Review: Semusim, dan Semusim lagi


  

Judul : Semusim, dan Semusim lagi
Penulis : Andina Dwifatma
Editor : Hetih Rusli
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, April 2013
Tebal : 232 halaman
ISBN : 978-979-22-9510-8 




ABSURD!
Mungkin kata itu cukup untuk menilai seperti apa karakter "Aku" di novel ini. Ini unik, karena sepanjang cerita, "Aku" tidak menyebutkan nama dan kota tempat tinggalnya. Seolah itu adalah rahasia yang tidak ingin dibaginya.

"Aku" adalah seorang gadis berusia 17 tahun yang baru saja menyelesaikan SMA-nya. Ia sangat menyukai sejarah. Lebih tepatnya, ia selalu mempertanyakan bagaimana sebuah benda, peristiwa, atau apapun berasal. Oleh sebab itu, ia ingin melanjutkan kuliah di Jurusan Sejarah. 
Ada sesuatu tentang sejarah yang selalu menarik minatku. Ketika kecil, sering kali berkenalan dengan benda-benda, yang pertama kali kupikirkan adalah, siapa yang menemukan benda ini? Siapa yang pertama kali memberinya nama? (hal 10)
Tidak semua jenderal adalah pahlawan, dan tidak semua pemberontak adalah penjahat berbahaya. PSPB adalah alat penguasa untuk mendisiplinkan otak-otak muda kami sejak dini. (hal 12)
"Aku" hanya tinggal berdua dengan ibunya, seorang perempuan cantik yang berprofesi sebagai dokter bedah otak. Mereka tinggal serumah, tetapi tidak memiliki kedekatan selayaknya ibu dan anak. Keduanya seperti hidup di dunia yang berbeda, dengan pemikiran masing-masing. 

Datangnya surat dari ayahnya, yang mengundang "Aku" ke Kota S, merupakan awal cerita dari novel ini. Ketika melihat foto seorang pria yang sedang menggendong seorang anak perempuan ("Aku" meyakini itu adalah ayah dan dirinya, meski tidak ingat kapan foto itu diambil), ia tertarik pada rambut gondrong yang dimiliki pria dalam foto tersebut. Itulah salah satu alasan "Aku" akhirnya memutuskan datang.
Aku ingat pernah membaca bagaimana pada tahun 1970-an Indonesia merepresi para pria gondrong. Pangkobkamtib Jenderal Soemitro bahkan bicara di televisi pada 1 Oktober 1973 bahwa menurutnya rambut gondrong menyebabkan pemuda menjadi onverschillig alias tak acuh. (hal 24)
Konon pemerintah saat itu punya sebuah lembaga khusus yang menangani rambut gondrong, namanya Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong atau yang disingkat Bakorperagon, seolah-olah rambut gondrong itu wabah seperti pes atau disentri atau kemiskinan. (hal 25)

J.J. Henri, asisten ayahnya yang menjemputnya di bandara dan mengurus keperluannya selama di rumah peristirahatan ayahnya di Kecamatan G. "Aku" tinggal sendiri di sana selama menunggu ayahnya pulih dari sakit dan keluar dari rumah sakit. Oiya, "Aku" pun tidak ingin menyebut nama ayahnya. Ia menyebutnya dengan Joe.

Aku agak kecewa karena nama ayahku tidak sekeren yang kubayangkan. Aku tidak akan menuliskannya di sini, tetapi percayalah, nama itu tidak cocok untuk pedagang yang senang mengarang dan berambut panjang. Tapi karena aku tetap harus memberinya nama, kupilih Joe. Semua pria hebat dan keren di dunia ini bernama Joe. (hal 58)

Di tempat inilah cerita bergulir. "Aku" bertemu dengan Muara (anak dari J.J. Henri), Oma Jaya (tetangga rumah peristirahatan ayahnya), dan Sobron (ikan mas yang bisa berbicara). Seringnya Muara berkunjung ke rumah, membuat mereka sering bertemu, terlibat obrolan-obrolan cerdas, hingga saling jatuh cinta. Mereka terlibat hubungan diam-diam di belakang J.J. Henri dan kekasih Muara (Ya! Muara sudah mengatakan pada "Aku" bahwa ia memiliki kekasih tetapi "Aku" tidak menganggap itu suatu masalah).

Cerita selanjutnya penuh dengan kejutan yang sayang jika aku tulis di sini. Lebih baik kalian membacanya sendiri. Ending yang disajikan pun tidak bisa dibilang happy ending ataupun sad ending. Yang pasti tidak terduga! 

Mengingat novel ini adalah pemenang sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta 2012, aku menaruh harapan besar sebelum membacanya. Dan, aku terpuaskan! Bahkan ada ketidakikhlasan saat akhirnya harus menutup novel ini. Aku masih ingin membaca kisah "Aku" dengan segala pemikirannya. 

Berikut adalah quote dalam novel ini yang aku suka:

- Kurasa begitulah kehidupan. Kita tidak pernah benar-benar kehilangan sesuatu yang tidak pernah dimiliki, kecuali kalau kita membandingkan situasi dengan orang lain dan jadi merasa merana sendiri karenanya. (hal 20)
- Satu hal paling lucu tentang orang dewasa adalah kau bisa mengatakan hal paling konyol atau kebohongan paling musykil dan mereka tidak akan tertawa, bahkan memercayai apa yang kaukatakan, selama kau bicara dengan gaya teramat meyakinkan. (hal 42)
- Ada perbedaan mendasar antara hebat dan keren. Misalnya tempatkan pria hebat dan pria keren dalam satu ruangan dan minta mereka menjelaskan tentang teori Relativitas. Pria hebat akan bicara panjang lebar tentang ekuivalensi energi dan massa di mana e sama m kali c kuadrat, dan meski semua penjelasannya itu benar belaka, kau akan mengantuk dibuatnya. Pria keren akan menjelaskan hal yang sama karena ia tahu sama banyaknya dengan pria hebat, tetapi dengan penuh gaya. Ia akan bicara dengan caranya sendiri, dan kau akan memperhatikannya tanpa bisa mengalihkan mata. Kemudian ketika ia selesai, kau akan merasa ia baru bicara selama lima setengah menit meski sesungguhnya ia sudah bicara selama lima ratus dua puluh tahun. (hal 58-59)
- Kurasa itulah yang membedakan senja dengan 'semua hal di dunia ini'. Amatlah mudah berpisah dengan sesuatu yang kautahu akan kembali lagi keesokan harinya. Tetapi di dunia nyata, setiap hal yang kaulepaskan akan pergi darimu tanpa pernah kembali lagi. (hal 59)
- Seorang manusia tidak boleh protes dalam keadaan paling menyedihkan sekali pun, jika setidaknya satu dari sekian banyak keinginannya masih bisa terwujud. (hal 72)
- Aku selalu berpendapat ketika mendengar sebuah pesan, simaklah isi pesannya, bukan siapa yang menyampaikan. Itu akan membantu kita lebih objektif. Seperti membersihkan kacamata dari debu yang tidak perlu. (hal 99)
- Seperti anak anjing mengejar ekornya sendiri, manusia selalu berputar-putar, mencari jawaban dari berbagai pertanyaannya. Karena sibuk mencari di luar, ia tidak menyadari apa yang dicarinya sudah ada dalam diri sendiri. (hal 102)
- Atas nama demokrasi, pura-puranya setiap orang dapat bebas mengemukakan gagasan. Tapi, jika gagasanmu tak sesuai harapan orang, maka kau bersalah. (hal 187)
- Pernah kudengar, kewarasan adalah fiksi yang sempurna. (hal 197)
- Rasa iba dari orang lain adalah bahan bakar paling ampuh untuk membuatmu cepat mati. (hal 211)

Bagian-bagian yang ingin kusimpan sebagai catatan: 

- Murakami pernah bilang begini dalam novel Hear The Wind Sing: dua hal yang tidak seharusnya ada dalam cerita adalah kematian dan hubungan seks, sebab cepat atau lambat orang pasti mati, dan pria akan tidur dengan wanita. Tidak ada gunanya menulis sesuatu yang niscaya. (hal 93)
- Wittgenstein pernah berkata, alangkah baiknya jika setiap kita membeli buku, kita juga bisa sekalian membeli waktu untuk membacanya. (hal 137)
- A casual stroll through the lunatic asylum shows that faith doesn't prove anything. Friedrich Nietzsche. (hal 190)

Aku harus berterima kasih pada Andina Dwifatma, karena telah melahirkan novel Semusim, dan Semusim lagi. Banyak pelajaran yang bisa aku petik dari sana. Ia mampu mengalirkan kecerdasannya hingga bisa menyentuh orang lain yang membaca novel ini, termasuk aku.

Aku memberi novel Semusim, dan Semusim lagi 4 dari 5 bintang yang aku punya ^^

Untuk kalian peminat kisah absurd, aku rekomendasikan untuk membaca novel ini.

Review: Black Angel

http://www.stilettobook.com/index.php?page=buku&id=8


Judul Buku: Black Angel
Penulis : Indah Hanaco
Editor : Triani Retno A
Desain Cover : Teguh Santosa
Penerbit : Stiletto Book  
Cetakan : Pertama, Desember 2011
Tebal : 234 halaman
ISBN : 978-602-96026-8-5



Dibuka dengan kekesalan Avril karena harus menjemput sahabatnya, Naila, yang baru saja bertengkar dengan pacarnya, Enrico, di puncak. Saat perjalanan itulah ia melihat mobil papanya yang juga menuju Puncak, dan dibuat penasaran karenanya. Atas usul dari Naila, sebelum pulang ke Bogor, mereka menyempatkan diri untuk mampir ke villa keluarga Avril demi memuaskan rasa penasarannya. Dan ternyata, benar! Avril bukan hanya memperoleh kejutan akan keberadaan papanya di sana. Tetapi juga keadaan papanya dan siapa yang menemaninya di sana. Itulah awal yang mengubah kehidupan Avril selanjutnya. 

Hari itu telah menciptakan Avril yang baru. Ia seperti terlahir kembali menjadi pribadi yang sepenuhnya berbeda. Bukan perubahan dalam konteks positif tentu saja. Kekecewaan pada papanya perlahan memupuk dendam di dalam hatinya dan meruntuhkan kecintaannya pada papa yang selama ini dipujanya.

Mirza, kakak laki-laki Avril, meski tenang di permukaan, ternyata memiliki hati yang lebih rapuh dari Avril. Ia lari ke narkoba dan akhirnya meninggalkan Avril serta mamanya selamanya. Overdosis. 3 minggu kemudian, papa Avril menyusul.

Terpuruk oleh keadaan membuat Avril meninggalkan Naila, sahabat baiknya, karena tidak ingin sahabatnya itu terus diliputi rasa bersalah karena kemalangan yang bertubi-tubi dialaminya. 

Avril memilih jalan hidup yang mencengangkan. Ia selalu mencari hal-hal yang memacu adrenalin, yang semuanya berkaitan dengan hal-hal negatif yang cenderung akan merusak diri sendiri atau memalukan nama keluarga. Karena memang itulah yang dicarinya. Memicu adrenalin, karena dengan begitu ia merasa masih hidup, dan melakukan hal-hal melenceng karena ia ingin mencemarkan nama baik papanya, meskipun papanya sudah tiada.

Avril bertemu dengan Prue, seseorang yang ternyata memiliki kisah hidup yang sama mencengangkan dengannya. Mereka menjadi sahabat. Dengan Prue, Avril bisa menjadi diri sendiri tanpa topeng dan basa-basi. Suatu hari, Prue mengajak Avril menghadiri Pesta Kunci - suatu pesta yang sangat memacu adrenalin Avril dan memunculkan ide "pekerjaan" untuknya. Pada pesta inilah ia mengenal Lexi. Apakah mereka menjadi pasangan setelahnya?

Tidak berhenti sampai di situ. Kisah hidup Avril mengalami titik balik saat Prue secara tidak langsung mengenalkan Aidan pada Avril. Aidan mampu membuat Avril membuka diri dan bercerita panjang lebar dengannya. Ia juga yang membuat Avril berkeinginan untuk meninggalkan sisi gelapnya. Padahal mereka baru saja berkenalan beberapa hari saja. Tetapi keberadaan Laura, perempuan yang tergila-gila pada Aidan, sedikit menganggu hubungan mereka. Apakah hubungan Avril dan Aidan akan berhasil?

Review:

Bagian awal cenderung lambat. Tetapi tetap memancing penasaran, ke mana Mbak Indah Hanaco, penulisnya, akan membawa kisah Avril. Melewati Bab I, konflik demi konflik, kejutan demi kejutan membuatku susah melepaskan buku ini sampai akhirnya aku menutupnya dengan rasa puas. 

Penulisnya mampu meracik kata dengan ringan dan mengalir dalam mengemas isu transgender, maniak seks, homoseksual, pesta seks, dan pelacuran, jauuuuuh dari kata 'vulgar'. Bahkan tidak ada aktivitas seks yang diekspos berlebihan. Aku suka caranya bercerita. 

Penulis adalah perancang kisah. Itu artinya, penulis harus memikirkan bagaimana tokoh ini menjalani hidupnya, bagaimana ia bertemu dengan tokoh lainnya, dan sebagainya. Dan aku mengakui kemampuan Mbak Indah Hanaco sebagai penulis. Ia merancang kisah Avril tanpa terlihat seperti susunan kebetulan demi kebetulan. Begitu mengalir hingga aku seperti bisa melihat sendiri kehidupan Avril dalam kehidupan nyata. 

Novel ini banyak berisi ungkapan perasaan Avril yang penuh kebencian pada papanya dan pada kegilaannya menjalani hidup. Dialog-dialog yang ada di dalamnya juga berisi dan mencerminkan karakter tokoh. Dan aku paling suka saat Avril bersama Aidan, manisnyaaaa. 

Quote yang aku suka:

- Menangis adalah ketidaksopanan. Menangis menjadi tanda ketidakikhlasan menerima goresan pena Sang Pemilik Kehidupan. (hal 65)
- Pengalaman mengajarkan, untuk bertahan hidup kita harus membuang rasa takut dan malu. Itu melemahkan. (hal 96)
- Biasanya perempuan sangat sering merasa "terancam" dengan kehadiran perempuan lainnya, apalagi yang mempunyai kelebihan fisik. Tapi perempuan kerap tidak mau mengakui. (hal 116)
- Segala hal yang berbau "pertama" sudah tentu mampu menarik minat yang lebih besar. (hal 169)
- Kita hidup di hari ini, jadi pikirkanlah untuk hari ini dulu. Tidak perlu menebak-nebak apa yang belum pasti. Itu cuma membuatmu capek. (hal 229)

Kekurangan novel ini? Kurang tebal! Sehingga kisah tentang alasan keputusan Mirza dan papanya untuk mengakhiri hidup tidak begitu jelas (hanya menurut sudut pandang Avril). Tetapi mungkin penulisnya memiliki pertimbangan sendiri mengapa tidak mencantumkan perasaan mereka berdua saat mengambil keputusan tersebut, seperti misalnya: membiarkan itu menjadi misteri.

Aku jatuh cinta dengan Avril, Aidan, Prue, serta keseluruhan kisah dalam novel "Black Angel" dan memberinya 4 bintang dari 5 bintang yang aku punya ^^

Untuk kalian yang suka dengan cerita kelam namun juga manis, aku rekomendasikan untuk membacanya.

* Novel ini adalah salah satu hadiah kontes foto #PreWedRush. Terima kasih Stiletto Book ^^

Invitation From England

Rutinitasku setiap hari adalah mengecek surel (surat elektronik) yang masuk. Begitu pula yang kulakukan siang itu. Mengetikkan alamat email beserta passwordku di dua kolom di antara tulisan Yahoo! dan sign in. Hanya ada 3 inbox, di antaranya adalah notification dari Goodreads yang memberitahukan buku-buku yang keluar pada bulan ini, notification dari website pencari kerja yang menyuruhku untuk melengkapi resume, serta sebuah surel dari teman yang meminta bantuan membuat desain t-shirt sederhana untuk komunitas reptil miliknya. Setelah menghapus dua surel pertama (karena aku sedang tidak ingin sakit mata dan sakit hati melihat buku-buku itu tanpa bisa membelinya alias tidak ada budget, serta tidak tertarik lagi memasukkan resume di website pencari kerja itu karena tidak kunjung mendapatkan panggilan dari sana tapi selalu lupa menonaktifkan akun), aku pun membalas surel dari teman (mengatakan akan mengirim desainnya besok pagi).

Ada satu surel yang masuk ke spam. Surel berbahasa inggris dengan subjek "Invitation from England". Aku mengernyitkan dahi hanya dengan membaca subjeknya. Tidak ada niat untuk membukanya karena seperti yang sudah-sudah, surel seperti itu pasti tidak ada bedanya dengan surel-surel sebelumnya yang pernah kudapat, dengan subjek "Urgent!", "Need help", atau "Congratulation! You Win a Lottery". Maaf ya, aku tidak mudah ditipu. Aku hendak mengarahkan kursor mouse pada pilihan delete, ketika Piyo, kucingku, tiba-tiba melompat ke atas meja dan menyenggol tanganku yang sedang memegang mouse. Alih-alih terhapus, surel itu justru terbuka hingga memaksa mataku untuk menatapnya dan membaca isinya. Isinya kira-kira begini (tentunya sudah ditranslate ke Bahasa Indonesia):
Kau tidak tahu siapa aku. Tapi aku tahu siapa kau. Kau tidak populer di negaramu. Kau suka menulis, tapi tak juga menghasilkan satu buku pun. Kau adalah mahasiswa pintar, tetapi pendiam seolah sibuk dengan duniamu sendiri, tidak cakap berbicara dengan orang lain, apalagi di depan forum, sehingga ketika lulus dari kuliah, kau harus menguatkan hati karena desakan orangtua yang menyuruhmu segera bekerja di sebuah perusahaan, padahal kau lebih ingin berbisnis sendiri, menulis buku, atau paling tidak bekerja di penerbitan. Maka dari itulah aku memilihmu. Kau tidak terlalu spesial, itulah alasanku memilihmu. Tidak perlu bertanya lebih lanjut karena aku tidak suka dengan pertanyaan. Kau hanya perlu tahu, bahwa aku mengundangmu untuk pergi ke Inggris dalam satu malam. Aku akan mengajakmu berkeliling menikmati keindahan Inggris dan segala macam yang ada di dalamnya. Tanpa biaya. Bahkan kau hanya perlu membawa dirimu sendiri. Tak lebih. Jika kau setuju, kau hanya perlu membalas email ini dengan satu kata: SETUJU. Aku tidak butuh embel-embel lain, seperti terima kasih atau sebagainya. 
Ketika membaca bagian awal, aku sempat berhenti untuk mengecek laptop serta mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamarku. Jangan-jangan orang aneh ini mengirimkan suatu alat untuk memata-mataiku bersamaan dengan dikirimkannya surel ini, karena apa yang ia sebutkan benar adanya. Tapi mengingat ia tidak menyebutkan ciri-ciri fisikku, aku semakin yakin bahwa ini adalah perbuatan orang iseng. Ciri-ciri seperti yang ia sebutkan di atas pasti banyak yang memilikinya, tidak hanya aku. Keisengan harus dibalas dengan keisengan. Aku pun membalas surel itu dengan menuliskan satu kata: AGREE!  
Malam harinya, aku tidur larut malam setelah menyelesaikan desain t-shirt pesanan teman. Belum lama aku terlelap, sudah kurasakan seseorang menggoyangkan badanku. Aku terbangun karenanya. 

Kamu tahu apa yang kulihat pertama kali ketika aku membuka mata? Seorang pria berkumis dan bertubuh tinggi, berkulit putih pucat, berambut cokelat gelap, serta memiliki perut yang gembul. Ia berdiri di hadapanku. Celemek yang ia pakai tidak berhasil menyembunyikan bentuk perutnya.

"Siapa kamu? Bagaimana kamu bisa masuk ke kamarku?" tanyaku padanya.

Ia diam dan mengerutkan kening menatapku. "You can't sleep here! Who are you?"

Mendengarnya berkata dalam aksen british kental, aku celingukan. Di mana aku? Tidak ada kasur, laptop, lemari, dan rak buku yang biasanya aku lihat di dalam kamarku. Mataku justru menangkap sebuah bangunan asing, penuh dengan meja dan kursi, seperti sebuah kedai. 

Tunggu! Aku tidur di trotoar? Mataku seketika terjaga sepenuhnya. Aku menunduk untuk melihat diriku sendiri. Lho? Baju siapa ini? Aku tidak merasa pernah memiliki kaus lengan panjang pas badan, skinny jeans, serta boot ini. Aku pun mengenakan tas kecil yang tersampir di bahuku. Ketika merogoh ke dalamnya, aku hanya menemukan sebuah kamera saku. Tidak ada uang.

Pria itu mengulurkan tangannya dan membantuku berdiri. Rambut-rambut keriting berwarna gelap yang tumbuh memenuhi permukaan tangannya membuatku geli.

"Maybe you're hungry. Sit down here! I'll back with a plate of breakfast for you." Aku menurut dan duduk di salah satu kursi di kedai itu. Mungkin itu adalah kedainya.

Ia kembali dengan membawakanku sarapan. Aku mengamati piring di hadapanku yang berisi dua telur mata sapi setengah matang, potongan tomat, olahan kacang merah, sosis dan jamur, serta dua roti bakar. "Where is the rice?"

Ia tertawa. "This is England. Only a few people who eat rice here! Where you come from?"

http://serbapedia.blogspot.com/2014/04/yuk-ngintip-menu-sarapan-dari-negara.html

"What? England?" Aku seketika bangkit berdiri ketika laki-laki di hadapanku menyebutkan kata "England". Bagaimana bisa? Sedangkan semalam aku masih tidur di kamar pengapku di Semarang. 

Sebelum mendengarkan penjelasanku mengenai dari mana aku berasal, ia sudah meninggalkanku karena harus melayani orang-orang yang baru datang ke kedainya. 
Aku mulai menyuapkan makanan itu ke dalam mulut. Walaupun rasanya asing, tapi enak. Aku mencernanya pelan-pelan karena ingin mendalami rasanya. Ketika menyeruput teh, kurasakan pahit di lidahku. Kutambahkan madu ke dalam cangkirku. 

Pria itu kembali menghampiriku ketika aku sudah bersandar di kursi dan mengelus perut yang kenyang. Alih-alih marah dan mengusirku, ia justru tersenyum saat aku mengatakan tak memiliki uang untuk membayar makanannya. Aku pun berpamitan dengannya meski tak tahu harus ke mana setelah ini. Hanya berjalan dan terus berjalan.

Aku sedang melihat-lihat pertokoan di sisi kiriku dan jalan raya yang lalu lintasnya sangat tertib di sisi kananku ketika tiba-tiba seseorang menubrukku dari belakang. Tanganku ditariknya hingga aku tidak jadi terjatuh mencium trotoar. Setelah kakiku menginjak tanah dengan sempurna, ia menarik tanganku sehingga aku terpaksa berlari mengikutinya, menerjang orang-orang yang berjalan lalu lalang di sepanjang trotoar. Kami tidak berhenti berlari ketika menuruni tangga lebar menuju sebuah lorong bawah tanah. Langkah kami baru berhenti ketika sudah berada persis di depan rel kereta. Sedetik kemudian, sebuah kereta berhenti di depan kami. Orang itu kembali menarikku melewati pintu masuk dan duduk di salah satu tempat kosong.

http://www.bisnis-on-line.info/10-moda-transportasi-massal-terbaik-dunia-2/

Aku mengamati pemuda yang tadi menarikku dan kini duduk di sampingku. Ia sepertinya tahu, karena dengan cepat ia menoleh ke arahku dan tersenyum. Perpaduan rambut pirang, mata biru yang tajam menusuk mataku, dan hidung bak perosotan TK, ia sebetulnya tidak perlu menarikku seperti tadi. Dengan senang hati aku akan ikut jika ia mau mengulurkan tangannya baik-baik. 

"This is the tube," katanya. Oh? Jadi ini bukan kereta api? Atau hanya beda nama? Aku mengangguk-angguk ketika mendengarkan penjelasan selanjutnya mengenai alat transportasi tertua di dunia yang saat ini sedang kunaiki. Ia mengatakan bahwa ia sangat suka bepergian dengan alat transportasi ini, karena sangat aman, bahkan risiko kecelakaannya hanya satu berbanding 300 juta. Wow! Tiba-tiba terlintas di benakku mengenai lintasan kereta api tanpa palang pintu di Indonesia. Tapi aku urung menceritakan hal itu padanya. 
Terlalu asyik kami mengobrol hingga tidak terasa, tube ini berhenti. Ia meraih tanganku, dan menarikku keluar dari tube. Oh ayolah, itu sakit! Bisakah kita berjalan biasa saja? 
Ketika sudah sampai di luar tube, aku tidak lagi merasa ada yang menyentuh tanganku. Di dalam kerumunan orang di dalam stasiun, orang itu meninggalkanku. Bahkan aku belum sempat menanyakan namanya. Baiklah, sepertinya aku harus mencari sendiri jalan keluarku. 

Mataku menangkap tulisan "Baker Street". Sepertinya aku tidak asing dengan nama itu. Ah! Itu kan tempat di mana museum Sherlock Holmes berdiri. Setelah keluar dari stasiun, aku mencari museum yang katanya tidak jauh dari situ. Dan... aku menemukannya! 221B Baker Street!
Ingin rasanya berteriak sekencang-kencangnya saat sudah berdiri di depan sebuah bangunan arsitektur Inggris kuno dengan tulisan "The Sherlock Holmes Museum" yang terpampang besar di depan bangunan itu, kemudian langsung berlari masuk menerjang pintu.  Tapi antrean yang mengular membuatku harus berpikir ulang.

http://majalahouch.com/fakta-unik/mampir-ke-rumah-sherlock-holmes/

"Hei you, come here!" Aku celingukan mencari asal suara. Dari dalam museum itu, seorang perempuan mengarahkan jari telunjuknya tepat ke arahku. Nyonya Hudson? Ketika ia mengangguk saat aku memastikan bahwa ia benar-benar memanggilku, aku berjalan ke arah pintu masuk. Aku dibuat heran karena tidak ada tatapan jengkel atau marah dari turis-turis yang sedang mengantre.

Nyonya Hudson merangkul bahuku. Ia mengajakku masuk dan menjadi tour guide-ku ketika berada di dalam sana. Segala rupa mengenai Sherlock Holmes dan Dokter Watson dijelaskannya secara detail. Aku tidak kuasa mengatupkan mulut saat mendengarkannya dan menjumpai pernak-pernik unik di dalam museum itu. 

Tour dimulai dari lantai 1 di mana aku bisa melihat ruang tamu serta kamar pribadi Sherlock Holmes yang banyak digunakannya untuk berpikir saat hendak memecahkan kasus, kemudian di lantai 2, aku menengok kamar Dokter Watson dan Nyonya Hudson, dan di lantai 3, beberapa patung lilin yang dibuat serupa dengan adegan-adegan di filmnya seolah menyapaku. Tour selesai tapi aku enggan beranjak dari sana. Ya, tapi bagaimanapun juga aku harus keluar. Nyonya Hudson mengantarkanku sampai pintu depan. Kuucapkan terima kasih dan melambai ke arahnya. Kembali kutelusuri jalan yang entah akan membawaku ke mana. 

Seorang kakek dari depan sana berjalan ke arahku. Semakin dekat, dan aku bisa melihat tongkat di tangan kanannya serta kacamata yang agak melorot hingga bertengger di batang hidungnya. Aku bergeser agak ke pinggir, memberinya jalan yang lebih lebar. Tetapi ternyata ia malah mendekatiku, melotot, kemudian mengangkat tongkatnya ke atas kepalaku. Refleks aku memejamkan mata. Takut ia akan memukulku. Ternyata benar, ia mengetukkan tongkatnya ke kepalaku.

"Aw, sakit!" Aku mengusap ubun-ubunku. Mataku membuka untuk mencari kakek yang sudah seenaknya memukul kepala orang. Apa salahku?

Kakek itu tidak ada. Aku memandang sekeliling. Lho? Di mana ini? 

Banyak orang berlalu lalang membawa koper, ransel, tas jinjing, dan lain-lain. Aku mendongakkan kepala dan melihat layar berderet yang menampilkan jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta. Rupanya aku sedang berdiri di tengah-tengah stasiun. Kemegahan langit-langit bangunan sejenak menarik perhatianku. Inikah King's Cross Station yang terkenal itu?


http://en.wikipedia.org/wiki/London_King%27s_Cross_railway_station

Tunggu! Ada yang lebih terkenal daripada kemegahan bangunan ini. Ya! Platform 9 3/4. Aku harus menemukannya! Aku menajamkan mata saat mengedarkan pandangan mencari tempat di mana Harry Potter, Hermione Granger, dan Ron Weasley menembus tembok untuk menuju Hogwart Express.


http://anintyanovitasari.wordpress.com/2012/12/27/day-5-arsenal-kings-cross-go-home/

Tak kuhiraukan tatapan aneh orang-orang sekitar saat aku melompat-lompat senang ketika berhasil menemukan Platform 9 3/4 lengkap dengan replika troli Harry Potter. Kupandangi dengan seksama, kemudian meminta tolong orang yang lewat untuk mengambil fotoku saat berpose dengan troli itu. Selesai dari sana, aku mampir ke sebuah toko di dekat situ yang menjual segala macam suvenir Harry Potter. Hanya melihat-lihat, karena menyadari bahwa aku tidak membawa uang sepeser pun. Sedih rasanya.

Ketika menolehkan kepala ke luar toko, aku melihat kakek itu. Ya! Kakek yang tadi memukulkan tongkatnya di kepalaku. Aku pun bergegas keluar dari toko untuk mengejarnya.

"Hei mister, wait!" Aku berteriak padanya. Tapi ia tidak juga menghentikan langkah. Tak kusangka jalannya cepat juga. 

Kupercepat langkahku dan akhirnya aku berhasil menyusulnya. Aku berdiri di depannya dan berpegangan pada lutut sambil mengatur napas yang ngos-ngosan. "How can you so fast? I can't hardly chase you."

"Slacker!" Ia berkacak pinggang dan... kembali memukul kepalaku dengan tongkatnya. Sakit!

Eh, eh, tiba-tiba tubuhku bergoyang-goyang. Aku segera mencari pegangan. Sepertinya aku sedang berada di dalam bus - bus tingkat (double decker). Aku sempat melihat tangga di ujung sana. 

Kakek-yang-tak-kutahu-namanya itu ada. Tidak lagi menghilang setelah memukulkan tongkatnya. Ia duduk di salah satu kursi penumpang tak jauh dari tempatku berdiri. Aku pun berjalan ke arahnya.

"Where are we going?" tanyaku padanya. Bukannya menjawab, ia malah menempelkan telunjuknya di bibir, memberi tanda padaku untuk diam. Matanya tak lepas memandang ke depan. Karena penasaran, kuikuti arah pandangnya. 

What? Ada dua bus double decker yang melaju bersisian, berlawanan arah dengan bus yang sedang kutumpangi. Mereka tidak menurunkan kecepatan seolah busku ini tidak kasat mata. Begitu pula sopir busku yang juga tidak menurunkan kecepatan. Seolah hal seperti ini sudah biasa baginya. Dengan kondisi jalan yang hanya mampu menampung dua double decker yang bersisian, kecelakaan pasti akan aku alami sebentar lagi. Refleks aku menutup mata dengan kedua telapak tangan. Tidak ingin melihat maut yang sudah di depan mataku. Tolong aku, Tuhan!

Kakek itu menarik tanganku ke bawah, sehingga aku bisa melihat semua. Aku berteriak sekencang-kencangnya saat bus kami semakin dekat dengan dua bus di depan. Aku diam sejenak saat kurasakan dua sisi busku menyempit dan terus menyempit membentuk pipih. Badanku, kakek itu, juga sopir pun mengalami hal serupa. Aku kembali berteriak saat bus kami melewati sisi kosong di antara kedua bus di depan.

Belum lepas rasa ketakutanku setelah mengalami hal aneh (aku jadi bisa merasakan perasaan Harry Potter saat mengalami hal yang sama), tubuhku sudah berpindah ke tempat lain. Sebuah tempat berbentuk kapsul dengan sisi-sisi kaca mengelilinginya. Aku duduk di tengah-tengah tempat itu, dengan kakek itu di sisiku. Hanya kami berdua, tidak ada orang lain. Aku merasakan kapsul ini bergerak perlahan.

Aku naik London Eye! Bergegas aku menuju salah satu sisi dinding kaca. Senja sudah mulai merapat di langit Inggris. Indah. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat struktur Kota London, Palace of Westminster, Big Ben, serta Westminster Bridge. Matahari perlahan turun dan membuat tempat-tempat itu serupa siluet yang tidak kehilangan keindahannya. 

http://lifestyle.kompasiana.com/hobi/2014/01/01/london-di-malam-hari-dalam-lensa-623164.html

Sinar matahari yang tenggelam digantikan oleh kerlip lampu-lampu yang memenuhi Kota London. Aku tidak berhenti mengembangkan senyum menikmati pemandangan itu. 

Kakek itu bangkit dari tempat duduknya. Suara langkahnya yang diiringi tongkat semakin dekat denganku. Beberapa detik kemudian ia sudah berdiri di sampingku.

"Your time runs out!"

Aku mengernyit tidak mengerti. Ketika akan bertanya apa maksudnya, aku dikejutkan oleh bunyi retakan di dinding kaca di depanku. Aku tidak tahu mengapa hanya bagian itu. Kulangkahkan kakiku perlahan ke belakang.

Retakan itu membesar, kemudian terdengar bunyi PYAR! nyaring. Terbentuklah sebuah lubang. Angin berhembus kencang masuk ke dalam kapsul. Kakek itu masih berdiri tenang di tempatnya. Kurasakan angin itu tak lagi hanya berhempus. Ia seperti menyedot apapun yang berada di dalam kapsul. Badanku hampir tersedot angin. Tetapi aku berhasil menggapai kaki tempat duduk yang tertanam di lantai. Lama-kelamaan tanganku tak kuat, hingga peganganku terlepas. Tubuhku tersedot oleh angin, keluar dari kapsul. Aku sempat menangkap senyum kakek itu sebelum akhirnya tubuhku terhempas ke bawah. Kututup mataku. Pasrah.

GUBRAK! Kurasakan sakit di tubuhku. Seharusnya dengan ketinggian London Eye, jatuh dari sana akan membuatku hancur dan langsung mati, hingga tidak lagi bisa merasakan sakit. Tapi sekarang, sakit yang kurasakan tidak seberapa.

Aku pun membuka mata kemudian langsung duduk. Kukedip-kedipkan mataku dengan cepat. Memastikan kasur, meja, lemari pakaian, serta rak buku yang sedang kulihat adalah nyata. Aku benar-benar berada di kamarku. Kuhampiri cermin yang menempel di lemari dan melihat pantulan diriku. Bahkan kaus gombrang berwarna putih polos dengan celana kolorlah yang melekat di tubuhku. Pakaian yang kupakai saat aku berangkat tidur. 

Jadi semalam aku hanya bermimpi? Bayangan di dalam cermin menertawakanku. Saat itulah aku menyadari sesuatu. Laptopku masih menyala. Bukankah semalam aku sudah mematikannya? Aku mencoba mengingat-ingat.

Aku berjalan ke meja dan duduk di depannya. Dahiku berkerut saat mengamati apa yang sedang tampil di layar laptop. Halaman akun emailku berisi satu pesan masuk yang belum kubaca. Aku pun membukanya.
Dear Anindita Hendra,

Aku sudah mengajakmu berjalan-jalan ke Inggris dalam semalam. Apakah sekarang kau masih menganggapku orang aneh yang iseng?
Mulutku menganga membaca pesan itu dan mataku makin melotot ketika mendapati kamera saku yang pernah kutemukan di dalam tas kecil yang kupakai semalam saat berkeliling Inggris. Dengan tangan gemetar, aku menyalakan kamera saku itu untuk melihat foto apa yang ada di dalamnya. Hampir saja kamera itu lepas dari tanganku yang tiba-tiba lemas saat mendapati foto objek-objek yang semalam kukunjungi di Inggris, lengkap dengan fotoku bersama pemilik kedai sarapan, pemuda di tube, dan... kakek itu.

Aku harus kembali ke Inggris untuk membuktikan bahwa apa yang kualami semalam bukan mimpi! Dan untuk membuktikannya, aku harus merasakan kembali suasana Inggris, bukan hanya semalam! Kali ini aku akan mencatat detailnya dan kembali menceritakannya pada kalian...

*** end ***


* Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti kompetisi blog "Ngemil Eksis Pergi ke Inggris" #InggrisGratis persembahan dari Mr. Potato.
* Cerita adalah fiksi, dengan harapan yang besar terselip di dalamnya. 


Mr. Potato menjadi teman dalam perjalanan

[FF Cinta Pertama] Di Rumah Mbah Yut, Aku Jatuh Cinta

image source: here

16 tahun usiaku. Dan selama itu pula aku hidup di tengah ramainya ibu kota, dengan kemudahan mendapatkan apapun yang aku butuhkan. Semua ada. 

Tapi liburan sekolah tahun ini, ayah menjanjikan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tak akan bisa kudapatkan di kota. Sesuatu yang damai, tenang, dan akan membuatku betah berlama-lama. Berlibur di tempat mbah buyutku. Ibu dari mbahku. Dan aku belum pernah ke sana sebelumnya.

Mobil kami berhenti di depan sebuah rumah joglo yang diapit oleh pohon mangga di kedua sisinya. Teduh. Ayah benar. Tempat ini membuatku jatuh cinta sejak pertama kali melihatnya. Rasa kesal akibat lamanya perjalanan kami tadi, ditambah badan yang terkocak karena melewati banyak jalanan berbatu, seketika luruh. 

"Mbah." Ayah berjalan cepat menghampiri mbah buyutku yang sudah menunggu di teras. 

Aku menyusul di belakang. Ku cium punggung tangannya.

"Ini Dilla? Wah, kamu sudah besar, nduk." 

"Iya, mbah yut." Mbah yut adalah singkatan dari mbah buyut. Ayah yang tadi mengajarkan untuk memanggilnya begitu.

"Ayo, ayo, mlebu, mbah yut wis masak buat kalian," ujar mbah yut seraya berdiri dan menggandengku masuk ke rumah. 

Sebakul nasi yang asapnya masih mengepul, semangkuk sayur asem, satu piring berisi beberapa ekor lele goreng, dan sambel terasi yang masih dengan cobeknya, menyambut kami di atas tikar yang digelar di tengah ruangan. 

"Ini mbah yut masak sendiri?" Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku. 

"Iyo, nduk. Wis biasa. Ayo podho cuci tangan sik ning mburi!"

Mbah yut adalah orang berusia di atas 90 tahun pertama yang aku lihat masih segar. Langkahnya pun mantap, walaupun sedikit membungkuk. Dan jika melihat masakan sebanyak ini yang ternyata dimasaknya seorang diri, aku benar-benar harus mengakui kekuatannya. Apa ya rahasianya?

"Jangan banyak-banyak, mbah yut," protesku saat mbah yut bersikeras mengambilkanku nasi, padahal aku sudah bilang aku bisa mengambilnya sendiri.

"Ayo, ndang dimakan, nduk!" seru mbah yut ketika melihatku mematung memandangi nasi dengan porsi kuli, lele goreng, dan sayur asem yang bertumpuk sedemikian rupa di piringku.

Suapan pertama, dan aku mengerjap senang. "Ini mah makanan di mal kalah jauh!" Tiba-tiba aku ingat restoran-restoran di mal yang berlabel masakan tradisional jawa dengan bandrol harga yang mahal.

"Lelenya gurih banget, mbah. Boleh ambil lagi?" 

Mbah yut tersenyum kemudian mengangguk. Ayah sampai geleng-geleng kepala, mungkin heran melihat selera makanku yang tak seperti biasa. 

"Mau jalan-jalan?" tanya mbah yut setelah kami selesai makan dan peralatan makan sudah dibereskan.

"Mau! Mau!" jawabku bersemangat.

Aku berjalan di sisi mbah yut, mengamit lengannya. Tidak sampai 5 menit, kami sudah sampai di depan hamparan sawah hijau yang sangat luas. 

"Ini sawah mbah yut?" 

Mbah yut tertawa. "Bukan, nduk. Ini punya tetangga. Kalau punya mbah yut, yang itu!" Mbah yut menunjuk kolam besar dengan air keruh berwarna kecoklatan di seberang sawah. 

"I-itu kolam lele? Lele yang tadi kita makan dari situ?" Bukan! Aku bukan takjub pada luasnya kolam. Melainkan orang yang kepalanya menyembul di balik bilik anyaman bambu di pinggir kolam. 

"Te-terus orang itu ngapain, mbah yut?"

Mbah yut tertawa. "Ya buang hajat."

"Ta-tapi i-itu kan langsung masuk ke kolam." Tiba-tiba isi perutku mendesak kembali ke tenggorokan dan hendak keluar. 

*************************************************************************************************************************

*nduk = sebutan untuk anak perempuan
 wis = sudah
 mlebu = masuk
 Iyo, nduk. Wis biasa. Ayo podho cuci tangan sik ning mburi = Iya, nak. Sudah biasa. Ayo semua cuci tangan dulu di belakang
 ndang = lekas

*498 kata, belum termasuk judul dan catatan kaki.

Prompt #49: Menyaksikan Kelahiran

 
image source: here


Aku mencintai sepasang mataku. Mereka mempertemukanku dengan banyak kelahiran. Mereka menjadi saksi di mana sebuah kehidupan baru di dunia ini dimulai oleh sepasang mata mungil yang baru saja membuka. 

Aku memang belum lama berada pada posisi ini. Tetapi semua proses lahirnya kehidupan baru membuat darahku berdesir bahagia.  Sebahagia sang empunya rahim ketika mendengar tangis pertama bayinya menggema dalam ruangan.

Hari ini aku kembali dipertemukan dengan kelahiran. Bukan sepasang mata seperti biasanya. Melainkan dua. Dua pasang mata milik dua pasang bayi yang lahir dari rahim yang sama. Mereka sempurna. Ibu dari dua bayi itu menangis saat kuserahkan mereka dalam pelukannya. Ia mencium kening keduanya bergantian.

"Kau harus memilih! Mereka tidak bisa hidup bersama!" Orangtua dari ibu itu, yang berarti nenek dari kedua bayi yang sedari awal menemani proses persalinan, tiba-tiba berteriak.

"Kenapa bu?"

"Berbahaya!"

Di depan mataku, nenek itu membawa pergi salah satu bayi. Entah perempuan atau lelaki yang dibawanya. Dan entah kemana ia akan membawanya.

Aku tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menyadari bahwa tidak semua kelahiran itu diinginkan.

*************************************************************************************************************************

*168 kata, belum termasuk judul dan catatan kaki.

Review: Badut Oyen

 
  
Judul : Badut Oyen
Penulis : Marisa Jaya, Dwi Ratih Ramadhany, dan Rizky Noviyanti
Ilustrator : Starven Andersen
Editor : Anastasia Aemilia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 
Terbit : April 2014
Tebal : 224 halaman
ISBN : 978-602-03-0349-9


 

Berkisah tentang Oyen, seorang badut yang sangat menyayangi anak-anak. Baginya, melihat anak-anak tertawa riang gembira adalah bayaran yang tak ternilai besarnya. Itulah mengapa, hidupnya sangat pas-pasan. Ia ikhlas dibayar nyicil bahkan tidak dibayar asalkan anak-anak senang.

Oyen hidup berdua dengan Suparni, teman kuliah yang sudah2 tahun bekerja padanya - menjaga toko perlengkapan pesta dan membantu mempersiapkan segala perlengkapan ketika Oyen mendapat order menjadi badut. Suparni inilah yang menemani Oyen pada masa-masa sulitnya. Ia rela gajinya nunggak. 

Kesialan demi kesialan menimpa Oyen. Mulai dari pembayaran jasa badutnya yang dicicil, terlibat utang dengan rentenir kampung yang sadis, kawasan rumahnya yang kebanjiran, stasiun TV yang membayarnya dengan nominal yang tidak sesuai dengan perjanjian awal, dicopet, sampai pada kesialannya yang paling besar: pada suatu pagi, ia ditemukan menggantung di langit-langit rumahnya dalam kostum badut lengkap.

Dugaan bahwa Oyen dibunuh, bukan bunuh diri menjadi santer terdengar. Mengingat bahwa Oyen adalah pribadi yang baik hati juga bersemangat, tidak mungkin seputus asa itu menghadapi masalah-masalah yang menderanya. 

Tetapi ketika rentenir sadis (Syamsul) yang diduga sebagai otak pembunuhan Oyen justru ditemukan mati mengenaskan, polisi juga warga kampung dibuat bingung. Apalagi, hantu Oyen sering muncul menakut-nakuti anak-anak. Teror hantu Oyen yang bergentayangan membuat kampung itu dilanda kengerian luar biasa.

Sampai di sini sebenarnya saya agak kecewa. Saya mengira bahwa novel ini akan bercerita layaknya kisah detektif dengan Iryanto (ketua RT yang banyak mengambil bagian dalam novel ini) sebagai penguak kebenaran dari ganjilnya kematian Oyen dan peristiwa-peristiwa aneh yang terjadi di kampungnya. Tapi kemunculan hantu Oyen serta keterlibatan dukun membuat cerita ini sedikit patah. Lemahnya Nanang, beserta tim polisinya dalam membongkar kasus ini juga membuat saya gregetan. 

Siapa pelaku di balik ini semua sebenarnya sudah saya duga sejak awal. Malah harapan saya, pelakunya ini yang melakukan semua teror yang terjadi di kampung itu, bukan malah arwah Oyen yang gentayangan. Dan bagian epilog itu tidak perlu ada ya sepertinya, karena cukup mengganggu hehe.

Terlepas dari itu semua, saya cukup menikmati membaca novel ini. Apalagi saat itu saya membacanya saat sudah malam dan keadaan rumah sudah sepi. Jadi, saya cukup merasakan suasana mencekam itu. 

Dan mengingat novel ini ditulis oleh 3 orang, saya bisa membayangkan betapa ribetnya kalau mereka sampai berselisih pendapat. Walaupun ditulis oleh 3 orang, tapi tidak begitu kentara perbedaan gaya penulisannya, ini yang saya suka. Ditambah, tidak banyak typo yang membuat sakit mata.

Oiya, bahasa yang digunakan juga ringan dan mengalir. Ketiga penulis cukup mahir membuat saya penasaran di tiap babnya. Ini membuat saya sulit melepaskan novel ini karena ingin segera melahapnya sampai habis. 

Informasi yang baru saya tahu: menumbalkan kepala kambing jantan berwarna hitam di halaman rumah bisa digunakan sebagai tolak bala. Ini agak ngeri ya.

Yang menjadi pertanyaan saya: 
- Di rumah Syamsul, apa tidak ditemukan bukti-bukti penganiayaan serta sidik jari, gitu? Soalnya, saat Syamsul terbunuh, rumahnya pasti dijadikan TKP dan diperiksa kan?
- Martil yang dibawa oleh badut (pada cover) kok nggak ada di dalam cerita? Padahal saya suka banget sama covernya. Mencekamnya dapet!

Quote yang saya suka:
- Ternyata beban hidup yang pelik tidak selalu mampu diatasi dengan tawa. (hal 27)
- Jangan pertanyakan soal lelah karena bila dipikir, duduk pun kadang terasa melelahkan. (hal 36)

Terima kasih untuk mbak Dy Lunaly yang sudah memberikan buku ini sebagai hadiah...

3 bintang untuk novel ini ^^
Dan saya penasaran membaca karya penulis-penulis dari Gramedia Writing Project yang lain: Teater Boneka dan Hujan Daun-Daun.