceritakan sesuatu yang sedang kalian perjuangkan? Bukan kalimat-kalimat yang memberi semangat. 

Tapi memang begitulah karakter pacar saya. Pedas!

Perhatian akan ia berikan dalam bentuk lain. Contohnya adalah meminjamkan modem miliknya pada saya. Ia tahu bahwa di rumah saya, modem hanya satu. Dan itu digunakan oleh papa untuk bekerja. 

Sedangkan saya seringkali bercerita bahwa saya suka sekali ngeblog sekarang-sekarang ini. Saya juga suka membaca banyak artikel via internet atau melakukan blogwalking. Tetapi seluruh kegiatan itu terbatas, karena saya harus menumpang di komputer papa saat benda itu sedang tidak digunakan olehnya. 

Meminjamkan modem menurut saya adalah bentuk dukungan darinya. Saya menganggap kalimat "Nih modem pake aja!" sama saja dengan kalimat "Jangan berhenti nulis ya!".

Dan kalimat-kalimat super pedas yang saya ceritakan di awal tadi adalah bentuk latihan mental yang ia berikan pada saya. Seseorang tidak akan selalu mendapatkan pujian dalam karyanya. Oleh karena itu, ia sebagai orang terdekat saya melatih mental saya untuk tidak mudah drop dan selalu berusaha menghasilkan tulisan yang lebih bagus dan lebih baik lagi.

Jadilah modem yang sudah berselotip karena tutupnya sudah mudah lepas ini berpindah dari kamar kosnya ke kamar saya. 

Dari sini saya belajar: Pandanglah sesuatu dari sudut pandang lain! Dengan begitu, kita tidak akan melihat keburukan sebagai keburukan.


#CeritaDariKamar - Day 29

Laptop Merah


Menulis menjadi hobi saya saat ini dan semoga seterusnya. Bahkan saya memiliki impian untuk menjadikan menulis sebagai pekerjaan. Melahirkan buku-buku best seller yang memberikan banyak manfaat bagi pembacanya adalah cita-cita saya.

Rasa malas seringkali menyerang. Tetapi dengan adanya komitmen di awal, saya harus melawan rasa malas itu. Menulis bukan ketika mood datang, tetapi tumbuhkan mood dengan menulis. Prinsip itulah yang saya pegang saat ini.

Konsistensi adalah penting. Setiap harinya, sebisa mungkin, selelah apapun, sesibuk apapun, saya usahakan tetap membuat sebuah cerita fiksi atau tulisan apapun di blog. Fungsinya untuk mengasah kemampuan menulis saya. Menulis tanpa latihan adalah nol besar bukan?

Tulisan-tulisan yang saya buat tentulah mendapatkan bantuan dari laptop kesayangan saya. Tanpa benda ini, saya tidak akan cepat maju. Ya! Berkaitan dengan efisiensi dalam segala hal. Saya suka sekali membaca ulang tulisan saya, kemudian mengedit ulangnya. Tentunya akan melelahkan jika saya menggunakan mesin ketik atau tulisan tangan.

Bukan berarti saya meninggalkan kebiasaan menulis dengan tangan. Masih saya lakukan. Biasanya untuk mencatat pada buku agenda mengenai ide-ide yang seringkali melintas begitu saja di kepala. Buku agenda menjadi barang yang selalu ada di tas saya ketika saya pergi ke luar rumah.

Laptop yang saya beli dengan hasil tabungan dan bantuan dari sana sini (orangtua dan nenek) ini menjadi salah satu benda yang tak bisa dijauhkan dari saya. Apalagi status sebagai mahasiswa tingkat akhir yang saat ini saya sandang. Laptop menjadi sahabat yang menemani keseharian saya dalam menyelesakan tugas akhir.
Terimakasih untuk kemajuan teknologi, karena saya jadi diberi kemudahan menangani hal-hal sulit.


#CeritaDariKamar - Day 28

DVD Eksternal


"Aaaaaargh bagaimana caranya menginstal software kalau laptop saja tidak ada CD room-nya!" teriak saya saat itu. Saya gregetan pada laptop saya sendiri yang tidak memiliki CD room. Sebenarnya ini konsekuensi dari pilihan saya sendiri. Ketika memutuskan untuk membeli laptop, saya memilih laptop 12 inch. Jelas saja tidak tersedia fasilitas CD room, karena ukuran laptopnya saja kecil.

Saat itu ada sebuah software yang harus segera saya instal di laptop. Software yang mendukung editing project yang merupakan tugas kuliah yang sedang saya kerjakan - company profile. 

Software tersebut tidak dapat diinstal dengan teknik copy paste seperti biasanya saya lakukan (numpang laptop teman untuk copy software dari CD ke flashdisk, untuk kemudian diinstal di laptop saya). Melainkan harus diinstal langsung dari drivernya. Bingunglah saya yang tidak memiliki fasilitas CD room di laptop.

"Pakai DVD eksternal dong!" ujar pacar saya saat itu. Kami satu kelompok dalam project ini.

"Siapa yang punya?" 

"Pasti mau minjem nih! Beli sendiri lah. Jangan kebiasaan minjam barang dari orang lain. Lebih baik kamu merepotkan dirimu sendiri." Kata-kata itu benar-benar menohok saya. 

"Tapi..."

"Udahlah... Nanti aku bantuin cari!"

Akhirnya dapatlah ia sebuah DVD external untuk laptop saya. Dan melayanglah tabungan saya yang sebelumnya tidak ada budget untuk membeli benda itu.

Yang lebih apes lagi, ternyata spesifikasi laptop saya tidak support terhadap software itu. Pacar malah tertawa lebar saat melihat ekspresi bengong saya ketika dengan semangat mencoba menginstal software tersebut tetapi akhirnya tidak berhasil.

Yasudahlah, mau bagaimana lagi. Urusan editing project saya serahkan pada orang lain saja. 

DVD eksternal ini masih saya gunakan sampai saat ini. Walaupun hanya sesekali, untuk menonton film dari VCD/DVD.


#CeritaDariKamar - Day 27

Kartu Member Persewaan Buku


Hobi membaca buku adalah hobi yang mahal menurut saya, jika harus membeli sendiri buku-buku yang ingin saya baca. Sedangkan kondisi saya saat ini belum memiliki penghasilan tetap dan dikejar kebutuhan kuliah yang tidak ada habisnya. Uang saku dari orang tua yang hanya pas-pasan membuat saya harus pandai-pandai berhemat dan mengatur keuangan dengan sedemikian rupa.

Titik terang itu datang ketika adik saya memberikan informasi mengenai adanya persewaan buku yang tidak jauh dari kampus saya. Ia tahu saya sangat suka membaca buku. Ia juga tahu saya sedang giat-giatnya menulis. Maka dari itulah ia menceritakan pada saya, tempat yang menjadi langganan teman-temannya menyewa komik.

Begitu menginjakkan kaki di depan tempat itu, mata saya langsung berbinar. Rak-rak tinggi penuh buku terjajar rapi di ruangan yang luas. Tanpa ba-bi-bu saya langsung mendaftar. 

Kartu member sudah di tangan. Saatnya bergerak menyentuh jajaran buku-buku yang tersusun rapi itu. Mata saya mengarah pada rak-rak penuh novel. Melihat judul demi judul. Membaca sinopsis demi sinopsis. Memilih buku mana yang pertama kali akan saya sewa. Tidak peduli tatapan tidak ramah dari penjaga persewaan. Tidak peduli rengekan adik yang hampir mati bosan karena menunggu. Ah! Ia benar-benar rugi karena sama sekali tidak tertarik dengan buku.

Sampai saat ini pun saya lebih suka membaca novel daripada komik. Mungkin sudah bukan masanya lagi membaca komik. Sehingga sesekali saja saya memutari rak-rak penuh komik dan melihat-lihat, tetapi tidak sekalipun menyewanya.

Saya sayang sekali dengan kartu member ini. Karena kartu ini menjawab kebutuhan saya akan membaca tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.

Sesuatu yang menjadi impian saya jika sudah memiliki penghasilan tetap adalah membuat budget setiap bulan untuk membeli buku, mengoleksinya dan membuat perpustakaan mini di kamar. Semoga tercapai ^^


#CeritaDariKamar - Day 26