Tempat Tinggalku Sekarang

“Hei, kenalkan. Namaku Angga. Kamu siapa? Kenapa kamu di sini?”

“Aku Tian. Kami nggak punya pembantu. Jadi di sinilah aku setiap hari selama mamaku bekerja. Kamu sendiri? Kenapa dititipkan?”

“Siapa bilang aku dititipkan?”

“Kita tidur siang ya sayang.” Percakapan mereka terhenti karena seorang pengasuh menggendong mereka bergantian ke tempat tidur. Lagu yang disenandungkan oleh pengasuh itu serta hangatnya selimut membuat mereka segera terlelap.

Di luar, seorang ibu mengambil tas besar yang sebelumnya ia sembunyikan di belakang rumput tinggi di depan bangunan bertuliskan TEMPAT PENITIPAN ANAK, melambaikan tangan pada angkutan yang lewat, naik, dan menyebutkan tujuannya tanpa tahu kapan akan kembali.


Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Petualangan Deka

source: di sini

“Om, mengapa batu-batu itu kau angkat sendiri? Kata kakakku kau punya kekuatan ajaib. Mengapa tak kau gunakan saja kekuatanmu agar candi menjadi genap seribu dengan cepat.”

Salah satu jin menghentikan pekerjaannya dan memandang Deka dengan penuh rasa heran. “Siapa kau? Tahu darimana kita sedang membuat seribu candi?”

“DEKAAAAAAAAA! KELUAR DARI BUKUKU! KEBIASAAN SEKALI KAMU! KELUAAAAR!” 

“Yah ketahuan. Om jin, aku pamit ya. Pakailah jam tangan! Agar tidak tertipu suara penumbuk padi ketika hari belum pagi!”

Di kamarnya, kakak Deka sudah berkacak pinggang. Siap memarahi Deka karena untuk kesekian kalinya, adiknya itu menggunakan sihirnya dan mengacaukan cerita dalam buku dongengnya. 


Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Terlambat Masuk

Aku terlambat! Turun dari taksi aku berlari ke belakang panggung.

Begitu sampai pintu, Bu Dian menghardikku, “Cepat naik ke atas panggung! Sekarang!"

Aku langsung mengambil posisi. Berdiri paling ujung di barisan paduan suara. Beruntung lagu pertama yang dibawakan oleh grup kami untuk mengiringi seluruh wisudawan dan tamu yang hadir dalam sesi mengheningkan cipta. Sehingga tidak ada yang menyadari keterlambatanku.

“Mengheningkan cipta selesai.” Rektor memimpin.

“HAHAHAHAHA.” Seseorang tertawa sambil menunjuk ke arahku. Dan akhirnya semua orang ikut tertawa.

Teman di sebelahku berbisik di telingaku, “Dodo, kenapa kamu pakai rok?”

“Katanya yang penting pakai bawahan hitam.” Aku kesal sendiri. Apa yang salah?


Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Aku, yang Kau Tinggalkan

Tempat yang sama, di waktu yang berbeda. Pesanan yang sama, dalam perasaan yang berbeda.

Secangkir kopi hitam menemani malamku di sebuah kafe tempat kita bertemu dulu. Tak banyak yang kulakukan. Hanya memandangi kepulan asap kopiku menari di atas cangkir yang belum juga kusentuh.

Ketika asap semakin tipis, kudekatkan cangkir ke bibir dan perlahan menyeruput kopiku. Bagus! Sudah agak dingin. Kutegak semua sampai habis saat itu juga. 

Segera aku memanggil pelayan, meminta bill, dan membayar pesananku. Kemudian berjalan keluar. Meninggalkan ampas kopi dalam cangkirku beserta kenangan bersamamu di waktu lalu, di tempat itu. 

Aku tak akan kembali pada hati yang sama.


Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Bidan Fina

Fina menyantap menu makan siangnya di kantin Rumah Sakit Bersalin ‘Bunda’. Diana, rekan sesama bidan menghampirinya dan meletakkan nampan berisi makan siangnya di meja yang sama.

“Tadi ada pasien yang melahirkan ya?”

Fina mengangguk, “Kembar.”

“Ah, pasti ibu itu senang sekali.”

Fina diam saja. Tidak berminat menanggapi.

“Kau tidak ingin menikah dan punya anak seperti itu Fin?” celetuk Diana.

“Tidak!” jawab Fina tegas. Raut wajahnya datar.

Diana kaget dengan jawaban Fina. Bukankah setiap wanita ingin menikah dan punya anak?

“Kenapa?”

“Semakin banyak kelahiran yang aku lihat, semakin aku takut mengalaminya sendiri.”

“Jadi, kau akan perawan seumur hidup?”

Fina tersenyum. Getir. 


Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Kau Melengkapiku

Source: here

Marisa mengulum senyum ketika pintu kamarnya ia tutup perlahan. Kini ia berada dalam ruang tanpa cahaya.

“Sayang, kenapa kamarmu gelap? Mau apa kita?” Romi, pria yang 3 bulan ini menjadi kekasih Marisa, melontarkan pertanyaan yang menginginkan jawaban untuk fantasi liarnya.

Marisa yang terbiasa dengan ruang gelap mudah saja menjangkau tubuh Romi, menyentuh pipinya dengan lembut, kemudian membisikkan sesuatu ke telinganya.

“Ini yang akan kita lakukan!” Pisau yang dibawa Marisa menusuk tepat di leher Romi. Ia segera menyesap darah dari luka tusuk itu, terus dan terus hingga Romi tak lagi bergerak.

“Kau yang terakhir. Sebelas pemuda dan aku awet muda selamanya.”

Diikutsertakan dalam #FF100Kata